Dentuman keras memecah hening. Pintu logam yang tadi tertutup rapat kini terbuka lebih lebar, dihantam dari luar. Dari balik kabut dan sisa hujan, muncul beberapa sosok berpakaian gelap dengan senjata terhunus. Aditya langsung menegang. “Bukan hanya Norman…” bisiknya cepat. Norman menyeringai tipis, meski tubuhnya masih luka. “Mereka akhirnya sampai juga. Para pemburu bayangan… keturunan pengkhianat.” Tiga orang melangkah masuk, mantel hitam mereka berkilat basah. Salah satunya, seorang wanita berambut panjang keperakan, menatap lurus ke arah kristal di tangan Reyna. Suaranya dingin menusuk: “Serahkan kristal itu padaku, Kau hanyalah wadah, Reyna. Pewaris darah hanyalah kunci, bukan pemilik.” Reyna mundur selangkah, memeluk kristal erat-erat. “Tidak. Ini… ini warisan ibuku.” Wanita

