Pagi harinya, sinar matahari menembus tirai kamar Romeo, tapi pria itu sudah bangun sejak subuh. Wajahnya terlihat berantakan dengan lingkaran hitam di bawah mata, efek dari pergulatan batin yang membuatnya baru bisa terlelap lewat tengah malam.
Di luar, Atena sudah sibuk di dapur. Dia sengaja mengenakan kemeja putih milik Romeo yang ada di laundry room. Kemeja itu sangat besar di tubuhnya, hingga menutupi hot pants yang dia pakai sehingga memberikan kesan seolah dia hanya memakai kemeja pria saja tanpa bawahan.
Begitu pintu kamar Romeo terbuka, Atena menoleh, sambil memegang spatula dan tersenyum cerah seolah kejadian "handuk lepas" semalam tidak pernah terjadi dia menyapa dengan nada manis dan polos yang dibuat-buat. "Pagi, suamiku yang tampan! Apa tidurmu nyenyak?"
Melihat kemejanya melekat di tubuh Atena, memori semalam kembali menghantam otak Romeo. Pria itu mendengus kesal, rahangnya mengeras. "Kenapa kamu pakai bajuku?"
"Baju aku belum kering, Bang. Kan aku belum ambil baju lagi ke rumah. Lagian wangi kemeja Abang enak, bikin aku ngerasa dipeluk Abang terus," jawab Atena sambil berjalan ke meja makan membawa piring berisi roti bakar.
Romeo tidak menyahut. Dia berjalan cepat menuju meja makan berusaha tidak peduli. Namun, setiap gerakan Atena — saat dia membungkuk menata piring atau saat tiga kancing teratas kemeja itu terbuka —benar-benar menyiksa kewarasan Romeo.
"Hari ini aku nebeng mobil Abang, ya. soalnya motor aku kan di kampus," ucap Atena yang duduk di samping Romeo sambil mengoles selai ke rotinya.
Romeo hanya mengangguk kaku, matanya tetap tertuju pada kopi hitamnya. Dia tidak berani menatap Atena, takut jika sekali saja dia melihat penampilan nakal istrinya itu, pertahanannya akan runtuh total.
Setelah roti di piring habis, Atena tersenyum manis saat memanggil sang suami. "Bang ...?"
"Apa?" balas Romeo singkat sambil mengangkat cangkir berisi kopi dan mendekatkan cangkir itu di bibirnya.
"Kopi Abang kan pahit, mau aku maniskan pakai ciuman dari bibir aku enggak?"
Romeo tersedak, dia terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah. Atena menepuk punggungnya pelan, tapi tangan wanita itu di tepis. Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi, dia berdiri, menyambar tas, dan berjalan menuju pintu keluar.
"Sepuluh menit. Kalau belum siap, aku tinggal!" gertak Romeo tanpa menoleh.
Atena tertawa puas di meja makan. "Duh, gemesin banget deh wajah suamiku pas lagi malu-malu gitu."
***
Di dalam mobil, suasana terasa sangat kontras. Atena tidak membiarkan keheningan mengambil alih. Sepanjang perjalanan, dia terus berceloteh, menggombali Romeo dengan berbagai kalimat rayuan yang dia dapat dari berbagai media sosial.
"Bang, Abang kan dosen. Abang tahu nggak perbedaan Abang sama kampus bagi aku?" tanya Atena sambil melirik nakal ke arah Romeo yang sedang fokus menyetir.
Romeo hanya diam, tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat.
"Kalau kampus tempat aku menuntut ilmu, kalau Abang tempat aku menuntut hak sebagai istri," lanjut Atena lalu tertawa.
Sementara Romeo hanya memutar bola matanya dengan malas tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Wajah pria itu tetap datar, seolah dia sedang menyetir sendirian tanpa penumpang di sampingnya.
Namun, sekitar lima ratus meter sebelum gerbang kampus, tiba-tiba Romeo menginjak rem dan meminggirkan mobil SUV-nya di bawah deretan pohon peneduh yang sepi.
"Turun!" perintah Romeo dengan nada galak.
Atena mengerutkan kening, menatap sekeliling yang masih agak jauh dari gedung fakultasnya. "Loh, kok turun di sini, Bang? Ini kan masih jauh. Nanti kaki aku pegel."
"Aku tidak mau ada mahasiswa atau dosen lain yang melihat kita berangkat bersama. Cepat turun sekarang!" tegas Romeo dengan tatapan mata yang tidak bisa dibantah.
"Nggak mau! Aku kan istri sah Abang, kenapa harus sembunyi-sembunyi? Biar saja mereka tahu, biar nggak ada lagi mahasiswi centil yang berani deketin Abang!" Atena bersedekap, tetap duduk kokoh di kursinya.
Romeo mengembuskan napas dengan kasar. Tanpa banyak bicara, dia mematikan mesin, keluar dari mobil, dan berjalan memutar. Dia membuka pintu penumpang dengan kasar, lalu menarik pergelangan tangan Atena hingga wanita itu terpaksa turun ke trotoar.
"Aw! Bang, sakit!" pekik Atena.
Begitu kaki Atena menginjak aspal, Romeo melepaskan cengkeramannya dan menutup pintu mobil dengan keras.
Tanpa rasa bersalah, Romeo berjalan memutari mobil, kembali masuk ke kursi pengemudi, menyalakan mesin, dan langsung tancap gas meninggalkan asap dan debu yang mengepul di depan wajah Atena.
Atena berdiri di pinggir jalan, menatap mobil suaminya yang menjauh dengan perasaan campur aduk antara kesal dan tak percaya.
"Argh! Dasar suami jahat! Awas ya, tunggu pembalasanku nanti malam di apartemen!" teriak Atena sambil menghentakkan kakinya ke aspal dengan gemas.
Atena berjalan perlahan di sepanjang trotoar dengan wajah yang ditekuk habis. Bibirnya tak henti komat-kamit, merapalkan segala jenis sumpah serapah untuk suami kaku dan jahatnya itu. Sesekali dia menendang kerikil di depannya seolah kerikil itu adalah wajah Romeo yang datar.
"Aku bakal buat Abang nggak bisa tidur nanti malam!" gerutunya dengan mata menyala.
Di tengah aksi dongkolnya itu, suara raungan mesin motor besar yang sangat Atena kenal mendekat dan berhenti tepat di sampingnya. Dia pun menoleh dan seketika wajahnya tadi masam berubah cerah. "Astaga, Zacky! Kamu benar-benar pahlawan di hidupku!"
Ya, pemilik motor besar itu adalah Zacky, pria itu mengenakan jaket denim dan helm full-face. Dia membuka kaca helmnya, menatap Atena dengan dahi berkerut. "Ngapain kamu jalan kaki di sini? Terus, kok muka kamu merah gitu?"
Atena pun bisa bisa melupakan rasa kesalnya pada Romeo, dia melompat-lompat girang, seolah baru saja melihat oase di tengah padang pasir.
Zacky terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu. "Ayo naik! Keburu masuk kelas Pak Romeo yang galak itu. Bisa habis kita kalau telat."
Atena dengan semangat naik ke jok belakang motor besar Zacky, lalu melingkarkan tangannya di pinggang sahabat kesayangannya itu. "Let's go, Zack!"
Motor Zacky pun melaju, membelah jalanan menuju kampus. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai di gerbang fakultas. Sialnya — atau mungkin memang takdir — saat motor Zacky masuk ke area parkiran, Romeo baru saja turun dari mobil SUV-nya.
Romeo berdiri mematung di samping pintu mobil saat matanya menangkap pemandangan Atena yang turun dari motor Zacky dengan wajah bahagia, bahkan terlihat sedang tertawa sambil memukul pelan pundak Zacky.
Rahang Romeo mengeras seketika. Tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. Rasa panas yang tak tertahankan menjalar di d**a melihat wanita yang pagi tadi mengenakan kemejanya, sekarang justru nempel dengan pria lain.
"Makasih ya, Zack. Nanti pas makan siang, aku yang traktir kamu deh," ucap Atena, suaranya sengaja dikeraskan karena menyadari Romeo sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Atena menatap ke arah Romeo saat Zacky melepas helmnya. Lalu, dengan berani menjulurkan lidah, mengejek Romeo secara terang-terangan sebelum melangkah pergi bersama Zacky masuk ke gedung fakultas.
Romeo yang berdiri di samping mobilnya mendadak membeku. Urat di pelipisnya menegang melihat ejekan istrinya. Pria itu mencengkeram tas kantornya dengan sangat kuat, mata terus mengikuti punggung Atena yang tampak sangat akrab dengan Zacky.
"Awas, ya ... nanti malam aku akan kasih hukuman yang berat buat kamu, istriku yang nakal!" desis Romeo rendah di antara deru mesin kendaraan di parkiran.