Hujan akhirnya mereda, menyisakan kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan. Tanah masih basah, mengeluarkan aroma lumpur dan dedaunan busuk. Reyna berjalan di belakang Aditya, matanya terus terpaku pada peta kecil dari liontin. Garis cahaya samar di kertas itu hanya muncul ketika terkena sinar matahari pagi. “Ke arah barat… lalu menyusuri sungai kecil,” gumam Reyna sambil menyesuaikan arah. Aditya mengangguk, menebas semak dengan pisaunya. “Kalau benar jalur ini belum ditemukan orang lain, berarti kita masuk lebih jauh dari yang pernah dijelajahi siapa pun.” Beberapa jam kemudian, mereka sampai di tepi sungai yang alirannya hampir tertutup akar-akar besar. Reyna mengangkat liontin, dan sinar mentari yang tembus dari celah daun jatuh tepat ke permukaannya. Kilau itu memantul, men

