Bantingan pintu belakang tertutup rapat. Sontak Samesta menoleh, menemukan Raya duduk dengan memangku tas laptop. Tatapan bertanya-tanya Samesta dihiraukan begitu saja. Biasanya Raya anti berangkat bersama ke tempat kerja dan memilih naik kendaraan umum. Tampaknya mood jelek Raya juga membuat malas naik bus kota. “Anterin aku ke kedai,” ujar Raya dingin tak membiarkan mulut Samesta yang terbuka hendak bicara gagal mengutarakan maksud. Daripada permintaan ucapan Raya terdengar seperti perintah. Setelahnya mereka diam sepanjang perjalanan. Hanya ada celotehan Sansan di kursi samping kemudi yang bercerita tentang imajinasinya. Beberapa kali Samesta melirik kaca rear view, kali saja Raya tengah menatapnya juga. Nihil, Raya sibuk membuka laptop di pangkuannya. Samesta berusaha berpikiran po

