Hujan tipis mulai turun saat David, Aditya dan Reyna menyusuri jalan setapak yang hampir tertutup rumput liar. Penerangan hanya berasal dari senter kecil di tangan Aditya, sedangkan David berjalan di depan dengan sigap, sesekali memeriksa arah kompas. “Berapa jauh lagi?” tanya Reyna, menggigil. “Sekitar dua jam kalau kita terus bergerak,” jawab David tanpa menoleh. “Jangan ketinggalan, hutan ini terkenal dengan rawa yang bisa menelan orang hidup-hidup.” Suara itu membuat Reyna merapat pada Aditya, yang diam-diam menaruh tangannya di punggungnya, memberi rasa aman. Namun, di balik ketenangan itu, Aditya memutar kepala sedikit — ia merasa ada langkah lain di antara suara hujan dan dedaunan. “Ada yang mengikuti kita,” bisiknya pada Reyna Reyna terkejut, tapi Aditya memberi isyarat untuk

