Bab 3. Misi Menggoda Suamiku

1121 Kata
"Eh, Abang sudah pulang!" seru Atena dengan senyum manis yang merekah. Dia segera bangkit dari sofa dan menghampiri Romeo, mengulurkan tangannya dengan gerakan anggun, hendak mencium punggung tangan pria yang kini berstatus suaminya itu. Namun, Romeo bergeming. Dia menarik tangannya sebelum jemari Atena sempat menyentuh, lalu melangkah melewatinya begitu saja tanpa sepatah kata pun. Pria itu pulang saat hari sudah gelap. Wajahnya datar, memancarkan aura dingin yang membekukan suasana. Baginya, kehadiran Atena di apartemen ini hanyalah gangguan, sebuah parasit yang harus dia toleransi demi menuruti permintaan terakhir Kiara yang hancur. Romeo masuk ke dalam kamar dan membanting pintu pelan. Dia mandi untuk menyegarkan pikiran, lalu keluar beberapa saat kemudian, dia mengenakan kaos berwarna abu-abu dan celana pendek. Langkahnya terhenti saat sampai di ruang makan. Atena sudah duduk di sana, menunggunya dengan meja yang penuh hidangan. Romeo mengerutkan kening. Kali ini, dia baru sadar jika Atena mengenakan tank top hitam berbahan tipis dengan potongan d**a yang sangat rendah, memperlihatkan kulit putih mulusnya yang kontras dengan warna baju. Atasan itu dipadukan dengan hot pants hitam yang membuat kaki jenjangnya terekspos jelas. Tak lupa, rambutnya yang dicepol asal-asalan ke atas, menyisakan beberapa helai yang jatuh di leher jenjangnya — dia sengaja memberikan kesan berantakan agar sang suami tergoda. Atena tersenyum manis, mengabaikan tatapan tajam dan dingin dari suaminya itu. "Ayo kita makan bareng, Bang! Aku masak ayam woku pedas. Aku tahu dari Kak Kiara kalau Abang suka banget sama menu ini." Romeo menarik kursi dengan suara decitan yang kasar. Dia duduk, tapi matanya sama sekali tidak mau menoleh ke arah tubuh seksi Atena yang sengaja dipamerkan di bawah lampu ruang makan yang temaram. Dia memilih menatap lurus ke piringnya. "Lain kali, pakailah baju yang sopan!" ucap Romeo datar, suaranya sedingin es. Atena tertawa, suara tawanya terdengar merdu dan provokatif. "Ini kan apartemen suamiku. Aku emang sengaja pakai baju begini biar Abang tergoda dan mau bobo seranjang sama aku. Memangnya salah?" Romeo memilih tidak menjawab. Dia mulai menyendok nasi dan ayam ke piringnya. Gerakannya tenang dan elegan, benar-benar mencerminkan sosok dosen yang disiplin. Atena menyangga dagunya dengan kedua tangan, sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan meja sehingga belahan dadanya semakin terlihat jelas di depan mata Romeo. "Gimana? Enak, nggak?" Romeo mengunyah perlahan, lalu menelan makanannya tanpa ekspresi. "Standar. Masakan Kiara jauh lebih enak." Atena tahu itu bohong besar, selain Kiara tak pandai memasak, dia melihat Romeo makan dengan lahap. "Oh ya ...? Kalau begitu aku akan terus menerus belajar memasak sama sampai masakan aku dipuji sama Abang." Romeo meletakkan sendoknya dengan denting yang cukup keras, lalu menatap Atena tepat di mata. Tatapannya sangat dingin, seolah sedang menatap dinding kosong, bukan wanita muda cantik di depannya itu. "Dengarkan aku, Atena! Kamu bisa memakai baju seksi, masak makanan enak setiap hari, atau terus berkata manis dan mendayu-dayu di depanku. Tapi sampai aku mati pun, di mataku kamu itu tetaplah adik ipar yang licik. Jangan harap aku akan menyentuhmu!" Romeo mengambil gelas, meneguk air putih hingga tandas, berdiri, lalu berbalik menuju kamarnya tanpa menoleh lagi. Atena terpaku di kursi, dia menatap punggung tegap itu menghilang di balik pintu yang kemudian dikunci dari dalam. Wanita itu menarik napas panjang, lalu menyunggingkan senyum tipis yang penuh ambisi. "Galak banget sih suami aku. Tapi nggak apa-apa, batu yang paling keras sekali pun bakal berlubang kalau terus menerus terkena tetesan air. Abang batu dan aku air! Intinya aku yakin Abang pasti bakal bucin sama aku." *** Pagi harinya, suasana apartemen sudah riuh dengan suara musik beritme cepat dari televisi di ruang tengah. Atena sedang melakukan rutinitas senam paginya dengan sangat totalitas. Penampilan Atena pagi ini jauh lebih berani. Wanita itu mengenakan sport bra ketat berwarna putih yang menopang asetnya dengan sempurna dan rok golf mini senada yang memperlihatkan paha mulusnya yang kencang. Tubuhnya tampak berkeringat, butiran keringat itu mengalir di leher dan tulang selangkanya, memberikan kesan mengkilap yang sangat menggoda. Begitu pintu kamar Romeo terbuka, Atena segera menghentikan gerakannya. Dia menyeka keringat di keningnya dengan punggung tangan, napasnya sedikit terengah, membuat dadanya naik-turun dengan cepat. "Pagi, Suamiku yang tampan!" sapanya riang. Tanpa menunggu jawaban, dia berjalan menuju meja makan dengan gerakan yang sengaja dibuat meliuk. "Tara ... hari ini aku bikin sandwich isi daging asap dan keju. Silakan dinikmati, Abang Romeo-ku!" Romeo tak membalas gombalan Atena, dia memutar bola matanya dengan malas, mencoba menyembunyikan keterkejutannya melihat penampilan sang istri yang sangat "kurang bahan" itu. Lalu, dia menarik kursi dan duduk dengan sikap formal. Namun, kali ini Atena tidak duduk di seberang suaminya. Tanpa permisi, dia menarik kursi tepat di samping Romeo. Begitu dekat hingga lengan mereka hampir bersentuhan. Duduk di samping Atena seperti ini benar-benar menguji pertahanan Romeo. Harum keringat yang bercampur dengan parfum vanila Atena menciptakan aroma feminin yang unik dan justru terasa memabukkan di indra penciumannya. Dari sudut matanya, Romeo tak mampu membohongi nalurinya sendiri. Sebagai pria dewasa, dia menyadari bahwa Atena memiliki pesona fisik yang jauh lebih menggugah dari pada Kiara. Lekuk tubuh Atena sangat terjag — d**a montok, perut rata, pinggang ramping yang kontras dengan pantatnya yang semok. Siluet feminin itu memancarkan daya tarik yang tanpa sengaja mengusik pandangan dan pikirannya. Lekukan tubuh itu benar-benar sebuah godaan visual yang nyata. Rahang Romeo mengeras, tapi dia buru-buru menatap lurus ke depan, memaksakan diri untuk fokus pada sandwich di tangan, dan berusaha keras bersikap cuek meski batinnya mulai bergejolak. "Abang kenapa, sih?" goda Atena. Wanita itu sengaja mendekatkan wajahnya ke bahu Romeo, berpura-pura memperhatikan sandwich itu. "Enak, nggak? Kalau kurang saus, bilang ya. Biar aku tambahin sausnya." Romeo meletakkan sandwich-nya kembali ke piring. Dia mengatur napasnya agar tak terdengar tak beraturan. "Jaga jarakmu, Atena! Kamu berkeringat, baunya nggak enak dan mengganggu pernapasanku." Atena tidak memedulikan ejekan pedas itu. Bukannya menjauh, dia malah melakukan tindakan yang jauh lebih berani. Dengan gerakan kilat, Atena berdiri dan langsung berpindah duduk ke atas pangkuan suaminya. Romeo tersentak, tangannya refleks memegang pinggang Atena agar gadis itu tidak jatuh, tapi sedetik kemudian dia sadar dan hendak mendorongnya. Tapi Atena lebih cepat, dia melingkarkan lengannya di leher Romeo, memaksa pria itu menatapnya dari jarak yang sangat dekat. "Bau keringatku nggak enak dan mengganggu pernafasan Abang, atau ... justru bikin Abang b*******h?" bisik Atena manja tepat di depan bibir Romeo. Napas Romeo memburu. Sentuhan kulit Atena yang lembap karena keringat terasa membakar paha meski dia memakai celana panjang berbahan kain tebal. Dari jarak sedekat ini, Romeo bisa melihat betapa padat dan indahnya d**a milik istrinya itu. Dan pertahanan dingin sang dosen pun mulai retak saat matanya tak sengaja jatuh pada bibir Atena yang sedikit terbuka. "Turun, Atena! Jangan sampai aku emosi, kehilangan kendali dan menjatuhkan kamu!" Suara Romeo terdengar serak yang tertahan. Atena justru tersenyum, hidungnya sengaja dia gersekan ke telinga Romeo, sambil berbisik, "Emosilah dan kehilangan kendali saja, Bang! Aku kan istrimu, terus ... jatuhkan aku ke ranjang!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN