"Bundaaaaa! Bang Rey ga mau anterin aku belanja bundaaa!" teriak Dinda, dari arah halaman belakang.
Sela tersentak, sedari tadi ia melamun di ruang televisi.
"Abang bukan ga mau, Dinda. Tapi abang harus pulang, ada perkerjaan dirumah yang tertunda." kata Reyhan, berucap lembut.
"Dinda, lagi kamu mau kemana sih? Baru sampe tadi malem. Pasti masih capek, mending istirahat dulu." ujar Resa membawa bolu buatan nya, meletakkan di meja, lalu kembali ke dapur.
Reyhan dan Dinda langsung menyambut bolu buatan Resa.
"Tapi masih kangen sama bang Rey." rengek Dinda.
Rasanya Sela ingin menarik mulut Dinda, aw kejam sekali kamu Sela.
"Gimana kalau Minggu depan? Sabtu depan, malam Minggu kita jalan?" ujar Reyhan.
Sela yang menikmati bolu buatan Resa, pun tersedak.
Reyhan panik, langsung memberikan minum ke Sela.
"Sela, kamu gapapa?" tanya Reyhan.
Serius masih nanya?
"Hah?gapapa kok."
"Hati hati."
Sela mengangguk kan kepalanya, apa tadi yang ia dengar? Malam Minggu? Jalan? Sialan, Reyhan kalau jalan dengan nya saja harus di paksa terlebih dahulu.
Lalu Sela kembali melanjutkan acara makan nya, seolah ia tidak mendengar apa apa.
Selow, masih sabar.
"Serius ya tapi? Nanti bohong lagi bang Rey." ucap Dinda, sambil melirik Sela.
Heh, apaan tuh main lirik lirik? Mau di colok Sela?!
Serius, Sela masih nggak percaya, Dinda itu seumuran nya, mau masuk kuliah. Tapi kelakuan nya macam anak TK.
Body? Oke lah.
Wajah? Hm, Sela akui emang cantik. Tapi, woi! yaela, cantikan Sela kali.
Jangan lupa ya, mantan primadona di sekolah GarPan mana ada yg bisa ngalahin?!
Oh sama satu lagi, mana ada yang bisa ngalahin sifat percaya diri seorang Selatania?
"Iya, janji deh."
"Yaudah deh, aku tunggu lho ya bang! Aku kekamar dulu istirahat, byeee!" ujar Dinda dengan riang.
Lalu mengecup pipi Reyhan dengan singkat, dan berjalan ke lantai dua—letak kamarnya— tanpa dosa.
Sela membelalakkan matanya, pertama karena kecupan ringan di pipi Reyhan, dan kedua karena tatapan meledek yang Dinda lontarkan.
Hey, apa apaan itu?!
Oke, ingatkan Sela untuk ngamuk ke Reyhan saat sampai di apartemen nanti.
***
Sela dan Reyhan sampai di apartemen mereka, dan seperti yang di katakan pada Dinda tadi di rumah, Reyhan langsung mengambil alih laptopnya. Tanpa menegur Sela.
Reyhan kenapa? Harusnya Sela yang marah.
Saat ini mereka di dalam kamar, dengan Reyhan yang berkutat pada laptop di sofa.
Sela duduk di samping Reyhan, Reyhan menoleh sekilas lalu kembali fokus pada laptopnya.
"Kak?"
Reyhan berdeham.
"Itu tadi dia beneran adik sepupu kamu?"
"Iya."
"Kok gitu?"
Reyhan mengernyitkan dahinya, "gitu gimana?"
"Ya gitu, wajar ya emang dia kecup kecup kamu gitu?" tanya Sela, dengan hati hati.
"Di pipi, Sela."
"Iya tau, tapi kan dia udah gede kak. Maksud aku, dia bahkan udah lulus SMA kaya aku. Mungkin kalo dia masih SMP aku bakal maklumi."
"Wajar lah, dia adik saya."
Sela menelan saliva nya, merasa gugup mendengar suara Reyhan yang terkesan dingin.
"Tapi emang harus semanja itu, kak?"
"Kamu juga suka manja sama saya kan?"
Sela berdiri dari duduknya. "Tapi aku istri kamu."
"Dan dia adik saya, Sela."
"Kamu suka sama dia?" tanya Sela, ia menggigit bibir bawahnya.
Reyhan melepaskan atensi nya dari laptop dan menatap Sela.
"Kamu ini lagi bergurau, Sela?"
"Kak, aku serius."
"Kamu ini kenapa Sela? Apa yang kamu cemburui dari Dinda? Dia adik saya. Masih dalam ikatan keluarga."
"Aku tau, tapi itu juga ada batasnya kak! Ga harus sampe cium gitu kan?!"
Oke, Sela mulai emosi.
"Kamu sama Danu gimana? Pelukan depan saya, yang notabene nya adalah suami kamu. Itu wajar, Sela?" kata Reyhan, menatap datar Sela.
Sela tersentak, "kenapa jadi Danu? Kita lagi ngomongin Dinda, kak!"
"Kenapa? Kamu ga suka saya ngomongin Danu? Kalo gitu, saya juga ga suka kamu ngomongin Dinda." ujar Reyhan, dan langsung berlalu dari kamar meninggalkan Sela.
Sela menatap Reyhan tak percaya, ini mereka jadi nya saling cemburu?
Sela memejamkan mata nya, menahan air mata yang akan turun.
Sedangkan Reyhan di luar kamar mengacak-acak rambut nya frustasi. Bayangan Sela yang memeluk Danu terlintas dengan kurang ajarnya. Sial, dia benar benar termakan api cemburu.
