Malam Pembantaian
Aceh Besar, 1979
Hujan turun deras malam itu, menyelimuti desa kecil di pinggiran hutan dengan suara gemuruh. Langit gelap seperti tak ingin menjadi saksi atas tragedi yang sebentar lagi akan terjadi. Di dalam rumah panggung kayu yang sederhana, Hamzah kecil duduk bersila di lantai, mengamati ibunya yang sedang menyiapkan nasi dengan ikan bakar di atas piring rotan.
“Ayah akan pulang malam ini?” tanyanya polos, menatap ibunya dengan mata penuh harap.
Ibu tersenyum lembut, meski ada bayangan cemas di matanya. “InsyaAllah, Nak. Doakan saja ayahmu selamat.”
Hamzah mengangguk. Ia tahu ayahnya, Teungku Mahyuddin, bukan lelaki biasa. Ia sering menghilang selama berhari-hari, kembali dengan wajah lelah dan baju berbau tanah dan keringat. Orang-orang di desa berbisik bahwa ayahnya adalah seorang pejuang, bagian dari kelompok yang menentang pemerintah.
Tiba-tiba, suara letusan senjata memecah keheningan malam. Teriakan orang-orang menggema di udara, bercampur dengan suara derap langkah sepatu bot menghantam tanah yang becek.
“Ibu… suara apa itu?”
Wajah ibunya berubah tegang. Tanpa menjawab, ia segera menarik tangan Hamzah dan menyuruhnya bersembunyi di balik lemari kayu. “Jangan keluar apa pun yang terjadi, paham?”
Hamzah ingin bertanya lebih banyak, tapi suara dentuman keras membuat tubuhnya membeku. Pintu rumah mereka ditendang dengan kasar, dan beberapa pria berseragam memasuki rumah dengan wajah penuh amarah.
“Di mana Mahyuddin?!” suara kasar seorang tentara menggema.
Ibunya berdiri tegak, meskipun tubuhnya gemetar. “Suamiku tidak ada di sini,” jawabnya dengan suara bergetar.
Tamparan keras mendarat di pipi perempuan itu. Hamzah yang mengintip dari celah lemari ingin berteriak, tapi ia ingat perintah ibunya.
“Tuan rumah tidak ada. Bakar rumahnya!” perintah tentara itu.
Api mulai menjalar ke dinding kayu, menciptakan kobaran merah yang menari-nari dalam kegelapan. Asap hitam mulai memenuhi udara, membuat Hamzah sulit bernapas. Saat itulah ia melihat ayahnya berlari ke dalam rumah, wajahnya penuh keringat dan darah.
“Lepaskan istriku!” teriaknya.
Namun, sebelum ia bisa melakukan sesuatu, suara tembakan terdengar.
Hamzah menyaksikan ayahnya roboh di lantai, darah menggenang di bawah tubuhnya.
Ibunya menjerit dan berlari ke arah suaminya, tapi sebuah dorongan kasar membuatnya jatuh. Seorang tentara menarik pelatuknya lagi.
Dor!
Dunia Hamzah runtuh seketika.
Aceh, 1979
Saat fajar menyingsing, desa itu hanya menyisakan puing-puing. Rumah-rumah terbakar, mayat-mayat tergeletak di tanah. Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun merangkak keluar dari balik semak-semak, tubuhnya berlumuran debu dan matanya kosong.
Hamzah tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis.
Ia berjalan tanpa arah, meninggalkan desanya yang kini hanya tinggal abu.
Di malam itu, seorang bocah kecil kehilangan segalanya. Dan di malam itu pula, ia bersumpah akan membalas semuanya.