Asih melihat wajah manis dari anak perempuannya yang kini telah selesai didandani oleh Irma. Sementara itu, pria yang gemulai itu sedang merias rambut Cempaka dan memakaikan selendang menjadi kerudung di kepala Cempaka. "Anak gadis Ema teh akan dilamar pria hari ini, sangat manis. Ema merasa kamu masih kecil untuk menikah, namun kalau menghitung umur, memang umur kamu sudah cukup untuk menikah," ujar Asih lembut pada Cempaka. Cempaka tersenyum malu-malu. "Ema teh senang lihat Nak Akbar begitu tulus menerima anak gadis Ema," ujar Asih. Cempaka berkata, "Ema, kalau Ema senang kenapa mata Ema ada air matanya?" Asih terkekeh pelan. "Kelilipan," jawab Asih. "Ema, Campak hanya mau dilamar sama Abang Akbar kok, nggak akan dibawa lari keluar negeri," ujar Cempaka dengan nada agak bercanda.

