Bab 4. Merahasiakan Pernikahanku

1161 Kata
Romeo mengerang rendah, suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar seperti perpaduan antara amarah dan hasrat yang tertahan. Tanpa peringatan, pria itu menyambar tubuh istrinya, menggendongnya dengan gaya koala, melangkah lebar menuju kamar Atena yang berada di sudut koridor. Jantung Atena berdegup kencang, dia sangat yakin jika sebentar lagi tembok pertahanan sang suami akan runtuh berkeping-keping. Apalagi, sorot mata Romeo terlihat menghujam, seolah sedang menahan badai besar di balik dadanya. Begitu sampai di kamar, Romeo membanting tubuh istrinya itu ke atas ranjang. Atena memekik saat tubuhnya membal di atas ranjang yang empuk. Sebelum Atena sempat bereaksi atau menarik tangan suaminya, Romeo sudah lebih dulu berbalik badan. Pria itu melangkah keluar dengan terburu-buru, seolah-olah jika dia menetap satu detik lebih lama di sana, dia benar-benar akan menyerah pada insting lelakinya. Pintu kamar ditutup dengan dentuman keras yang menggema di seluruh penjuru apartemen. Detik berikutnya, terdengar suara pintu kamar Romeo sendiri yang dibanting dan dikunci rapat dari dalam. Di dalam kamarnya, Atena justru terkekeh pelan. Dia bangkit dari posisi telentang, duduk di tepi ranjang sambil merapikan rambutnya yang semakin berantakan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau sedih, justru binar kemenangan terpancar jelas di matanya. "Yah ... kirain tadi mau diunboxing suami, ternyata cuma dibanting doang," gumam Atena sambil tertawa geli. Atena menyentuh hidungnya yang tadi sempat menyentuh telinga Romeo. Dia tahu jelas apa yang dia rasakan suaminya tadi karena napas Romeo terasa memburu dan binar di mata pria itu tidak bisa berbohong. "Suara Abang tadi serak banget. Itu bukan suara orang marah, tapi suara orang yang lagi mati-matian nahan gairahnya," bisiknya pada keheningan kamar. "Sedikit lagi ... sedikit lagi aku pastikan Abang bakal bertekuk lutut di bawah kakiku!" Atena kemudian berdiri, berjalan menuju cermin besar di sudut kamar. Dia memperhatikan pantulan dirinya yang penuh keringat, tampak segar dan menantang. Dia tahu, bayangan dirinya di pangkuan Romeo tadi akan terus menghantui pikiran sang dosen sepanjang hari ini di kampus nanti. "Satu kosong, Sayangku," ucapnya penuh percaya diri sebelum melangkah masuk ke kamar mandi sambil tersenyum riang. *** Romeo sedang berdiri di depan podium, berusaha keras menjelaskan materi, tapi fokusnya hancur berantakan. Setiap kali mengedarkan pandangan ke arah mahasiswa, matanya seolah memiliki magnet yang selalu menariknya untuk melihat ke kursi baris terdepan. Di sana, Atena duduk dengan tenang. Wanita itu tidak melakukan hal yang aneh-aneh, tapi justru ketenangan dia itu membuat Romeo terteror secara mental. Atena mengambil selembar tisu, lalu dengan gerakan perlahan — yang entah mengapa terlihat sangat lambat di mata Romeo — wanita itu mulai mengusap lehernya yang jenjang karena berkeringat. Mendongak sedikit hingga memperlihatkan dengan jelas tulang selangkanya, lalu mengibaskan kerah kemejanya pelan agar angin masuk. Deg. Romeo menelan ludah. Bayangan kulit lembap Atena saat duduk di pangkuannya tadi pagi tiba-tiba terputar otomatis di otaknya. "Jadi ... dalam etika ... eh ...." Romeo mendadak gagap. Dia kehilangan kalimatnya. Tangannya yang memegang pointer sedikit gemetar. Beberapa mahasiswa mulai berbisik heran melihat dosen mereka yang biasanya sangat lancar berbicara itu tiba-tiba tampak linglung. Atena yang menyadari kegugupan suaminya, justru menopang dagu dengan satu tangan. Dia menatap Romeo dalam-dalam, lalu dengan sengaja, dia membasahi bibir menggunakan ujung lidah — hanya sekilas, tapi cukup untuk membuat Romeo hampir menjatuhkan buku yang dia pegang. "Pak Romeo?" panggil salah satu mahasiswa di barisan belakang. "Apa Bapak kurang sehat? Wajah Bapak merah sekali." Romeo tersentak. Dia segera membetulkan letak kacamatanya yang tidak miring sama sekali. "Oh, saya ... saya sehat, kok. Saya hanya kurang minum air, makanya saya merasa kepanasan dan kurang fokus. Maaf, ya ... ayo kita lanjutkan materi ini." Romeo membalikkan badan ke arah whiteboard, membelakangi kelas hanya untuk menarik napas dalam-dalam. Lucu, dia benar-benar salah tingkah. Harum parfum vanila bercampur keringat Atena yang tadi pagi dia hirup seolah masih menempel di celana dan kemeja, hal itu membuatnya gila. Sementara itu di bangkunya, Atena menyembunyikan senyum kemenangan di balik telapak tangan. Dia tahu persis efek yang dia berikan pada pria kaku itu. Begitu kelas usai, Romeo tidak menunggu lama. Dia segera merapikan tas secepat kilat. Dia harus segera keluar sebelum Atena menghampirinya dan membuatnya semakin tampak konyol di depan mahasiswa lain. Romeo hendak melangkah ke area parkir dosen saat matanya menangkap siluet yang sangat dia kenal di depan gerbang kampus. Zacky yang ada di sana, duduk di motor besarnya dengan senyum lebar saat melihat Atena berjalan mendekat. "Atena!" seru Zacky antusias. "Ibuku kasih dua tiket free pass bioskop. Nonton yuk! Ada film horor yang baru rilis." Biasanya, Atena akan langsung mengangguk tanpa beban. Hidupnya yang terkungkung dalam dinginnya rumah Sandu membuat ajakan Zacky selalu menjadi pelarian favoritnya. Namun kali ini, langkahnya tertahan. Karena stusnya bukan lagi sekadar mahasiswi jomblo yang bebas. "Zack, tunggu sebentar, ya! Aku ... aku harus minta izin dulu," ucap Atena pelan. Zacky mengerutkan kening, wajahnya menampakkan keheranan yang nyata. "Izin? Sama siapa? Tumben banget kamu minta izin, biasanya juga loss doll kalau mau pergi sama aku. Izin sama Mamamu?" Zacky tahu persis bagaimana Hanin memperlakukan Atena — Hanin bahkan tidak akan peduli jika Atena tidak pulang seminggu sekalipun. Jadi, permintaan izin ini terdengar sangat asing di telinganya. "Pokoknya ada, deh. Bentar ya," jawab Atena seraya menjauh beberapa langkah, sambil menempelkan ponsel ke telinganya. Di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari sana, Romeo melihat pemandangan itu melalui kaca spion. Rahangnya mengeras saat ponselnya bergetar di atas dashboard. Nama "Atena" muncul di layar. Romeo mengangkatnya dengan gerakan kasar. "Halo?" Suaranya ketus, mencoba menutupi debaran jantung yang masih sisa dari kejadian di kelas tadi. "Abang, aku izin pulang telat, ya. Aku juga mau izin nggak masakin makan malam buat Abang. Soalnya aku mau nonton film horor sama temenku," suara Atena terdengar manja dan manis seperti biasa. Mata Romeo tertuju pada Zacky yang sedang merapikan rambut. Rasa panas yang jauh lebih membakar daripada hawa di ruang kelas tadi tiba-tiba meledak di dadanya. Namun, harga diri pria itu tetaplah setinggi langit. "Terserah kamu!" bentak Romeo singkat. Panggilan diputus sepihak oleh Romeo tanpa salam penutup. Lalu, dia melemparkan ponselnya ke kursi penumpang dengan geram. "Terserah? Kenapa aku bilang terserah?!" gerutunya pada diri sendiri. Romeo memukul stir mobilnya. Dia membenci kenyataan bahwa tadi pagi dia mati-matian menahan diri agar tidak kehilangan kendali atas tubuh istrinya. Tapi malah wanita yang pagi tadi menggodanya itu justru dengan santainya pergi nonton dengan laki-laki lain. Sementara itu, Atena kembali menghampiri Zacky dengan senyum kemenangan. "Ayo kita pergi sekarang!" Zacky masih bingung, tapi dia tetap memakaikan helm ke kepala Atena. "Siap, Bos! Tapi serius, kamu tadi minta izin sama siapa sih?" "Sama room mate tempat tinggal ku yang baru," jawabnya ambigu, membuat Zacky hanya bisa geleng-geleng kepala saat mereka mulai melaju meninggalkan area kampus. Di belakang mereka, mobil SUV hitam milik Romeo melaju dengan kecepatan tinggi, menyalip motor Zacky dengan sengaja hingga membuat Zacky hampir limbung. "Woy, setan! Ugal-ugalan banget sih bawa mobilnya!" teriak Zacky kesal tanpa tahu siapa di balik kemudi itu. Atena yang sangat mengenali mobil suaminya itu hanya tersenyum di balik helmnya sambil membatin, "Abang ... Abang ... kalau cemburu tuh bilang saja! Nggak usah pakai acara mau nabrak segala!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN