Chapter 01
Keadaan jalan raya pada kota besar, —Jakarta, tampak sepi pagi ini. Mungkin karena ini hari Minggu, dan masih pagi.
Tapi untuk Selatania Belliza, ia sudah di dalam mobil dan menelusuri jalan kota tersebut.
Ayo, tebak, Sela mau kemana?
Sela menghela nafas nya, merasa sedih. Iya sedih, siapa si yang nggak sedih di tinggalin sama sahabat nya?
Hari ini Sela akan pergi ke bandara, untuk mengantar Danu yang akan kuliah di Aussie. Tentu, dengan Reyhan yang mengantarnya.
Dua kali Sela ke bandara untuk mengantar sahabatnya pergi, pertama, Amel yang akan kuliah di Chicago. Ia sudah berangkat sepekan yang lalu.
Sementara untuk kuliah Sela, ia akan berkuliah seminggu lagi.
"Nanti habis dari sini kita mampir ke mall dulu buat beli perlengkapan kamu kuliah?" kata Reyhan sang suami, membuka suara.
"Iya kak," jawab Sela, matanya masih fokus pada handphone untuk berkabar dengan Danu.
"Sesedih itu kamu di tinggal Danu?"
"Iya lah kak, dia itu sahabat aku yang selalu ada dan selalu ngertiin. Emang ngeselin sih, tapi aku— gatau ah, sedih." ujar Sela dengan lesu, tanpa menyadari raut wajah Reyhan yang mulai merenggut kesal.
Ya, gimana ga kesal kalo istri sendiri puji puji orang lain? Oke Reyhan, inget ya, Danu itu cuman sahabat Sela.
"Hm gitu. Kalo di tinggal saya, kamu sesedih ini nggak?"
Dengan spontan Sela menengok ke arah Reyhan yang sedang menyetir.
"Kok nanya gitu, kamu ada niat mau ninggalin aku?"
Nah, ayo Reyhan tanggung jawab, mata Sela jadi berkaca-kaca.
"Nggak— nggak gitu, maksudnya kalo seumpamanya saya ninggalin kamu, kamu sedih nggak?"
Kok Reyhan malah di lanjutin sih nanya nya?
"TUH KAN! ITU ARTINYA KAMU MAU NINGGALIN AKU!"
Reyhan tersentak saat Sela yang tiba tiba teriak.
Entah, seminggu ini mood Sela gampang sekali berubah. Tiba tiba manja, tiba tiba menangis tanpa sebab. Reyhan juga tidak tau penyebabnya. Mungkin Sela sedang kedatangan tamu bulanan?
"Kemarin Amel, sekarang Danu, besok besok kamu yang mau ninggalin aku?" tanya Sela, air matanya sudah turun. Sela mengalihkan pandangannya, tidak mau menatap Reyhan. Sela juga tidak tahu kenapa diri nya menjadi cengeng seperti ini.
Reyhan menghentikan laju mobil nya di pinggir jalan.
"Maaf, bukan gitu maksud saya. Sela, saya minta maaf, ya?" ujar Reyhan merasa bersalah. Padahal ia menanyakan perihal itu karena merasa cemburu. Sial, sekarang Sela menjadi marah dengan nya.
"Ngapain sih pake berhenti segala, nanti telat ga ketemu Danu." kata Sela. Tangisnya sudah berhenti, tapi air matanya terus mengalir.
"Jangan nangis, sini, ayo." Reyhan berusaha menenangkan Sela, bermaksud agar Sela memeluk nya.
"Nggak! Udah jalan cepetan!"
Sela menolak ajakan Reyhan. Reyhan menghela nafasnya, ia mengelus lembut rambut Sela lalu kembali menjalankan mobilnya. Kali ini Sela tidak menepis tangan Reyhan.
Waw. Sela bisa galak juga ya, gengs.
***
Di bandara sudah ada Danu dan keluarga nya yang menunggu.
Dan, akhirnya yang di tunggu datang juga dengan wajah yang sembab.
Siapa lagi kalau bukan Selatania, dengan Reyhan di belakangnya yang mengekor.
"Danuuu! Maaf ya, nunggu lama ya?" rengek Sela, memeluk Danu.
Danu terkekeh melihat nya, "Iya nih, nunggu lo seabad."
Sela mengerucut kan bibirnya, "Maaf ya tante, om."
Tia dan Willy, selaku orang tua Danu hanya tersenyum. Mereka sudah kenal lama dengan Sela.
"Gapapa sayang. Yaudah, tante sama om langsung ke parkiran dulu ya, soalnya ada yang harus di urus." ucap Tia.
"Lho tante ga ikut ke Aussie?"
"Nggak, mungkin nanti nyusul."
Sela mengangguk kan kepalanya.
"Yaudah papa sama mama pulang dulu, Minggu depan kami nyusul. Kamu baik baik disana ya!" kata Willy pada sang anak.
"Siap pa!"
Lalu Tia dan Willy meninggalkan mereka bertiga, sesudah pamit pada Sela dan juga Reyhan.
"Take off berapa menit lagi?" tanya Sela. Ia masih menempel pada Danu.
Tanpa menghiraukan Reyhan yang asik bermain handphone di belakang mereka.
Oke, sebenarnya Reyhan hanya berpura pura sibuk. Ini kenapa dia yang jadi nyamuk?!
"20 menit lagi."
Soal pernikahan Sela dan Reyhan, Danu sudah mengetahui nya saat promnight sekolah mereka dua bulan lalu. Tentu saja Danu shock.
"Pak, maaf ya, ini Sela nya saya pinjem dulu sebentar." kata Danu, merasa tak enak dengan Reyhan.
Reyhan tersenyum kecil, menanggapi nya.
"Sel, udah ah jangan dempet gini. Ga enak nih, lo kan udah ada suami, kalo jomblo si gapapa." bisik Danu.
"Ih apaan si! Oh iya, nanti titip salam ya sama Zea!" ucap Sela.
Zea itu sahabat mereka, tapi pas kenaikan kelas 11 harus pindah karena orang tua nya.
"Iya nanti di salamin sama Zea."
"Yaudah, gue ke pesawat dulu ya? Tuh udah di umumin." ucap Danu saat mendengar pemberitahuan bahwa pesawat menuju Sidney akan segara lepas landas.
"Aaaa, Danu sedih banget gue. Baik baik ya lo disana! Inget, jagain Zea. Oke?"
"Tanpa lo suruh pasti gue jagain. Gue tenang deh ninggalin lo disini, ada pak Reyhan kan yang bakal siaga jagain lo."
Sela tersenyum, lalu mengangguk kan kepala nya.
Lalu kembali memeluk Danu.
"Jangan nangis dah ah, jelek. Nanti pak Reyhan ga mau lagi sama lo."
"Ih Danu!"
"Hahahaha, pak saya pamit dulu. Saya nitip Sela ya, pak!" kata Danu pada Reyhan.
"Istri saya bukan barang yang harus dititipin." ucap Reyhan datar.
Danu terkekeh mendengar nya.
"Iya pak iya, sensi amat."
"Nggak. Udah sana cepetan, nanti di tinggalin pesawat."
Kali ini Danu tertawa mendengar ucapan Reyhan yang terlalu blak-blak an.
"Iya pak iya yaela."
"Kak!"
"Apa si?"
Lalu setelah selesai acara perpisahan dadakan, akhirnya Danu meninggalkan Sela dan Reyhan.
"Udah selesai ya peluk peluk nya, sekarang pulang." kata Reyhan dengan wajah datarnya.
"Hah?katanya mau mampir ke mall?!"
"Ga jadi. Udah ga mood saya." jawab Reyhan, lalu meninggalkan Sela sendiri.
"Ih kok gitu?!" pekik Sela, mengerucut kan bibirnya. Dan mengikuti langkah Reyhan.
***
Sela dan Reyhan tidak jadi pulang ke apartemen mereka. Tapi mereka juga nggak jadi pergi ke mall. Mereka berdua pergi kerumah Bunda Reyhan yang tiba tiba saja tadi menelfon Reyhan.
