11. Trial And Error

1378 Kata
(Tamara POV) Tak bisa ku percaya, mulut ini akhirnya mengutarakan ide gila yang terlintas dalam benakku pagi ini. Sesuai perkiraanku, Dinar dan Kak Damar akan terkejut dan tak mengizinkan aku untuk melakukan penyamaran sebagai Theodore. Bagi ku Theodore adalah segalanya, dia ayah sekaligus kakak bagiku. Sejak kami ditinggalkan oleh kedua orang tua kami, dan ketika kakek nenek kami dari pihak ibu pun pergi satu per satu meninggalkan kami. Disitulah Theodore merengkuh diri yang lemah ini. Kekecewaanku adalah ketika Theodore tidak terbuka kepadaku tentang perjanjian kontrak kerjanya di film action. Marah? aku sangat marah kepadanya. Berani sekali dia menandatangani perjanjian itu dengan sanksi yang begitu besar. Hampir aku jadi gila memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan uang. Sempat terlintas untuk melakukan hal yang merugikan aku sendiri supaya saldo di rekening cepat bertambah digitnya. Namun Tuhan masih menjernihkan pikiran ini dan terpikir hal gila, menyamar sebagai Theodore. Kekecewaan lainnya ketika inspektur kepolisian menyatakan bahwa ini hanya kecelakaan lalu lintas biasa. Penyebabnya karena driver dalam keadaan yang kurang fit, mengantuk sehingga tidak bisa mengendalikan kemudi dengan baik. Dan tanpa memikirkan perasaanku, mereka meminta izinku hitam diatas putih untuk menutup kasus kecelakaan ini. Pak Yapto, driver kami yang malang. Dia berkorban demi Theodore yang posisinya sedang duduk di belakangnya. Theodore dan Kak Damar duduk di kursi tengah mobil, sampai saat ini masih bisa bernafas dan berkumpul dengan kami. Theodore, bangunlah! Kau harus mempertanggung jawabkan semua ini, setidaknya kau harus membalas budi atas pengorbanan Pak Yapto. Bu Yapto dan adik-adik, Mohon maafkan aku dan kakak ku ini, Maaf kalian jadi kehilangan figur pahlawan dalam keluarga kalian. Suatu saat nanti, aku Tamara Morison akan mengungkap kasus ini kembali. * Joey berjalan dengan cepat, ia cukup kesal dengan atasannya yang bernama Brody Wang. Pagi ini Brody harus menghadiri rapat penting dengan Mr.Kim guna membahas short planning enam bulan kedepan. Hotel dan resort yang baru saja dibuka telah berjalan stabil dan mendapat sambutan yang hangat dari warga lokal serta turis internasional. Namun berbisnis adalah strategi bagaimana mendatangkan banyak keuntungan. Itu sudah mutlak hukumnya. “Astaga atasan satu ini minta digetok buku apa? Dia sudah tahu akan meeting dengan Mr.Kim tapi sampai sekarang masih molor.” gerutu Joey beriringan dengan derap langkahnya. (bunyi bel) “s**t” umpat Joey pada bos sendiri, “Tuan Brody.” panggil Joey berkali-kali di balik pintu kamar. Yang dipanggil masih bergelung manja dalam selimut. Pria itu menghabiskan malam yang panjang dengan beberapa karyawannya. Mereka mengunjungi sebuah bar yang terkenal di Jeju, mereka juga menyewa beberapa wanita penghibur untuk menemani mereka minum. Fakta, warga sana memang tipikal peminum yang kuat dan wanita adalah penghibur lelah mereka dalam bekerja. Sama halnya dengan Brody, ia cukup sering minum dan menyewa wanita penghibur. Joey, sungguh kasihan. Kalau Brody sudah masuk bar dan ditemani wanita berarti Joey harus menjadi obat nyamuk. Asisten sekaligus orang kepercayaan Brody itu harus memastikan keamanan Brody ditempat umum seperti itu. Panggilan Joey tak diindahkan oleh si pemilik kamar, ini waktunya menjadi sedikit kasar. Joey memanggil salah satu karyawan untuk membawa kunci cadangan.  ‘Sedikit kekerasan untuk si bos, that’s okay.’ Joey tersenyum sendiri. Pintu telah terbuka dan benar adanya, Brody Wang masih terlelap. Tubuhnya sungguh menyengat dengan aroma alkohol. Padahal sudah diperingati oleh Joey, namun Brody tidak menggubris, pria itu tetap meminum semua minuman beralkohol yang dituangkan oleh wanita penghibur. Joey pun memperingati wanita penghibur untuk tidak menuangkan lagi minum beralkohol namun wanita itu hanya berkata, “I’m sorry. This is my job sir.” Kekesalan Joey tergambar jelas pada air mukanya, segera ia mengambil gelas yang berisi air di atas nakas. Ia mengambil sedikit air ke tangannya untuk dicipratkan ke muka dibalik selimut. Percobaan pertama, gagal! Okay percobaan kedua, masih gagal! Yang ketiga, seluruh air di gelas pun disiramkan ke muka si bos, dan Berhasil. Seluruh sumpah serapah diucapkan oleh Brody untuk Joey. Orang yang terkena mulut pedas atasan hanya bisa tertunduk. “Maaf tuan, saya terpaksa karena dari tadi tuan hanya diam dan melanjutkan tidur.” ucap Joey. “Ya karena saya memang mengantuk, lalu apa urusannya dengan kau?” geram Brody, ia tak mau disalahkan. “Sudah nanti kita lanjutkan adu mulutnya tuan, segera bersiap tiga puluh menit lagi meeting dengan Mr.Kim” Jeoy memerintah Brody. “Awas kau ya Joey, ini belum berakhir!” Brody segera meluncur ke dalam kamar mandi. Joey segera mengambil tuxedo yang akan digunakan oleh Brody. Dan ini salah satu tugasnya juga untuk memperhatikan semua keperluan Brody. Brody telah selesai mandi bebek lagi, demi mengejar rapat penting dengan Mr.Kim. Segera ia berpakaian dan mereka langsung menuju ruang tempat diadakannya rapat. Rapat berjalan lancar, Brody tidak telat untuk menyambut kedatangan Mr.Kim. Selalu saja, Joey adalah sang penyelamat Brody dimanapun dan kapanpun. Brody dan Joey berjalan menuju ruang kerjanya, Brody berjalan duluan lalu Joey akan mengikutinya dari belakang. ‘Untung saja Joey membangunkan tadi, kalau tidak bisa malu sekali dengan Mr.Kim, apalagi orang Korea gila kerja dan sangat disiplin. Say thanks or not? nanti dia besar kepala lagi.’ Brody berbicara sendiri lalu melirik ke arah Joey. drt… drt… (Tuan Besar is Calling) “Selamat pagi tuan.” kalimat pertama yang diucapkan Joey kepada Omar Wang. “Joey, mana Brody?” tanya dia tanpa basa basi. “Sebentar tuan.” Joey memberikan telepon pintar itu kepada Brody. Pria itu mengambilnya dan menempelkan pada daun telinganya. “Ini aku pa. Ada apa?” tanya Brody dibalik sambungan. “Kamu belum memberi laporan ke papa, soal acara kemarin.” protes Omar dimulai. “Maaf pa, disini aku terlalu sibuk. Lagian Joey sudah membuat laporan dan mengirimnya lewat surel ke papa. Sudah dibaca belum?” tanya Brody. Brody telah meminta Joey membuat laporan dan segera mengirimkan lewat surel kepada Tuan Besar. Dan telepon itu hanya permintaan Ellia Wang. Wanita itu ingin memastikan pertemuan anaknya itu dengan Sherry Peterson. Ellia mengambil alih telepon, “Brody, ini mama. Kamu udah ketemu ama Sherry?” langsung saja ia bertanya. “hmmm… Sherry siapa ma?” ucap Brody datar. “Itu anak om Henry yang akan dijodohkan denganmu. Papa ngundang Om Henry untuk grand launching, terus Om Henry minta Sherry yang datang kesana. Kamu udah ketemu kan?” sekali mama Ellia menanyakan hal yang sama. “Seingat ku tidak ada. Aku tidak berbicara dengan wanita manapun yang bernama Sherry. Sudah ya ma, aku ada rapat. Bye!” Brody langsung memutus sambungan itu. ----- “Astaga anak ini benar-benar ya. Berani sekali memutus telepon mama pa.” Ellia mengadu kepada Omar. “Papa kan sudah bilang, nanti saja kita tanyain ke anaknya langsung. Lusa Brody akan balik ke Jakarta. Mama sih nggak sabaran” balas Omar menanggapi rasa kesal Ellia. “Okay, mama akan lebih bersabar dengan Brody mulai detik ini.” ucap Ellia lantang. “Semoga kali ini beneran ya ma.” harapan Omar, kalimat yang barusan diucapkan Ellia sudah sering didengarnya. Ada sedikit keraguan di benak Omar. - Joey menangkap telepon genggam yang dilemparkan Brody sesegera mungkin. Sudah biasa bagi Joey untuk melakukan hal ini. Joey sudah seperti peliharaan yang harus menangkap umpan dari sang tuan. Menangkap dengan cepat supaya dapat pujian dari tuannya. “Joey, jadwal saya apa saja hari ini?” tanya Brody yang sudah duduk di kursi sofa ruangannya. “Hanya rutinitas biasa tuan, memeriksa berkas dan memastikan pelaksanaan dari short planning hasil dari rapat tadi tuan.” Joey menjelaskan dengan detail. “Joey, di acara kemarin apa ada tamu yang bernama Sherry Peterson?” tanya Brody penuh selidik. “Saya harus melihat dulu buku tamu acara tuan. Ada apa tuan menanyakan hal itu?” tanya Joey balik. “Biasa tuan dan nyonya besar, orang tua dari Brody memastikan kalau anak mereka telah bertemu dengan wanita itu.” Brody menjelaskan dengan raut muka yang sangat jengkel. “Jadi tuan beneran akan dijodohkan dengan anak dari keluarga Peterson?” Joey mengkonfirmasi hal yang tidak seharusnya. “Kau ini, sudah saya bilang kan saya tidak mau dijodohkan.” sungut Brody. Joey menghela nafasnya, “So, tuan mau berbuat apa sekarang?” tanya Joey baik-baik. “Tolong kau lakukan penawaran yang kau ucapkan di pesawat waktu itu.” titah Brody. Joey berpikir sejenak, ‘yang mana ya? kebiasaan nih, kasih clue setengah-setengah.’ “Kau ini. Selidiki anak dari keluarga Peterson itu. Sekarang!” teriak Brody geram karena Joey lama mencerna perintah yang diberikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN