Jari Pak Norman sudah berada di pelatuk. Reyna terpaku, sementara Aditya mengukur jarak di antara mereka. Hujan deras membuat pandangan kabur, tapi suara detak jantung terasa mengalahkan semuanya. “Tinggalkan peta itu, Aditya,” suara Pak Norman tegas. “Lempar ke sini, lalu bawa dia pergi. Kalau tidak… peluru ini akan menembus kepalanya.” Aditya menggenggam tas selempang tempat peta disimpan. Matanya berpindah cepat dari pistol ke wajah Reyna yang pucat. Ia tahu peta itu terlalu penting untuk dilepaskan, tapi nyawa reyna— Tiba-tiba, dari sisi kanan jalur, terdengar bentakan. “Lepaskan dia, Norman!” Itu suara David. Tubuhnya muncul dari balik semak, baju basah kuyup, satu tangan memegangi sisi perutnya yang berdarah. Meski goyah, matanya tetap tajam. Pak Norman menoleh sekilas, cukup me