Entah ada urusan apa, yang jelas saat di telfon tadi muka Reyhan langsung berubah menjadi tersenyum. Padahal selepas di bandara tadi Reyhan enggan tersenyum pada Sela.
"Ngapain kak kerumah bunda?" tanya Sela.
"Ada sepupu."
Sela mengangguk kan kepalanya, ah, seperti nya Reyhan masih kesal dengan Sela karena adegan peluk peluk Danu.
Tak lama mobil yang di kendarai Reyhan berhenti di sebuah rumah yang halaman nya cukup luas.
Sela dan Reyhan keluar dari mobil nya, tetapi belum masuk kedalam rumah, seseorang memeluk Reyhan dengan sangat erat.
Bukan hanya Reyhan yang terkejut tapi juga Sela.
Hell, suami nya di peluk sama orang yang ga ia kenal?!
"Bang Rey! Aku kangen banget."
Reyhan tersenyum kecil, lalu mengelus rambut perempuan tersebut.
Jika di teliti, sepertinya umur perempuan yang memeluk Reyhan tidak jauh dari Sela. Atau mereka seumuran?
Setidaknya Sela bisa bernafas lega saat mendengar perempuan tersebut memanggil Reyhan dengan kata, 'bang' itu artinya mereka bersaudara.
"Iya, abang juga kangen. Dinda gimana kabarnya?"
Oke, Reyhan terlihat sangat manis saat berkata seperti itu.
"Baik dong! Dan aku bakal kuliah disini lho! Senang nggak bang?"
"Senang."
Sekarang Sela merasakan apa yang Reyhan rasakan tadi.
"Oh iya, Sela, kenalin i
Untung nya Reyhan tidak mencueki Sela seperti apa yang Sela lakukan di bandara tadi.
Sela menatap Dinda dengan tersenyum manis, sedangkan Dinda menatap Sela dengan tatapan — tak suka?
"Selatania."
"Dinda."
"Salam ken—"
"Bang! Kedalem yuk, aku bawain oleh oleh buat bang Rey."
Ucapan Sela terpotong dengan ajakan Dinda pada Reyhan.
What the hell?...
Reyhan yang di tarik Dinda pun tidak bisa berbuat apa apa selain berteriak mengajak Sela.
"Sela ayo!"
Ia menghentakkan kakinya kesal, lalu menyusul Reyhan.
Baiklah, Sela mulai kesal.
Saat sampai di dalam rumah, ada Resa yang sedang membuat kue di dapur.
"Eh Sela, sini sayang."
Sela yang berniat menyusul Reyhan pun menghentikan langkahnya melihat Resa di dapur.
"Assalamualaikum bunda."
"Waalaikumsalam sayang."
"Bunda buat kue apa?" tanya Sela.
"Oh ini, buat bolu coklat kesukaan si Dinda itu. Sepupu Reyhan, kalian udah kenalan?"
Sela meringis pelan saat mengingat tatapan tak suka yang di lontarkan Dinda.
"Udah bun. Mereka deket banget ya?"
"Deket banget, pokoknya mereka kaya adik kakak kandung aja gitu. Mungkin karena sama sama anak tunggal kali ya. Dinda tuh, kalau udah sama Reyhan, manja nya minta ampun. Dan Reyhan juga nurut banget sama Dinda, karena dia sayang banget sama adik nya itu." jelas Resa, sambil mengaduk adonannya.
Sela yang menyimak mulai berpikir yang tidak tidak.
"Hmm, gitu bun."
"Iya, terus waktu Dinda mau SMA dia pindah ke Jerman sama orang tuanya. Terus sekarang balik lagi,katanya mau kuliah disini."
Sela mengangguk kan kepalanya, tapi kok ya, dia tidak melihat Dinda saat acara pernikahan nya dengan Reyhan?
"Sela, kalau Dinda manja nya kelewatan, kamu boleh kok tegur dia. Bunda ga akan marah."
Sela terdiam sesaat, segitu dekatnya mereka?
"Ah, iya bun gapapa kok. Maklum, mereka kan adik kakak. Aku ga mungkin cemburu lah bun." kekeh Sela.
Hm, ga mungkin ya?