Aceh, 1990
Angin dingin berembus kencang di tengah hutan belantara. Di bawah langit yang gelap tanpa bulan, sekumpulan pemuda duduk melingkar di atas tanah, wajah mereka penuh debu dan keringat. Mereka adalah anak-anak muda yang kehilangan keluarga, rumah, dan masa depan karena perang yang berkepanjangan. Dan malam ini, mereka mengambil keputusan yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
Di antara mereka, seorang pemuda berusia delapan belas tahun duduk dengan punggung tegak. Matanya tajam, menyimpan luka dan kemarahan yang tak pernah padam sejak malam pembantaian sebelas tahun lalu.
Hamzah.
Ia telah hidup di jalanan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bertahan hidup dengan kerja kasar, dan sesekali mencuri demi sesuap nasi. Namun, dendamnya tidak pernah pudar. Ia tahu bahwa suatu hari ia akan kembali untuk membalas semuanya.
Dan malam ini, hari itu akhirnya tiba.
Seorang pria paruh baya dengan janggut tebal dan sorot mata penuh wibawa berdiri di hadapan mereka. Ia adalah Panglima Darwis, salah satu komandan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang paling disegani.
“Kalian semua telah kehilangan sesuatu dalam perang ini,” katanya dengan suara berat. “Orang tua, saudara, rumah, tanah air... Tapi malam ini, kalian tidak akan menjadi korban lagi. Malam ini, kalian akan menjadi pejuang.”
Semua pemuda di sekelilingnya menundukkan kepala dengan penuh hormat.
Panglima Darwis melanjutkan, “Bergabung dengan GAM bukanlah jalan mudah. Kalian akan berlatih keras, bertarung tanpa kenal takut, dan bersiap untuk mati setiap saat. Ini bukan tempat bagi yang ragu.”
Ia menatap satu per satu wajah mereka, lalu mengambil sebilah rencong, belati tradisional Aceh yang melambangkan kehormatan.
“Ada satu aturan yang harus kalian ingat,” katanya sambil menancapkan rencong ke tanah. “Jangan pernah mengkhianati perjuangan ini.”
Hamzah maju ke depan. Tanpa ragu, ia mengambil rencong itu dan menggenggamnya erat.
“Aku bersumpah,” katanya dengan suara penuh tekad. “Aku akan berjuang sampai Aceh merdeka, atau mati sebagai syuhada.”
Malam itu, Hamzah resmi menjadi bagian dari GAM.
---
Latihan Pertama: Menjadi Pejuang Sejati
Pelatihan dimulai sebelum matahari terbit. Hamzah dan rekan-rekannya digiring lebih dalam ke hutan, jauh dari pemukiman. Di sana, mereka dilatih bertahan hidup dengan makan seadanya, tidur di tanah dingin, dan berlari berjam-jam tanpa henti.
Latihan pertama adalah ketahanan fisik.
“Lari!” seru seorang instruktur.
Hamzah berlari sekuat tenaga, tubuhnya berusaha menyesuaikan diri dengan medan yang terjal. Napasnya tersengal, tapi ia tak mau berhenti. Ia melihat ke depan—ada tebing curam yang harus mereka panjat.
Beberapa pemuda mulai menyerah, tubuh mereka tumbang ke tanah. Tapi Hamzah terus maju. Dalam pikirannya, ia melihat wajah ibunya yang tertembak, ayahnya yang tewas di depan matanya.
Ia tidak boleh berhenti.
Latihan berikutnya adalah menembak.
Hamzah diberikan sebuah senapan AK-47 yang hampir lebih besar dari tubuhnya. Ia belum pernah menyentuh senjata sebelumnya, tapi ia tahu satu hal—senjata inilah yang akan membawanya pada pembalasan.
Instruktur mendekatinya, memperbaiki posisi senapannya.
“Tenangkan napasmu,” katanya. “Tembak dengan hati.”
Hamzah membidik target yang dipasang di batang pohon. Ia menarik pelatuknya.
Dor!
Peluru pertama meleset.
Ia mencoba lagi.
Dor!
Masih meleset.
Hamzah menggertakkan giginya. Ia mengingat malam itu. Ia mengingat wajah tentara yang menembak ayahnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengarahkan senjata itu dengan lebih mantap.
Dor!
Peluru tepat mengenai sasaran.
Instruktur tersenyum tipis. “Kau belajar dengan cepat.”
Hamzah hanya diam. Ia tidak membutuhkan pujian. Ia hanya butuh balas dendam.
---
Pertempuran Pertama
Tiga bulan kemudian, Hamzah dan kelompoknya diberi tugas pertama mereka—menyergap patroli militer yang melewati sebuah jalan di pedalaman.
Malam itu, ia bersembunyi di balik semak-semak, tangannya menggenggam senapan dengan erat. Ia bisa mendengar langkah-langkah berat mendekat.
Dua truk militer melintas perlahan. Para tentara di dalamnya tertawa, tidak sadar bahwa maut mengintai mereka.
Panglima Darwis memberi isyarat.
“Tunggu... Tunggu... Sekarang!”
Ledakan terjadi.
Granat yang mereka tanam di jalan meledak, menghancurkan truk pertama. Suara tembakan menggema di udara, membelah malam yang sunyi.
Hamzah melompat keluar dari persembunyian dan mulai menembak. Adrenalin mengalir di tubuhnya. Ia melihat seorang tentara berlari, mencoba kabur.
Tanpa berpikir panjang, Hamzah mengangkat senjatanya.
Dor!
Tentara itu jatuh tersungkur.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Hamzah telah membunuh seseorang.
Dadanya naik turun, matanya terpaku pada tubuh yang kini tak bernyawa. Ada sesuatu yang dingin merayapi tubuhnya. Ia berpikir ia akan merasa puas, tapi yang ia rasakan hanyalah kehampaan.
Panglima Darwis menepuk pundaknya. “Kau sudah siap untuk ini.”
Hamzah hanya mengangguk. Malam itu, ia resmi menjadi seorang pejuang.
Jalan tanpa kembali telah ia pilih.