Chapter 03

1225 Kata
Sore ini harusnya Selatania bersantai di rumah, harus nya. Tapi rencana nya gagal saat Reyhan mengajak nya keluar.  Langit di luar masih sangat terang, mungkin karena memang cuacanya hari ini sangat bagus. "Kak, ngapain sih ah?! Besok aja deh, kamu kan lagi sakit sekarang. Mending istirahat, diem diem aja kenapa sih." omel Sela, saat Reyhan terus mengajak nya.  "Sebentar doang Sela, ga akan lama." "Mau sebentar, mau lama. Tetep nggak, kamu lagi sakit." kekeh Sela.  Sebenarnya ia tidak ingin pergi bukan karena acara santainya yang gagal. Tapi ia khawatir pada kondisi Reyhan.  Tadi pagi Reyhan terlihat sangat lemah, sekarang Reyhan malah terlihat seperti biasa. Segar bugar.  "Saya udah enakan kok. Serius deh, ayo!" "Eh, eh, tarik tarik aja! Aku ganti baju dulu kak!" cibir Sela, kesal.  "Gausah, udah deh. Gini aja." Akhirnya Sela pasrah di gandeng Reyhan, ia bahkan tidak membawa telepon genggam nya. Entah, Sela ga tau Reyhan mau bawa nya kemana.  Sampai saat ini satu pun dari mereka belom kembali membahas tentang perdebatan semalam. Pls, Sela juga males banget nginget nya.  "Mau kemana?" tanya Sela.  Sedangkan Reyhan stay cool menyetir. Emang ngeselin, fix!  Sela mendengus kesal, lalu memalingkan wajahnya menghadap jendela. Bete banget, ga bawa handphone.  Lalu tak lama mobil mereka memasuki kawasan perumahan elit, lah? jangan jangan kerumah temen Reyhan. Oke, Sela lagi buluk banget sekarang.  "Kak?! Ih, aku jelek gini masa kita mau bertamu sih?!" kata Sela.  Reyhan menatap Sela sekilas.  "Kak! Aku ga mau turun mobil pokok nya. Ga mau tau!" Rumah di depan nya ini sangat bagus, Sela sampai berdecak kagum dengan interior design yang di miliki rumah ini.  Rumah berlantai dua ini tidak terlalu besar, sederhana tapi menarik. Berbeda dengan rumah rumah lain nya.  "Ayo!" Ajakan Reyhan menyadarkan Sela.  "Nggak! Nggak mau!" "Sela.." "Aku ga mau turun! Malu! Liat, aku cuman pake piyama doang!?" kesal Sela.  "Sayang, kamu selalu cantik di mata saya." kata Reyhan.  Sela mendengus kesal, kebiasaan Reyhan selalu mengeluarkan kata kata andalan nya jika Sela sedang marah atau merajuk.  Tapi ngga bisa bohong juga kalau pipi Sela bersemu merah.  "Apa sih! Gombal!" cibir Sela.  "Nggak gombal, udah ayo turun." lalu Reyhan keluar meninggalkan Sela di dalam mobil.  Lalu Reyhan berjalan melingkari mobil, dan membuka pintu mobil untuk Sela.  "Ayo." "Kak, ga mau turun." rengek Sela.  "Mau saya gendong?" Mau tak mau Sela turun dari mobil, ya dari pada di gendong Reyhan? Tapi sebenarnya ia mau sih, et, tapi kan malu juga!  Alhamdulilah, Sela udah punya malu.  Lalu Sela membelalakkan matanya. "Astagfirullah kak! pencet dulu bell nya! main buka pintu aja?! Itu juga kenapa kuncinya ada di kamu?!" Reyhan tidak mengindahkan ucapan Sela, ia tetap membawa Sela kedalam rumah ini.  "Bagus banget." ucap Sela, saat sampai di dalam rumah.  "Kamu suka?" Sela mengangguk kan kepalanya lucu, sampai Reyhan mengacak acak rambut istri kecil nya, saking gemas nya Reyhan.  "Ini rumah siapa?" tanya Sela, ia masih bingung.  "Rumah kita, sayang." Sela menoleh ke arah Reyhan yang tersenyum. Ia menatap Reyhan dengan tatapan tak percaya.  "Kamu bercanda ya?" "Kamu mau pindah kapan?sekarang?"tanya Reyhan.  Sedangkan Sela masih bingung di tempatnya.  "Hah?" Reyhan tertawa kecil melihat wajah Sela yang terlihat sangat bingung.  "Kak, udah deh ayo pulang." ucap Sela akhirnya, dan menarik Reyhan untuk keluar.  "Mau kemana?ini rumah kita. Kamu ga percaya?" "Kak? Aku gatau mau ngomong apa, tapi aku kaget banget." "Ya kalo ga kaget bukan suprise dong?" kekeh Reyhan.  Sela langsung memeluk Reyhan dengan erat, Reyhan mengelus serta mengecup lembut rambut Sela.  "Makasih banyak." lirih Sela, ia benar benar terkejut. Pasalnya Reyhan tidak pernah membicarakan tentang rumah dengan Sela.  "Ah, iya, saya buatin halaman yang luas di belakang. Salah satu rumah impian kamu, punya halaman belakang yang luas kan?" ucap Reyhan, menggandeng Sela.  "Hah?kok tau?" "Saya tau apapun tentang kamu." Mampus, pipi Sela makin merah kaya kepiting rebut.  "Kak?! Sumpah ini bagus banget!" kata Sela, menatap takjub pemandangan di hadapan nya.  Benar benar seperti apa yang di impikan Sela. Halaman yang luas, dan juga banyak tanaman. Ingatkan Sela untuk merawat nya.  Gemes banget segala ada ayunan:( Dan juga kolam renang yang tidak terlalu  besar tapi Sela sangat menyukai nya.  "Suka?" "SUKA BANGET FIX!" kata Sela sangat bersemangat.  "Kapan mau pindah?hm?" tanya Reyhan, ia sibuk menyiumi pipi serta leher Sela yang sedang terkesima oleh halaman rumah.  Posisi nya sekarang, Reyhan memeluk Sela dari belakang. Romantis nya.. "Ehm, sabtu depan?" ucap Sela mantap. Sebenarnya itu sebagian rencananya agar Reyhan tidak pergi dengan Dinda.  "Oke." Semua kekesalan Sela meluap begitu saja, Reyhan memang selalu tau cara untuk membujuk Sela.  Reyhan mencium bibir ranum Sela dengan lembut, bibir yang selalu menjadi candunya. Ciuman pertama mereka di rumah baru, tepatnya di halaman belakang yang indah.  "Aku ga berpikir untuk punya rumah secepat ini." kata Sela, saat Reyhan melepaskan panggutan nya.  Reyhan mengernyitkan dahinya. "Kenapa?" "Ya, mungkin karena apartemen juga udah nyaman?"  "Dan saya berpikir, lingkungan apartemen nggak terlalu baik untuk anak anak." ujar Reyhan.  "Anak?" "Iya, anak anak kita nanti. Ga mungkin kan lingkungan mereka di apartemen? itu ga bagus untuk interaksi sosial mereka." Sial, pipi Sela bersemu merah.  "Jauh banget mikirnya!" ucap Sela, sambil tertawa.  Tapi tak ayal jika Sela juga suka memikirkan tentang mereka, tentang anak anak mereka yang lucu nan menggemaskan.  Sedangkan Reyhan kembali mencium puncak kepala Sela, "Mau lihat kamar kita?"  "Boleh." Reyhan menggandeng Selatania, untuk masuk kedalam rumah baru mereka. Lalu mereka menaiki tangga menuju lantai dua.  "Disini, ada tiga kamar. Kamar utama yang tengah. Kamar kita. Dua nya lagi, buat anak anak nanti." kata Reyhan, saat mereka sampai di atas.  Ada rasa hangat yang hinggap ke hati Sela, saat mendengar Reyhan menyebut kata Anak. Sela benar benar tidak tahu jika Reyhan semanis ini.  "Tadi aku liat ada pintu di ruang tengah, itu bukan nya kamar?" tanya Sela.  "Iya, kamar tamu." Sela mengangguk kan kepalanya.  Reyhan membuka pintu kamar utama yang letak nya paling pojok di lantai atas.  Lagi lagi Sela berdecak kagum melihat desain kamar yang sangat memukau.  "Ini kamar kita, kak?" "Iya. Gimana?" "Suka banget, bagus!!! Kamu selalu tau selera ku." ujar Sela, tersenyum hangat.  Ia berjalan ke arah balkon yang ada di kamarnya, sangat indah. Karena pemandangan nya bertujuan langsung ke arah halaman belakang yang tadi Reyhan dan Sela jumpai.  Dan yang lebih indah nya lagi, balkon kamar ini menghadap langsung ke barat, jadi ia bisa melihat matahari yang akan tenggelam. Benar benar menyenangkan.  "Aku jadi pengen pindah sekarang." kekeh Sela.  "Boleh." Sela menggeleng kan kepalanya. “Nggak, nanti aja Sabtu."  "Saya terserah kamu aja, Sela." "Aaaa, ga sabar hari Sabtu!!!" ucap Sela dengan antusias.  Dan Reyhan sangat bahagia melihat Sela yang bahagia.  "Memang nya kenapa sih? Kok harus hari Sabtu? Kenapa nggak sekarang? Atau besok?" tanya Reyhan.  "Ya biar kamu nggak per— eh" Sela menutup mulutnya, hampir saja ia ketahuan akan niatnya yang menggagal kan acara pergi Reyhan dengan Dinda—adik sepupunya.  Sedangkan Reyhan mengernyitkan dahinya, "Biar saya nggak apa?" tanya Reyhan dengan bingung.  "Biar kamu nggak capek, sekarang istirahat dulu. Kan kamu lagi sakit, oke oke?" Sela tersenyum senang saat melihat Reyhan yang mengelus rambut nya, itu artinya Reyhan percaya.  "Saya udah sembuh, Sela." "Iya iya terserah kamu! Udah ayo sekarang kita pulang ke apartemen dulu. Kamu harus istirahat!" ujar Sela.  Mau tak mau Reyhan menuruti Sela yang meminta pulang. Reyhan juga tidak sabar untuk kepindahan mereka ke rumah baru, Sabtu nanti.  Dan yang jelas, Reyhan melupakan bahwa Sabtu nanti ia ada janji dengan adik kesayangannya.  Pintar kan ide nya, Sela? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN