Samesta segera berdiri begitu Handoko masuk ke dalam ruangannya. Pria bersetelan serba eksklusif itu melangkah percaya diri. "Pak Handoko, apa kabar?" sambut Samesta. Mereka berjabatan tangan. Seperti biasa Samesta merasakan aneh berhadapan dengan kliennya ini. Seakan mengenali padahal baru sekarang bertemu. "Baik." "Silakan duduk, Pak. Mohon maaf kemarin saya kira yang datang bukan Pak Handoko." Samesta malu telah menolak bertemu klien besar. Kemarin situasinya tidak memungkinkan. Kedua anaknya menangis bersamaan. Samesta tidak fokus sama sekali pada pekerjaan. "Tidak masalah, saya mengerti Pak Samesta sedang ada masalah." Samesta terheran. Kenapa orang ini bisa tahu? "Saya mendengar dua tangisan di dalan euangan Anda, Pak. Sepertinya jika paksakan kita bertemu untuk membaha

