Cahaya putih dari liontin Reyna semakin terang, memenuhi lorong sempit dengan kilatan menyilaukan. Wanita perak mengangkat tangannya, mencoba menahan serangan itu, tapi tubuhnya bergetar hebat. “A-apa ini…?!” matanya melebar, wajahnya kehilangan senyum congkaknya. “Kekuatan liontin… seharusnya sudah padam bersama ibumu!” Reyna menggenggam bilah cahaya erat-erat, menahan rasa sakit yang menjalar dari dadanya. Setiap detik, tenaga liontin menyedot kekuatannya, tapi ia tidak peduli. “Kau salah. Ini bukan kekuatan ibuku. Ini… pilihanku!” Wanita perak meraung, simbol-simbol di kulitnya yang tadi bersinar kini mulai retak, pecah menjadi serpihan cahaya gelap. Ia mencoba menyerang dengan cambuk hitam, tapi setiap kali menyentuh cahaya Reyna, cambuk itu hancur menjadi debu. “Aku… tidak bisa ka

