Reyna menatap gerbang yang masih bergetar, cahaya liontin di dadanya makin menyilaukan. Akar-akar hitam yang melilit tubuhnya terasa semakin kuat, tapi jantungnya berdegup keras—seakan liontin memberi jawaban: masuklah, atau semua akan hancur. Dengan teriakan penuh tekad, ia meremas liontin itu. Cahaya putih meledak, memutus akar yang menahannya. Tubuhnya jatuh berlutut, tapi ia segera bangkit. “Reyna, jangan!” Aditya berusaha menarik tangannya, tapi Reyna menggeleng keras. “Kalau aku diam saja, dia akan menghancurkan segalanya. Aku harus menghentikannya… entah bagaimana caranya.” David, meski tubuhnya masih lemah, menatapnya dalam-dalam. “Kalau kau masuk, kau mungkin tidak kembali.” Reyna menggenggam tangannya erat, seolah ingin menitipkan nyawa di genggaman itu. “Kalau aku tidak mas

