Langkah Norman menggema di ruangan itu, setiap injakan kakinya terdengar berat. Cahaya hijau dari kristal memantul di wajahnya yang basah oleh hujan dan darah, menajamkan garis keras di matanya. “Begitu lama aku mencarinya…” suaranya bergetar antara kagum dan marah. “Dan ternyata, benda itu jatuh ke tanganmu, Reyna.” Reyna menggenggam kristal erat-erat. “Kenapa kau begitu menginginkannya? Apa sebenarnya benda ini?” Norman tersenyum miring, tapi pahit. “Kau tidak tahu, ya? Tentu saja. Ibumu menjagamu dengan kebohongan manis.” Ia melangkah lebih dekat, meski Aditya sudah bersiap dengan pisaunya. “Kekuatan yang kau pegang itu bukan sekadar peninggalan. Itu adalah Hati Kota Tertua — inti energi yang membuat peradaban kuno berdiri. Dengan kristal itu, mereka membangun menara emas, mesin-mes

