Perempuan dari Masa Lalu

618 Kata
Banda Aceh, 1997 Malam di Banda Aceh lebih tenang dibanding hutan tempat Hamzah biasa bertempur. Tidak ada suara tembakan atau ledakan granat, hanya deru kendaraan yang melintas di jalan dan suara azan dari masjid di kejauhan. Hamzah berdiri di sudut gelap sebuah gang sempit, mengenakan jaket lusuh dan sorban yang menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak boleh dikenali. Mata-mata pemerintah berkeliaran di mana-mana, dan kelompoknya baru saja kehilangan dua orang pejuang dalam penyergapan seminggu lalu. Namun, bukan itu yang membuatnya tegang malam ini. Ia berada di sini bukan untuk perang. Ia berada di sini untuk mencari seseorang. --- Luka dan Kenangan Langkahnya membawanya ke sebuah klinik kecil di pinggiran kota. Bangunan sederhana itu tampak remang-remang, hanya diterangi cahaya lampu minyak. Aroma obat-obatan bercampur dengan bau anyir darah. Hamzah menyusup masuk ke dalam, tubuhnya kaku. Di salah satu ranjang, seorang pemuda GAM terbaring dengan luka tembak di bahunya. Seorang perempuan berjilbab putih dengan tangan cekatan membalut lukanya. Saat Hamzah melihat wajah perempuan itu, jantungnya seakan berhenti berdetak. Itu Yasmin. Wajahnya tidak banyak berubah sejak terakhir kali mereka bertemu hampir dua puluh tahun lalu, kecuali tatapannya yang lebih dewasa dan sorot matanya yang penuh kelelahan. Yasmin menyadari kehadiran Hamzah dan menoleh. Mata mereka bertemu. Sekejap, Hamzah merasa dirinya kembali menjadi anak kecil yang dulu bermain di halaman rumahnya, berlarian di antara pohon-pohon kelapa bersama Yasmin. Ia ingat tawa mereka, suara lembutnya memanggil namanya. Tapi kemudian, ingatan itu tergantikan oleh bayangan api yang melahap rumahnya, suara tembakan, dan tubuh ayah ibunya yang bersimbah darah. Hamzah kembali ke dunia nyata. Ia bukan lagi bocah polos itu. Ia sekarang seorang pejuang. Dan Yasmin adalah seseorang dari masa lalu yang seharusnya tidak ia temui lagi. --- Percakapan yang Berbahaya “Hamzah?” suara Yasmin lirih, nyaris tidak percaya. Hamzah hanya diam. Ia melihat ke sekeliling. Ada dua perawat lain di ruangan itu. Terlalu berisiko untuk berbicara lama di sini. “Bisa kita bicara di luar?” tanya Yasmin. Hamzah mengangguk, lalu berjalan mengikuti Yasmin keluar dari klinik. Mereka berhenti di halaman belakang, tempat yang lebih sepi. Yasmin menatapnya, seperti ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi. “Aku tidak menyangka akan melihatmu lagi.” Hamzah menyilangkan tangannya di d**a. “Aku juga tidak menyangka kau ada di sini.” Yasmin tersenyum kecil. “Aku kembali ke Aceh beberapa tahun lalu. Aku ingin membantu. Aku tidak bisa tinggal diam melihat orang-orang kita terluka dan menderita.” Hamzah mengangguk pelan. Ia ingat bahwa keluarga Yasmin dulu mengungsi ke Medan saat konflik mulai memanas. “Tapi kau…” Yasmin menatapnya dengan cemas. “Kau benar-benar menjadi bagian dari ini, ya?” Hamzah tidak menjawab. Ia tidak perlu. Sorot matanya sudah cukup menjelaskan semuanya. Yasmin menarik napas dalam. “Hamzah, aku tahu apa yang terjadi padamu dulu. Aku tahu kau kehilangan keluargamu. Tapi—” “Apa kau di sini untuk menghakimiku?” potong Hamzah dingin. Yasmin terdiam sejenak, lalu menggeleng. “Tidak. Aku hanya ingin kau tahu bahwa perang ini... membunuh lebih banyak dari yang bisa kita hitung. Aku melihatnya setiap hari. Anak-anak, ibu-ibu, pemuda seperti kita… semuanya mati sia-sia.” Hamzah mengepalkan tangannya. “Tidak sia-sia. Kami berjuang untuk kemerdekaan.” Yasmin menatapnya dalam-dalam. “Atau untuk balas dendam?” Hamzah menegang. Ia ingin menyangkalnya, tapi kata-kata itu terlalu menusuk. Keheningan menggantung di antara mereka. Akhirnya, Yasmin menghela napas. “Aku tidak akan menyuruhmu berhenti. Aku tahu itu tidak mungkin. Tapi... jika kau terluka, atau butuh tempat aman, kau bisa datang ke sini.” Hamzah menatapnya. “Itu berbahaya.” Yasmin tersenyum tipis. “Aku tahu.” Malam itu, Hamzah pergi meninggalkan klinik dengan perasaan yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Untuk pertama kalinya sejak ia memegang senjata, ia mulai meragukan jalannya sendiri. Dan itu membuatnya takut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN