Tanah basah dan licin membuat langkah Reyna tersendat. Nafasnya memburu, dadanya terasa terbakar. Di belakang, suara ranting patah dan teriakan samar terdengar — tanda para pengejar semakin dekat. “aditya… aku nggak kuat…” Reyna terhuyung, tapi genggaman Aditya di tangannya semakin erat. “Kuatkan dirimu, Reyna! Sedikit lagi kita sampai ke jalur sungai,” jawab Aditya tanpa menoleh. Suara deru mesin motor trail tiba-tiba memecah keheningan. Dari arah samping, cahaya lampu menembus dedaunan, mengarah tepat ke mereka. Aditya spontan mendorong Reyna ke belakang batang pohon besar. “Diam!” bisiknya keras. Dua pengendara berhenti, mengamati sekeliling sambil memegang senjata. Detik-detik terasa seperti jam. Reyna menggigit bibir, menahan napas. Tiba-tiba, dari kegelapan hutan, suara tembaka

