Roh Bujana keluar dari kamar sembari tersenyum-senyum. Polassar dan Ahmed yang dilarang masuk olehnya, mencibir sinis dan membuang muka. Kesal melihat tampang Bujana yang berlagak seolah dia manusia yang baru saja memenuhi kebutuhan fisiknya. Padahal, dia hanya arwah gentayangan yang tidak merasakan apapun yang terjadi pada jasadnya. Sekarang, setiap menjelang tengah malam, Bujana tak mau lagi berkeliaran dengan dua temannya. Dia ingin privasi khusus bersama Marinka. Padahal meski diusir agar menjauh, dua temannya tetap mengintip sembari menembus dinding. Roh bisa melakukan apa saja di dunia manusia, meski hanya sebatas viewer saja. “Memang terasa?” tanya Ahmed menggoda. Bujana mengendik bahu. “Fisikku tidak, tapi jiwaku melayang. Marinka benar-benar wanita luar biasa. Tidak salah aku

