Air laut seperti es yang menusuk tulang. Begitu tubuhnya menghantam permukaan, Reyna merasakan napasnya terenggut. Ombak menggulung, memaksanya berputar-putar di bawah air. Di kejauhan, ia mendengar samar-samar suara David dan Aditya berteriak, tapi badai menelan semua suara. Ia mencoba meraih liontin yang melayang turun ke dasar laut, tapi arus begitu kuat. Tiba-tiba, sebuah tangan kuat menariknya dari belakang. Dalam setengah sadar, ia melihat sosok hitam menyelam bersamanya — David. Napasnya terpecah-pecah, tapi ia tidak melepaskan pegangan pada Reyna. Mereka naik ke permukaan, tapi ombak besar menghantam, memisahkan mereka. Reyna kembali terseret arus. Pandangannya mulai kabur… hingga sepasang tangan lain, lebih kasar dan dingin, meraih pergelangannya. “Bertahanlah, Reyna!” suara A