***
Waktu terus berjalan, hingga jarum panjang pada jam dinding menunjuk angka 12 dan jarum pendek menunjuk angka 2
Itu artinya, sudah jam 2 dan sudah larut malam. Tapi Sela belum juga tidur.
Bagaimana ia bisa tidur kalau Reyhan saja belum kembali ke kamar.
Setelah perdebatan tadi, Sela memutuskan untuk tidak keluar kamar, dan Reyhan belum masuk ke kamar.
Sela ga bisa tidur kalau tidak di peluk Reyhan. Duh, bucin banget Sela-sayang.
Rasanya kurang nyaman, karena biasanya selalu ada tangan Reyhan yang melingkar di pinggang nya.
Ia sudah mencoba memejamkan matanya, tapi tetap saja. Ia tidak bisa tertidur pulas. Sela mengelap air matanya yang kembali turun. Biasanya, semarah apapun Reyhan, pasti akan tidur di samping Sela.
Sedari tadi Sela menunggu Reyhan, tapi pintu kamar tak kunjung terbuka.
Apa kak Reyhan tidur di kamar sebelah?
Sela menghela nafasnya, ia harus mengalah kan egonya kalau ingin tertidur nyenyak. Dengan langkah gontai, Sela keluar kamar.
Televisi masih menyala, ia melihat Reyhan yang tertidur di sofa. Ah, lebih tepatnya mungkin Reyhan ketiduran. Karena masih ada bekas mangkok di meja dan televisi masih menyala.
Sela meringis pelan saat mengingat kalau ia tidak memasaki Reyhan makan malam.
Sela memandang Reyhan yang tertidur dengan pulas. Wajah lelahnya tercetak jelas. Tapi ia jadi kesal sendiri saat melihat pipi Reyhan yang bekas di cium Dinda.
Sekarang Sela mengurungkan niatnya untuk meminta Reyhan pindah ke kamar. Ia keburu kesal melihat wajah Reyhan, apalagi tadi Reyhan hampir membentak nya garaa gara Dinda.
Mood nya benar benar kacau. Sela sendiri tidak tau ia mengapa. Padahal jika di pikirkan lagi, jelas saja Dinda adalah adik Reyhan yang notabene nya wajar kalau manja. Tapi kan, tetep aja Sela nggak suka!
Sela mematikan televisi, lalu menaruh mangkuk yang entah bekas apa pun Sela nggak tau.
Setelah itu ia kembali ke kamar. Sela menghela nafasnya, ia mengambil laptopnya.
"Bodo ah, dari pada ga bisa tidur mending nonton film aja!" ujar Sela, lalu merebahkan dirinya di kasur bersama laptop kesayangan.
***
Selatania membuka matanya yang sangat berat, rasanya ia benar benar mengantuk. Bagaimana tidak, ia baru saja tertidur sekitar sejam yang lalu saat matahari mulai menampakkan sinarnya.
Tapi ia harus bangun saat mendengar suara seseorang di kamar mandi.
Sela langsung panik saat melihat Reyhan di kamar mandi, pasalnya Reyhan sedang memuntahkan isi perutnya.
Ia langsung mengambil minum air hangat untuk Reyhan. Lalu memijat pelan tengkuk Reyhan.
"Ini minum dulu."
Reyhan mengambil air minum yang ada di tangan Sela, lalu meneguk nya sedikit.
"Lagi kak, habisin." ujar Sela, tapi Reyhan menggeleng kan kepalanya.
Reyhan terlihat sangat lemah.
"Kenapa?"
"Nggak tau, tiba tiba bangun tidur perut saya mual."
"Masuk angin. Tidur aja di luar sana." sinis Sela. Lalu membantu Reyhan untuk sampai ke tempat tidur.
"Saya ketiduran di luar." jelas Reyhan.
"Nggak nanya."
Reyhan menghela nafasnya saat melihat wajah Sela yang sinis. Seperti nya istri kecilnya ini masih merajuk.
"Kenapa nggak bangunin saya? Saya tau semalem kamu bangun dan keluar."
"Males banget."
"Emang nya kamu bisa tidur tanpa saya?" Reyhan menahan senyum nya.
"Bi—bisa lah!"
"Saya tau, kamu baru tidur tadi kan? Ngapain sih rela rela begadang demi gengsi kamu buat bangunin saya?hm?" kata Reyhan, menatap Sela di depan nya.
Saat ini Reyhan berbaring di tempat tidur, dengan Sela yang mengolesi minyak angin.
"Apaan sih ah, so tau banget."
"Bukan so tau, tapi saya emang tau." kata Reyhan, tak mau kalah.
"Bawel banget sih, lagi sakit juga." ujar Sela.
Reyhan terkekeh mendengar nya.
"Yang sakit itu perut, bukan mulut."
"Terserah, aku mau bikin bubur dulu buat sarapan kamu." ujar Sela, lebih tepatnya menghindari tatapan Reyhan.
"Saya mau pake sayuran ya!"
Sela langsung memberhentikan langkah nya yang sudah sampai di depan pintu.
"Hah? Kamu kan ga suka pake sayuran kalo makan bubur." kata Sela sambil mengernyitkan dahinya.
"Tapi sekarang saya mau makan bubur pake sayuran." ucap Reyhan santai.
"Dih, nanti malah ga di makan."
"Dimakan, sayang."
Sela memutar bola matanya, "iya iya! istirahat dulu deh mending."
"Cepetan ya sayang!" teriak Reyhan sambil terkekeh saat Sela sudah keluar kamar.
Lalu perut Reyhan kembali bergejolak, ia kembali ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya