46. Lelah Menghadapinya

1379 Kata

Raya menutup panggilan lebih dulu. Samesta menghubungi perihal pemuda yang sedang makan dengan rakus di hadapannya. "Kamu beneran belum makan dari pagi ya?" Raya berdecak. Gara-gara marahan sampai menyiksa diri. "Cuma sarapan bubur. Orang kita kan kalau belum makan nasi belum makan namanya." "Bubur itu nasi juga, Lang. Nasi yang dihaluskan. Lagian ngapain sih kalian berantem segala?" dengkus Raya melihat bekas memerah di sebelah pipi Langit. Anak ini tiba-tiba datang mukanya sudah bad mood parah. Tidak cerita apa-apa, hanya diam melamun menghadap jendela. Namun kata Samesta, Langit kena tamparan keras Saluna. Entah apa masalah mereka sampai main kekerasan di depan umum. Langit malah terkekeh menyadari tatapan menyelidik Raya. "Kenapa kamu ketawa?" "Langit berantem sama Saluna

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN