Bab 8. Rasa Gelisah Menyesakkan

1271 Kata
Saat Romeo membuka pintu kamar, dia tidak disambut oleh aroma masakan atau sapaan genit Atena. Seluruh sudut unit apartemen itu tampak sunyi. Pria itu mengerutkan kening, lalu melangkah menuju dapur, tapi di sana kosong melompong. Tidak ada Atena. Perasaan ganjil mulai merayapi hati. Romeo kemudian berjalan menuju kamar Atena. Dia ragu sejenak, tapi akhirnya memutar kenop pintu dan mendorongnya pelan. Kamar itu rapi. Ranjangnya tertata seolah tidak ada yang menempati. "Di mana dia? Apa dia kabur setelah semalam aku menyamakan dia dengan kupu-kupu malam?" gumam Romeo pada dirinya sendiri. Romeo mengembuskan napas panjang. Ada rasa nyeri yang tiba-tiba menusuk dadanya — sebuah rasa bersalah yang enggan dia akui. Kata-katanya semalam memang sangat keterlaluan, tapi egonya yang setinggi langit itu segera membela diri. "Sudahlah! Bodo amat! Lebih bagus kalau dia pergi, hidupku jadi kembali tenang," batinnya mencoba bersikap acuh, lalu memasak sarapannya sendiri. Sepanjang perjalanan ke kampus, Romeo terus melirik ke arah trotoar, tempat di mana dia menurunkan Atena kemarin, tapi sosok itu tak terlihat. Puncaknya adalah saat jam kuliah di kelas Atena dimulai. Romeo berdiri di depan podium, matanya refleks menyisir barisan terdepan tempat biasanya istrinya duduk. Tapi kursi itu kosong, tak berpenghuni. Rasa tidak nyaman mulai mengganggu fokus Romeo. Dia mencoba menjelaskan materi, tapi pikirannya terus bertanya-tanya ke mana istrinya yang nakal itu pergi. Rasa penasaran itu bercampur dengan gengsi yang luar biasa hebat untuk sekadar mengirim pesan singkat. "Dia pasti ingin mencari perhatianku," pikir Romeo mencoba menenangkan diri. Lalu, pengamatannya segera beralih ke kursi lain. Dan, jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak saat menyadari bahwa Zacky juga tidak ada di kelas tersebut. "Apa mereka berdua kabur bersama?" Pikiran itu membakar dadanya. Bayangan Atena yang tertawa di atas motor besar Zacky kembali menghantuinya. Sepanjang mengajar di kelas-kelas berikutnya, Romeo benar-benar kehilangan wibawanya. Dia sering salah bicara dan beberapa kali melamun di depan mahasiswa. "Ah, paling pas aku pulang nanti dia sudah balik," ucapnya, berusaha menghibur diri sendiri saat jam kerja berakhir. Romeo memacu mobilnya lebih cepat dari biasanya. Dia berharap saat membuka pintu apartemen, dia akan mencium aroma parfum istrinya yang manis dan memabukkan itu atau mendengar suara tawa provokatif Atena. Namun, kenyataan pahit menyambutnya. Unit peartemen Romeo masih kosong. Sama persis seperti saat dia tinggalkan tadi pagi. Romeo menaruh tasnya ke meja. Dia duduk di sofa tempat kejadian semalam berlangsung. Bayangan saat dia mencium bibir Atena dan saat dia menghina wanita itu muncul bergantian. "Atena ...," panggilnya lirih. Kemudian Romeo mengambil ponsel, jarinya sudah berada di atas kontak bernama "Atena", tapi dia tak juga menekannya. Gengsi pria itu sedang berperang melawan rasa khawatir yang mulai memuncak. Dia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruang tamu. "Kenapa aku harus peduli? Aku kan nggak cinta sama dia!" Tapi, semakin dia mencoba membenci, semakin kuat ingatannya pada mata Atena yang berkaca-kaca saat dia menyebutnya 'kupu-kupu malam'. Romeo kembali menatap layar ponsel. Ibu jarinya bergetar tepat di atas tombol panggil. Nama "Atena" seolah sedang mengejeknya dari balik layar kaca itu. Perdebatan batin di kepala terasa lebih melelahkan daripada mengajar lima kelas berturut-turut. Antara harga diri sebagai pria dewasa yang dingin dan rasa bersalah yang kini mulai menggerogoti ulu hati. "Satu kali saja. Aku hanya ingin memastikan dia tidak mati di jalanan," gumamnya mencoba merasionalkan tindakannya. Namun, sebelum jempol itu sempat menyentuh layar, suara kunci pintu digital berbunyi. Dan, pintu apartemen terbuka perlahan. Mata Romeo tertuju lurus ke arah pintu dengan napas yang tertahan. Sosok yang dia khawatirkan seharian ini akhirnya muncul. "Aku pulang." Suara itu terdengar sangat lemah, hampir menyerupai bisikan yang hilang terbawa angin. Dan hal itu membuat Romeo terpaku. Tidak ada sapaan "suamiku yang tampan", tidak ada gombalan receh, dan tidak ada senyum genit menggoda yang biasa menghiasi wajah cantik itu. Lampu ruang tamu yang terang benderang memperlihatkan kondisi Atena yang menyedihkan. Wajah sembab, hidung memerah, dan mata bengkak — tanda bahwa dia telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menangis. Atena bahkan tidak menatap Romeo. Dia menunduk, menatap ujung sepatunya sendiri. "Aku izin nggak masak makan malam ya, Bang. Aku mau diam di kamar," katanya lagi. Sebelum Romeo sempat membuka mulut untuk mengeluarkan kata-kata, Atena sudah melangkah melewati ruang tamu, masuk ke kamarnya, dan menutup pintu dengan suara yang pelan dan itu entah kenapa terasa sangat menyesakkan bagi Romeo. Apartemen itu kembali sunyi, tapi kini suasananya terasa lebih berat. Romeo kembali duduk di sofa dengan perasaan yang tidak karuan. Ada sesuatu yang mengganjal di d**a saat melihat binar di mata Atena padam. "Dia ... dia kelihatan habis nangis," gumam Romeo. Ia menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit apartemen. "Apa karena ucapanku semalam? Apa aku keterlaluan menyamakannya dengan ... itu?" Hening. Pertanyaan itu hanya dijawab oleh detak jam dinding. Romeo yang biasanya sangat logis kini merasa seperti orang bodoh. "Sudahlah, untuk hari ini aku yang masak saja. Biar dia istirahat," putusnya kemudian. Romeo melangkah ke dapur. Dia mulai memotong bahan makanan dengan gerakan yang tidak setangkas biasanya. Sepanjang memasak sup dan menanak nasi, pikirannya tetap tertambat pada kamar di sudut itu. Dia bertanya-tanya, apakah Atena menangis karena penghinaannya semalam? "Jangan-jangan dia tidak masuk kuliah karena terus-terusan menangis." Tangan Romeo berhenti mengaduk sup sejenak. Jika benar demikian, berarti dia telah melakukan sesuatu yang kejam pada seorang wanita muda yang — walaupun nakal — sebenarnya hanya sedang berusaha mencari perhatian suaminya sendiri. Setelah semua masakan matang, Romeo menata meja makan. Dia menyiapkan dua piring dan dua gelas air putih. Dengan keberanian yang dikumpulkan, dia berjalan menuju kamar Atena dan mengetuk pintunya. "Atena? Keluar! Makan malam sudah siap," panggil Romeo, suaranya diusahakan tetap datar, meski ada nada lembut yang terselip. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Sosok Atena muncul, dan pemandangan di depan mata Romeo kali ini benar-benar membuatnya kembali tertegun. Atena memakai piyama lengan panjang yang oversize dengan motif kartun yang lucu. Tidak ada lagi lingerie, tidak ada lagi kemeja suaminya yang memperlihatkan paha, dan tidak ada lagi baju kurang bahan yang biasanya wanita itu gunakan untuk memancing gairah Romeo. Atena terlihat sangat tertutup, sangat sopan, dan ... sangat menggemaskan. "Sepertinya benar, dia sakit hati gara-gara ucapanku semalam," batin Romeo perih. "Ada apa, Bang?" tanya Atena tanpa ekspresi. Romeo berdeham, mencoba mengusir kecanggungan. "A—ayo makan. Aku sudah masak makan malam untuk kamu." Atena menatap meja makan sejenak, lalu kembali menatap suaminya. "Terima kasih, tapi aku lagi nggak mau makan. Aku enggak merasa lapar." "Kamu harus makan!" tegas Romeo, sedikit lebih keras dari maksud aslinya. "Kalau tidak, nanti kamu sakit. Kalau kamu sakit, aku juga yang repot." Dia hampir saja keceplosan berkata 'mau aku suapi', tapi dia segera mengerem lidahnya. "Pokoknya kamu harus makan!" Atena tidak membantah. Dia tidak punya energi untuk berdebat atau sekadar membalas gertakan Romeo. Dia hanya mengangguk pelan, lalu berjalan mengikuti Romeo menuju meja makan. Mereka duduk berhadapan. Keheningan yang tercipta kali ini benar-benar menyiksa. Hanya suara denting sendok yang sesekali beradu dengan piring. Atena terlihat sedang mengaduk-aduk isi piringnya, menyuap sesendok kecil dengan sangat pelan seolah makanan itu tidak memiliki rasa sama sekali. Tiba-tiba, Romeo melihat sesuatu jatuh ke atas piring Atena. Bukan kuah sup, melainkan air mata yang bening. Atena tertunduk, bahunya mulai bergetar. Tangis yang tadinya dia tahan sekuat tenaga kini pecah kembali. Suara isakannya terdengar pilu di tengah kesunyian ruang makan itu. Dia meletakkan sendoknya, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan menangis tersedu-sedu di sana. Romeo membeku. Melihat seorang wanita muda menangis tepat di depannya adalah salah satu ketakutan terbesarnya, apalagi wanita muda itu adalah istrinya sendiri. Gengsinya runtuh seketika. Dia berdiri dari kursi, berpindah duduk ke kursi tepat di samping Atena. "Atena ... kenapa kamu nangis?" tanya Romeo dengan suara yang kini sepenuhnya melunak. Dia ragu sejenak, sebelum akhirnya tangannya yang besar terangkat untuk menyentuh bahu Atena, mencoba memberikan sedikit ketenangan. "Ada apa? Katakan padaku, kenapa kamu menangis seperti ini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN