Tiga hari kemudian. Untuk dua alasan, yaitu cinta dan amarah. Aku mengajak Anjar ke rumah sakit untuk demi menemui laki-laki yang sudah melakukan kejahatan kepadaku. Seperti biasa, Anjar selalu tampak bersemangat jika itu tentang aku. Sesampainya di rumah sakit, aku dan Anjar langsung menuju ruang perawatan laki-laki yang menjadi musuh rahasiaku itu. Karena sangat marah, Anjar berjalan lebih dulu dan sepertinya ia ingin menghajar laki-laki yang sudah mencuri paksa keperawanan milikku yang berharga. Namun tiba-tiba tubuh Anjar terdiam, saat itu dengan sangat jelas aku mendengar Anjar memanggil laki-laki iblis tersebut dengan suara yang bergetar. "Papa." Anjar menyentuh wajah laki-laki j*****m itu dengan lembut. "Apa, Anjar?" "Iya, Cantika. Dia adalah Papaku." Anjar tidak melihat ke

