Atena berdiri di depan cermin besar yang ada di kamar. Dia baru saja selesai mandi, tubuhnya yang wangi sabun, dia semprot dengan parfum beraroma vanila yang manis.
Kali ini, dia memilih senjata yang jauh lebih mematikan, sebuah lingerie ketat berbahan satin berwarna merah marun. Potongannya sangat berani, menonjolkan belahan dadanya dengan jelas, sementara bagian bawahnya berupa rok super pendek yang nyaris tidak menutupi pangkal pahanya.
"Ini hukuman spesial dari istrimu buat kamu, suamiku yang jahat!" gumam Atena sambil memoleskan lip cream merah tipis di bibirnya.
Sementara di ruang tengah, Romeo sedang duduk di sofa depan televisi. Matanya menatap layar yang menampilkan film aksi, tapi pikirannya melayang ke parkiran kampus siang tadi. Bayangan lidah Atena yang terjulur mengejek dan tawa riangnya bersama Zacky terus berputar seperti kaset rusak.
"Sial," umpatnya pelan. Dia mencoba mengalihkan perhatian, tapi aroma masakan Atena mulai memenuhi ruangan.
Tak lama, Atena muncul dari arah dapur. Dia berjalan dengan langkah yang sengaja dibuat gemulai, membuat kain satin tipis itu bergesekan dengan kulitnya, menciptakan suara halus yang entah bagaimana terdengar nyaring di telinga Romeo yang mendadak jadi lebih sensitif semenjak statusnya berubah jadi suami.
"Abang, makan malam sudah siap," ucap Atena dengan suara khas saat menggoda suaminya.
Romeo menoleh, dan untuk sesaat, jantungnya seolah berhenti berdetak. Matanya membelalak melihat penampilan Atena. Lingerie itu adalah pernyataan perang. Romeo segera membuang muka, meneguk air putih yang ada di atas meja dengan rakus.
"Makan sendiri aja sana! Aku belum lapar," jawab Romeo dingin, meski sebenarnya perutnya sedang keroncongan.
Atena tidak menyerah. Dia berjalan mendekati Romeo, berdiri tepat di depan pria itu. "Yakin nggak lapar? Aku masak menu spesial loh. Atau ... Abang mau aku suapi?"
Romeo berdiri dengan kasar, melewati Atena menuju meja makan tanpa sepatah kata pun. Saat makan pun dia tetap diam. Atena yang duduk di sampingnya, sengaja menjatuhkan garpu hanya agar dia bisa membungkuk dan memperlihatkan lekukan tubuhnya lebih jelas.
Tapi Romeo tetap tak bergeming, meski rahangnya mengeras dan tangannya mencengkeram sendok hingga buku jarinya memutih.
Selesai makan, Atena mencuci piring dengan tenang. Suara gemericik air menjadi satu-satunya suara di apartemen itu. Sementara Romeo memilih kembali ke sofa, mencoba fokus pada televisi, meski konsentrasinya sudah hancur lebur.
Setelah selesai dengan urusan dapur, Atena melangkah menuju ruang televisi, lalu duduk tepat di samping Romeo. Sangat dekat. Hingga paha mereka yang hanya terlapisi kain tipis saling bersentuhan.
Romeo diam, dia tidak bergeser, tapi napasnya mulai terlihat tidak beraturan.
Atena semakin berani. Dia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Romeo. Rambutnya yang panjang menebarkan aroma yang memabukkan, tepat di bawah hidung Romeo.
"Bang ... Abang tahu kan kalau aku ... cinta banget sama Abang?" bisik Atena, tangannya yang mungil mulai bergerak nakal, meraba d**a Romeo, merasakan detak jantung suaminya yang berpacu kencang di balik kaos hitam yang dikenakannya.
Romeo memejamkan mata rapat-rapat. Dia mencoba menahan diri untuk tidak mendesah. Sentuhan tangan Atena terasa seperti aliran listrik yang membakar kulit. Setiap inci tubuh pria itu seolah berteriak untuk meraih wanita itu, tapi egonya masih mencoba sekuat tenaga untuk bertahan.
"Cepat turunkan tanganmu, Atena!" desis Romeo rendah.
"Kenapa? Apa Abang takut khilaf?" Atena terkekeh pelan.
Karena tidak ada reaksi penolakan fisik yang berarti, Atena memutuskan untuk melakukan serangan lagi. Dia bangkit dari kursi, lalu dengan gerakan cepat, dia berpindah duduk ke pangkuan Romeo. Dia duduk dengan posisi berhadapan, kakinya mengangkang di sisi tubuh Romeo, memastikan inti tubuh mereka bersatu tanpa celah.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Romeo. Napasnya memburu, matanya yang terbuka langsung bertabrakan dengan mata cokelat Atena yang berkilat penuh tantangan.
"Eh ... Adek kecil Abang berdiri," bisik Atena tepat di depan wajah Romeo. "Abang beneran nggak mau nyentuh aku, nih? Abang nggak mau kasih nafkah batin buat aku?"
Romeo masih diam. Tangannya terkepal di sisi sofa, berjuang dengan sisa-sisa kewarasannya. Namum, tatapan mereka malah terkunci. Ruangan itu terasa semakin panas, seolah oksigen di sana telah habis terbakar oleh gairah yang meluap.
Tangan Atena bergerak ke atas, menyentuh wajah Romeo yang tegas. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Romeo yang tebal dengan perlahan, merasakan teksturnya.
"Bibir Abang seksi banget, kan aku jadi pengen ci—"
Sebelum Atena sempat menyelesaikan kalimat "cium", Romeo tiba-tiba bertindak. Tanpa peringatan, tangan Romeo menyambar tengkuk Atena dan menariknya mendekat. Dia membungkam bibir istrinya itu dengan ciuman yang liar dan menuntut.
Mata Atena membelalak lebar. Ini adalah ciuman pertamanya. Meskipun selama ini dia selalu bersikap agresif pada Romeo dan seolah-olah dia sudah sangat berpengalaman, kenyataannya Atena tidak tahu harus berbuat apa. Dia bahkan buta soal teknik berciuman.
Bibir melumat bibir Atena dengan d******i yang luar biasa. Atena hanya bisa diam, membeku dalam pelukan suaminya. Kemudian, dia merasakan lidah Romeo yang hangat dan basah mulai menerobos masuk untuk menjelajahi rongga mulutnya, menyesap saliva dalam tempo yang cepat.
Saat tangan Romeo mulai bergerak dari pinggang naik ke atas, menyentuh dan meremas d**a Atena melalui kain satin yang licin, Atena tersentak. Sensasi baru itu membuatnya merinding, sebuah gelenyar aneh merambat ke seluruh sarafnya.
Perlahan, rasa terkejut Atena berubah menjadi gairah yang menular. Dia mulai membalas ciuman itu, meski masih sedikit kaku. Dia membiarkan lidahnya berbelit dengan lidah Romeo, mengikuti irama yang dipimpin oleh suaminya. Bunyi decapan basah memenuhi ruang tamu yang sunyi itu.
Romeo semakin kehilangan kendali. Ciumannya turun ke leher Atena, meninggalkan tanda beberapa tanda merah di sana. Dia menghirup aroma kulit Atena seolah itu adalah candu yang sudah lama dia rindukan. Tangannya semakin berani menjelajah, meremas lekuk tubuh Atena yang padat dan kenyal.
Namun, saat suasana sudah benar-benar panas dan tangan Romeo sudah bersiap untuk menarik tali lingerie di pundak Atena, pria itu tiba-tiba berhenti beraksi.
Napasnya Romeo tersengal-sengal dengan wajah merah padam. Dia menatap Atena yang tampak berantakan dengan bibir bengkak dan basah ditambah mata sayu karena gairah.
Romeo tersenyum miring, sebuah senyum kemenangan yang dingin. "Masih mau minta nafkah batin dariku?" tanyanya dengan suara serak yang sangat dalam.
Atena masih berusaha mengumpulkan nyawanya kembali. Dia menatap Romeo dengan bingung. "Bang ...?"
Romeo dengan kasar mengangkat tubuh Atena dari pangkuannya dan mendudukkannya kembali ke sofa di sampingnya. Dia berdiri, merapikan kaosnya yang sedikit berantakan, lalu menatap Atena dengan tatapan meremehkan.
"Itu hukumanmu karena sudah berani menjulurkan lidah padaku di kampus tadi. Jangan pikir ciuman tadi adalah tanda aku sudah mencintaimu. Itu hanya bukti bahwa aku bisa menikmati tubuhmu kapan saja jika aku mau," ucap Romeo dengan nada dingin yang menusuk.
Romeo membungkuk, mencengkram dagu Atena. "Kamu tahu, kan? Di luar sana banyak pria yang suka jajan kupu-kupu malam?"
Atena mengangguk.
"Pintar!" Lalu dia mencengkram dagu Atena semakin kencang. "Seorang pria tidak butuh cinta hanya untuk memuaskan nafsu bejatnya. Jika kamu terus menggodaku, bukan tidak mungkin aku akan memuaskan nafsu bejatku padamu, Atena. Jadi ... level kamu itu sama saja dengan seorang kupu-kupu malam."
Mata Atena membelalak, hatinya sakit sekali disamakan dengan kupu-kupu malam oleh suaminya sendiri.
"Jadi berhentilah merayuku dengan baju kurang bahanmu itu!"
Kemudian, Romeo melepaskan cengkramannya, berdiri tegap, dan tanpa menoleh lagi, Romeo melangkah lebar menuju kamarnya, meninggalkan Atena yang masih terpaku di sofa dengan perasaan yang hancur berkeping-keping di antara sisa-sisa gairah yang belum tuntas.
Di balik pintu kamar, Romeo menyandarkan punggung. Dia memegang dadanya yang berdegup kencang, nyaris meledak. Dia tahu, jika dia tidak berhenti tadi, dia benar-benar akan "memakan" Atena habis-habisan.
"Gadis itu ... benar-benar racun!" bisiknya sambil berusaha mengatur napasnya yang masih berantakan.