part 21

584 Kata

Jejak yang Tersapu Hujan Langkah Reyna dan Aditya terasa berat, bukan hanya karena lumpur yang menahan kaki, tapi juga oleh bayangan jurang yang baru saja mereka tinggalkan. Hujan belum reda, menutupi jejak darah, air mata, dan tubuh yang mungkin kini terbaring di kegelapan. Aditya berjalan di depan, menutupi kepala dengan mantel tipis yang sudah basah kuyup. Tangannya sesekali meraih bahu Reyna agar ia tetap dekat. “Kita harus menemukan tempat berlindung dulu. Kalau terus begini, kau bisa sakit.” Reyna hanya mengangguk, pelukannya pada tas selempang semakin erat. Di dalamnya, peta yang menjadi alasan semua kekacauan itu terasa berat — seolah lebih berat dari sekadar selembar kertas tua. “Aditya…” suaranya lirih nyaris hilang tertelan hujan. “Kalau David masih hidup, apa kau pikir… dia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN