Chapter 3 : The Necklace (END)

604 Kata
Pria besar yang dari tadi menjadi Bodyguard menggendong paksa gadis kecil yang berlari ke arah ibunya, "... Tidak ada uang katamu? Baiklah, baik. Kita sudah sepakat untuk melunasinya dengan daging dan darah segar." Nada pria besar itu sebesar tubuhnya. "MAMA!" Gadis kecil itu berteriak mencoba berontak dari gendongan si pria besar. "Cukup!" Teriak tuan putri. Kata-kata itu membuat keheningan diantara kerumunan. Membuat pria b******n berpakaian rapi itu menoleh, "Huh?" "Eh? Kau ingin menolong mereka, gadis manis? Itu bagus. Simpelnya kau hanya harus memberi mereka bayaran sesuai dengan tagihannya, dan setelahnya kita harus pergi." Kata pria serba hitam melihat tuan putri yang mulai berdiri dari duduknya. Tuan putri berdiri, mengeluarkan benda yang dimana benda itu akan menjadi jaminan untuk membayar tagihan. "Aku tidak mempunyai uang, tetapi aku akan memberikan kalungku. Ini adalah kalung batu Iceblue dari surga, dan ini sangat berharga bahkan melebihi harga dari tagihan yang kau berikan kepada keluarga miskin ini. Ambil ini dan pergilah. Dan jangan pernah lagi kau datangi mereka." Kata tuan putri seraya menunjukkan kalungnya. "... Batu Iceblue. Gadis ini mungkin bisa memberikan lebih dari yang kita tagihkan, bagaimana jika kita membawanya?" Bodyguard itu bertanya kepada tuannya dan mulai melangkah maju tetapi ditahan oleh tuannya sendiri. "Tunggu sebentar, Ray." Tangan pria itu menahan tubuh besar si bodyguard dan berbisik. "Lihat penampilan lusuhnya. lihat bagaimana temprament nya gadis itu. Dengarkan perkataannya. Tidak diragukan lagi kalau gadis itu mungkin keturunan bangsawan. Aku tidak ingin terlibat terlalu jauh, dan kau tahu kita tidak akan mampu jika berperang dengan para bangsawan. Kita ambil saja kalungnya dan pergi." Pria itu berbisik. "Baik, baik. Kau selalu benar." Balas pria besar. "Baiklah. Hari ini anggap saja adalah hari keberuntunganmu. Dan kami akan segera pergi-- kami ada pekerjaan mendesak untuk dikerjakan. Ayo pergi, Ray." Kata pria berpakaian rapi seraya mengambil paksa kalung tuan putri. Mereka berdua pergi meninggalkan ibu dan anaknya serta kerumunan disana. "Terimakasih, terimakasih banyak gadis pemberani! kau menyelamatkan nyawa putriku-- aku tidak tahu lagi bagaimana hidupku jika tanpanya..." Ibu itu terharu seraya memeluk erat anak gadis kecilnya. "Aku tidak tahu bagaimana kata terimakasih yang cukup untukmu. Kau mendapat rasa syukurku yang tak terhingga, dan aku berharap Dewi Nera memberimu anugerah! Kau orang yang baik, Gadis yang teramat baik. Terimakasih." Si ibu meneruskan. Pria serba hitam berdiri, melangkah maju dan membisikkan sesuatu tepat di telinga kanan tuan putri. "... Kau mengorbankan satu satunya hadiah kelahiranmu dari orangtuamu hanya untuk orang yang bahkan sama sekali belum pernah kau temui. Kenapa?" Bisik pria serba hitam. "Itu hanya sebuah objek, benda itu tidak bearti bisa membawa orangtua kandungku kembali padaku. Itu hanya sebuah benda tidak lebih." Balas tuan putri dengan nada yang lemah, kepalanya tertunduk. "Tetapi hari ini, benda itu menyelamatkan satu orang gadis kecil untuk bersama dengan orangtuanya-- untuk mendapat sedikit kebersamaan lebih lama." Tuan putri meneruskan dan mulai melangkah maju keluar dari kerumunan. "Benda itu tidak berarti apa-apa. Tidak lebih dari sekedar objek. Mari lanjutkan perjalanan." Tuan putri menyeka matanya, satu bulir air mata turun. ****** Malam semakin naik, membuat langit malam semakin pekat ditambah dengan desiran angin malam membuat keadaan semakin dingin. Disalah satu kamar penginapan dilengkapi dengan satu lilin yang menerangi ruangannya tertidur di ranjangnya, seorang gadis cantik dengan rambut serba putih peraknya, tidak memakai pakaian apapun selain sebuah selimut yang menutupi tubuhnya. Gaya tidurnya seperti anak kecil meringkuk dan menghisap jempol tangan kanannya. 'Creeakk' pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, pria yang pakaiannya serba hitam masuk kedalamnya, memegang golok di belakang tubuhnya. "Mama..." Panggil gadis itu, ia masih tertidur. Pria itu memperhatikannya lalu memejamkan matanya, tangan kirinya yang sedari tadi memegang golok mulai menariknya keluar dari sarungnya. 'Sissss--' Bunyi golok yang ditarik keluar dari sarungnya. (Bersambung..)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN