Pernikahan itu tidak seperti yang Atena impikan. Tidak ada make up dari MUA dan pakaian indah — Dia hanya mengenakan kebaya sederhana, memakai make-up dan menata rambutnya sendiri — tidak ada dekorasi bunga yang harum, dan tidak ada tatapan penuh cinta dari keluarganya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Atena Rosalie Djatmiko binti Bastian Djatmiko dengan mas kawin tersebut tunai."
Suara Romeo terdengar dingin, tegas, dan tanpa nyawa.
Di kantor KUA itu, hanya ada Bastian, ayah kandung dan Dania, ibu tiri Atena yang hadir dengan wajah prihatin. Hanin benar-benar membuang Atena, ibu kandungnya itu lebih memilih menemani Kiara yang terbaring lemah di rumah sakit daripada melihat putri kandungnya bersanding di pelaminan.
Setelah prosesi akad selesai, Bastian memeluk Atena erat. "Hiduplah dengan baik bersama suamimu. Maafkan Ayah yang tidak bisa menjagamu selama ini."
Atena mengangguk, lalu berpamitan. Kemudian dia melangkah menuju mobil Romeo, mobil yang beberapa hari lalu dia tumpangi dengan siasat licik. Kini, dia naiki dengan status baru, sebagai istri sah.
Perjalanan menuju apartemen Romeo diisi dengan keheningan yang mencekam. Romeo fokus menyetir tanpa menoleh sedikit pun, rahangnya mengeras, memancarkan aura permusuhan yang pekat.
Sesampainya di unit apartemen mewah milik Romeo, Atena menatap sekeliling ruangan yang didominasi warna abu-abu dan hitam. "Abang bobo di kamar yang mana?" tanyanya mencoba bersikap manis.
Romeo menunjuk satu pintu kayu di ujung lorong dengan dagunya. "Itu."
Atena tersenyum dan mulai melangkah menuju kamar tersebut. Namun, baru dua langkah, lengan tangannya ditarik dengan kasar. Tarikan itu begitu kuat hingga Atena meringis kesakitan.
"Aw! Sakit, Bang!"
"Jangan pernah kamu berani menginjakkan kaki di kamarku! Kamu tidur di sana!" Romeo membentak, jarinya menunjuk dengan tajam ke arah kamar tamu yang berada di sisi berlawanan.
Atena mengerutkan kening, mencoba membela diri. "Tapi kan kita sudah nikah. Kita sah suami istri di mata hukum dan agama, Bang. Lagian kita kan sudah berc—"
"Sudah apa? Hah?!" potong Romeo dengan suara menggelegar. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Atena, matanya berkilat penuh amarah. "Aku bahkan tidak ingat pernah menyentuhmu seujung kuku pun! Aku yakin sekali waktu itu kamu memasukkan sesuatu ke minumanku, kan? Jawab!"
Atena terdiam sejenak, lalu dia mendongak, menatap mata Romeo dengan berani. "Iya ... memang iya. Aku kasih obat tidur ke minuman Abang! Itu karena aku cinta sama Abang! Sudah lama aku cinta sama Abang! Kalau Abang sama Kak Kiara pacaran baru satu tahun, aku sudah mencintai Abang sejak tiga tahun lalu! Aku nggak sudi kamu jadi kakak iparku! Aku maunya kamu jadi suamiku!"
Romeo justru tertawa. Tawa pahit yang terdengar mengejek dan menyakitkan telinga.
"Dasar gila! Kamu pikir dengan cara menjijikkan ini aku akan luluh?" Romeo mencengkeram bahu Atena semakin kencang.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah cinta sama kamu. Perlu kamu tahu, aku terpaksa menikahi kamu hanya karena permintaan Kiara! Dia menangis dan memohon padaku untuk bertanggung jawab karena dia pikir aku sudah merusakmu! Paham kamu?!" Romeo melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Atena hampir terhuyung.
Tanpa kata lagi, pria itu masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan sangat keras.
Atena berdiri mematung di tengah ruang tamu yang sunyi. Bahunya naik turun saat dia menghela napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa sesak. Dia memandangi pintu kamar Romeo yang tertutup rapat, lalu perlahan berjalan masuk ke kamar tamu yang ditunjukkan untuknya.
Sambil meletakkan tasnya di atas ranjang, Atena menggumam pada dirinya sendiri. "Nggak apa-apa, Atena ... nggak apa-apa. Sekarang kamu memang dibenci, tapi lihat saja nanti. Abang pasti bakal bucin setengah mati sama kamu!"
Malam pertama di apartemen itu terasa sangat dingin. Bukan karena AC, melainkan karena tembok tak kasat mata yang dibangun Romeo. Tapi Atena tidak menyerah. Keesokan paginya, dia bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan sang suami.
Romeo keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi, tapi wajahnya tampak kaku, langkahnya terhenti di meja makan. Aroma masakan Atena itu mau tidak mau menggoda perutnya yang kosong.
"Sarapan dulu, Bang! Aku sudah buatkan nasi goreng," ucap Atena dengan senyum manis, seolah bentakan kemarin tidak pernah terjadi.
Wanita itu mengenakan dress satin tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang menggoda.
Romeo mendengus dan tersenyum miring. "Jangan pikir dengan memasakkan aku sarapan, aku akan memaafkan perbuatanmu dan jadi cinta sama kamu!"
"Aku nggak berharap lebih, kok. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai istri," jawab Atena tenang sambil menata nasi dan telur mata sapi ke piring lalu meletakkan piring itu di meja, tepat di hadapan Romeo. "Duduklah, Bang! Ayo kita sarapan bareng-bareng!"
Romeo hanya terdiam, tapi akhirnya dia duduk juga dan mulai makan.
Atena memperhatikan Romeo dari seberang meja, menopang dagu dengan tangan. "Gimana, Bang? Enak, nggak? Lebih enak masakan aku atau masakan Kak Kiara?" tanyanya sengaja memancing.
Romeo meletakkan sendoknya dengan keras. "Jangan pernah bandingkan dirimu dengan Kiara! Dia wanita baik-baik, tidak seperti kamu wanita yang licik. Dasar adik ipar maut!"
"Tapi wanita licik inilah yang sekarang menyandang nama belakangmu, Bang," balas Atena santai, tanpa rasa takut.
Romeo berdiri, menyambar tas kantornya. "Ingat, selama aku pergi! Jangan pernah kamu masuk ke kamarku!"
"Iya, suamiku. Hati-hati di jalan. Love you, semangat kerjanya, ya." Atena mengulurkan tangan hendak bersalaman dan mencium punggung tangan Romeo.
Namun Romeo tak peduli, dia lekas berbalik dan dengan langkah cepat dia keluar dari apartemennya.
***
Di kelas, Atena duduk di barisan paling depan, seperti biasanya. Teman-teman kuliahnya belum ada yang tahu tentang pernikahan mendadaknya bersama sang dosen kemarin. Itu karena Romeo mengancamnya untuk tidak menyebar luaskan pernikahan mereka.
Saat Romeo masuk ke kelas, tatapannya refleks tertuju pada Atena. Saat tahu Romeo menatapnya, Atena dengan sengaja melepas satu kancing kemeja atasnya, memperlihatkan sedikit tulang selangkanya yang indah, dan memberikan kedipan tipis saat mata mereka bertemu.
Romeo berdeham keras, mencoba menjaga profesionalisme meski tangannya terlihat gemetar saat memegang spidol. "Hari ini kita akan membahas tentang etika ...."
Atena tetaplah Atena. Di dalam ruang kuliah, dia kembali menjadi sosok mahasiswi teladan yang tenang, dingin, dan tak tersentuh. Sepanjang pelajaran, wanita itu hanya fokus mencatat, seolah-olah pria yang berdiri di depan kelas itu hanyalah dosen biasa, bukan pria yang kemarin dia "paksa" untuk menikahinya.
Romeo sendiri lah yang entah mengapa berkali-kali kehilangan fokus. Dia berusaha keras untuk tidak melirik ke arah kursi paling depan, tapi aroma parfum vanila Atena yang lembut entah bagaimana bisa sampai ke indra penciumannya.
Begitu kelas berakhir, Romeo merapikan buku-bukunya dengan terburu-buru. Namun, gerakannya terhenti saat melihat seorang mahasiswa laki-laki menghampiri meja Atena dengan wajah berseri-seri.
"Atena! Ayo, aku traktir kamu makan siang. Aku baru dapat rezeki banyak nih," seru pria muda itu dengan semangat.
Atena, yang tadinya berwajah datar, tiba-tiba menunjukkan sisi yang jarang terlihat — sudut bibir terangkat, membentuk senyum tulus yang manis. "Asik! Thanks Zacky, tahu aja pas aku lagi laper-lapernya."
Romeo mematung di tempatnya.
Dia mengenal sosok Zacky lebih banyak dari cerita Kiara. Dulu, sebagai calon kakak ipar, Romeo memang sering memperhatikan Atena. Dan saat dia bertanya pada Kiara soal Zacky, Kiara bilang kalau Zacky adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Atena tertawa karena mereka bersahabat sejak SD.
Melihat Atena tertawa saat Zacky mengacak rambutnya, entah mengapa ada rasa yang tidak nyaman menjalar di d**a Romeo.
Lalu, saat Zacky berjalan melewati meja dosen, Zacky menyapa Romeo dengan sopan. "Kami duluan ya, Pak. Permisi."
Romeo hanya mengangguk kaku.
Namun, tepat saat Atena yang berada persis di belakang Zacky melewati Romeo, wanita muda itu sedikit melambatkan langkah, dan tanpa menoleh, Atena berbisik sangat pelan.
"Jangan pulang terlambat ya, Bang. Love you, suamiku."
Setelah itu, Atena kembali berjalan cepat menyusul Zacky, meninggalkan Romeo yang mencengkeram pinggiran meja dengan rahang mengeras.
Romeo memperhatikan punggung mereka berdua dari pintu kelas. Dia melihat Zacky merangkul bahu Atena dengan akrab, dan Atena tidak menolak. Lagi-lagi ada perasaan aneh yang bergejolak, lebih ke rasa tidak terima. Meskipun dia membenci cara Atena menikahinya, fakta bahwa Atena adalah istrinya tetap tidak bisa dihapus.
"Baru satu hari jadi istriku, kamu sudah berani bercanda gurau dan peluk-pelukan sama aki-laki lain di depan suamimu sendiri, Atena!?"