Satu setengah jam kemudian terlihat mobil hitam berhenti di depan halaman rumah Cempaka. Para saudara dan tetangga yang baru saja selesai mendirikan tenda menjadi lebih kokoh melirik ke arah mobil itu. Mereka penasaran, siapa di dalam mobil itu, yang pastinya, bukan Akbar. Sudah mereka duga bahwa kedatangan mobil itu pasti ke rumah Safar dan Asih. Sedari tadi, Asih dan Safar masih berdiri di depan pintu kamar anak perempuan mereka. Mereka masih membujuk sang anak untuk jangan lagi bersedih dan keluar kamar agar para orangtua berbicara baik-baik dengan Cempaka. Sedangkan Marsudi dan Dahlia memilih duduk di kursi rotan. Mereka sudah lelah berdiri dan berteriak membuka mulut mereka untuk Cempaka. Meskipun sudah satu setengah jam mereka berseteru, namun Marsudi dan Dahlia tidak mau menyerah

