(Brody POV)
Setelah menerima telepon dari papa, membuat mood ku langsung drop ke level terendah. Ya lelaki yang sudah tidak muda lagi itu menanyakan hal tentang pekerjaan, seperti biasanya kami berkomunikasi. Namun aku terkejut ketika mama mencoba mengambil alih panggilan itu.
Aku senang karena bisa mendengar suara dari wanita, cinta pertamaku. Namun aku kesal bukan kepalang karena mama tidak menanyakan kabarku. Ia malah sibuk bertanya tentang anak orang lain.
Mama sungguh sudah kebelet wanna be a grandma, tapi aku tidak suka dengan caranya. Perjodohan, satu kata yang membuat citra diriku langsung tercoreng.
Aku ini Brody Wang, putra tunggal Omar Wang pengusaha sukses. Paras ku tampan nan rupawan bentukkan dari China-Indonesia. Mataku terwaris dari mama, belo. Kulitku putih mengikuti papa. Rambutku kecoklatan, tubuhku tinggi proporsional.
Satu keyakinanku adalah kalau aku ditendang dari keluarga Wang, aku masih bisa mengais rejeki dengan modal ketampananku. Makanya aku selalu bertingkah, kalau mama sudah membahas perjodohan.
Papa akan membelaku walau ia tidak menampakkan betul di depanku, tapi keyakinanku tidak pernah salah. Ia adalah orang pertama yang memaklumi ketidak sukaanku terhadap rencana perjodohan ini.
Ku akui hubungan dengan papa sedikit kaku. Kami tetap berkomunikasi layaknya keluarga. Namun dengan membicarakan pekerjaan, maka kami bisa ngobrol tanpa ingat waktu. Atau ocehan mama yang akan menyadarkan kami yang lupa akan waktu.
Bisakah aku menikah dengan wanita pilihan aku sendiri?
Bagaimana cara membuat mama agar ia menghentikan ide gilanya?
*
Sore ini Brody berenang di private pool yang ada di halaman kamar pribadinya. Ia hanya mengenakan boxer navy blue, dadanya dibiarkan tanpa helaian kain dan bidang abs sempurna terlihat nyata. Rambutnya yang kecoklatan itu dibiarkan basah dan bersatu dengan air. Satu kata, sexy!
Joey sudah mengumpulkan informasi dari Sherry Peterson, wanita yang akan dijodohkan dengan atasannya. Joey menghampiri Brody ke kamarnya lalu membuka sliding door menuju halaman kamar yang memuat private pool.
“Tuan, semua yang anda butuh sudah ada ditangan saya sekarang.” Joey mengangkat tangan kirinya yang berisi berkas dan sebuah tablet lipat.
Brody yang awalnya ada di dasar kolam langsung muncul ke permukaan air, “Good job!” pria itu mengangkat ibu jari dari tangan kanannya.
Segera ia keluar dan mengambil bathrobe untuk menutupi tubuhnya yang basah. Joey merasa ternodai, “Harusnya saya tidak melihat pemandangan kotor ini.” sungutnya.
“Apa kau bilang? Kotor?” bentak Brody tak terima dengan gumaman Joey.
“Saya ini lelaki normal tuan. Saya lebih memilih melihat seorang wanita yang memakai bikini.” Brody langsung tertawa mendengar perkataan dari Joey.
“Kau ini! oya nanti malam kita ke bar, saya ingin menikmati Jeju di malam hari. Tolong kau atur ya.” sekali lagi Brody mengatur Joey sesukanya.
“Tuan, besok kita akan kembali ke Jakarta. Tolong anda berdiam diri saja di kamar. Jangan ke nightclub lagi.” saran Joey kepada sang tuan muda.
“Apa gunanya kau disini Joey? Seperti tadi pagi, kau akan membangunkan saya dan membuat saya selalu tepat waktu.” Brody melengkungkan smirk devil.
Joey pasrah, ia belum pernah menang dari keinginan Brody. Dia selalu saja mengalah. Mengalah adalah keamanan yang akan mengalirkan uang ke dalam tabungannya.
Brody mulai membuka berkas yang dibawa Joey. Ia bisa melihat seluruh biodata dari Sherry. Ada foto dari gadis yang akan menjadi pendampingnya. Terlampir semua riwayat pendidikan dari Sherry.
“Jadi, gadis ini seumuran denganku? Satu almamater lagi? Sungguh ironi.” Brody terkejut melihat riwayat pendidikan Sherry. Ternyata dia dengan Sherry satu sekolah. Dia juga terkejut Sherry masuk ke universitas yang sama dengannya, walau beda jurusan.
“Apakah dia seorang penguntit?” selidik Brody bertanya sendiri.
Joey tidak menyela, ia membiarkan Brody melihat sendiri tanpa harus dijelaskan. Dia hanya akan membuka mulutnya kalau diminta oleh Brody, ‘sudah cukup hari ini aku terkena ocehan pedas darinya.’
“Jadi dia mengisi nama Henry Peterson di buku tamu. Apa kau tahu saat acara dia mengenakan baju warna apa? Apa saya berpapasan dengan wanita itu?” bertubi-tubi Brody mengeluarkan pertanyaan yang membuatnya sedikit penasaran.
Joey tidak menjawab Brody dengan lisannya. Dia membuka tablet dan memperlihatkan rekaman cctv saat acara berlangsung. Brody memperhatikan dengan seksama.
Joey menghentikan pemutaran video.
“Kenapa di pause?” protes Brody.
“Dia, wanita yang tertumpah wine lalu mengenai night dress yang dikenakan. She’s Sherry.” Joey bicara dengan tenang.
“Jadi dia yang tak sengaja saya senggol dan saya biarkan begitu saja, lalu menemui klien tamu yang lain.” Brody paham sekarang. Ia juga ingat akan kejadian itu.
Brody memang jarang menghafalkan orang dan kejadian dalam pikirannya, kecuali itu penting. Namun ia bisa dengan cepat teringat sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.
“What will you do?” Joey mulai penasaran. “Just wait and see!” balas Brody.
*
Omar dan Ellia sedang menikmati dinner bersama. Walau tidak muda lagi, namun Omar masih romantis kepada Ellia. Seperti sekarang ini, dia mengajak istrinya itu untuk candle light dinner di salah satu lounge resto terkenal di kota ini.
“Pa, kita kayaknya harus mengadakan pertemuan keluarga deh dengan Henry.” Ellia mulai membuka pembicaraan tentang rencana perjodohan Brody dengan Sherry.
“Jangan dulu ma. Kita pastikan Brody mau atau dia ada pilihan sendiri.” usul Omar Wang.
“Itu kelamaan Pa. Selama ini apa kita pernah lihat Brody bawa gandengan cewek ke hadapan kita? Nggak kan, yang ada malah Joey yang digandeng kemana-mana” kesal Ellia teringat tingkah laku Brody.
“Ya sudah terserah mama saja. Tapi papa tidak mau ikut campur ya, kalau Brody marah sama mama nanti.” Omar berkata seolah tidak mau ikut campur drama ibu dan anak.
Ellia tersenyum cerah, ia telah mengantongi izin dari bapak suami satu ini, “Papa tolong undang Henry dan anaknya ke rumah besok malam untuk dinner.”
Omar langsung tersedak, makanan yang ada dalam mulutnya sedikit keluar, “Besok?”
“Iya besok. Lebih cepat lebih baik. Semakin cepat Brody menikah, maka semakin cepat aku dapat cucu.” Ellia berkata dengan ringannya.
Omar tidak membalas lagi. Ia tahu percuma saja dirinya melarang bu istri satu ini. Yang ada nanti Ellia merajuk dan Omar tidak bisa memeluk Ellia dalam tidurnya. Omar memilih untuk melanjutkan makannya.
“Pa, jangan lupa chat Henry. Sekarang aja deh, mama pengen tahu responnya Henry.” Ellia memaksa Omar untuk melakukan perintahnya.
Peralatan makan itu diletakan, tangannya beralih ke telepon genggamnya. Ia mulai chat dengan Henry.
(Chat Screen)
-Hen, aku mengundangmu dan anak perempuanmu besok malam untuk datang ke rumah kami. Membicarakan rencana perjodohan anak kita. Apa kau bisa?- Omar.
-Tumben dadakan sekali?- Henry.
-Kau tau lah Ellia istriku itu bagaimana, coba kau pastikan anakmu bisa atau tidak?- Omar.
-a moment- Henry.
#A few moments later
-Besok malam, aku dan anak perempuanku akan berkunjung ke rumahmu- Henry.
-Oke, kami tunggu. Terimakasih Hen- Omar.
*
Ellia sungguh berbunga-bunga ketika matanya memperhatikan layar smartphone sang suami. Segera ia mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi Omar, “(kiss voice) makasih ya pa.”
Brody sudah meninggalkan bandara Jeju menuju bandara Jakarta. Jet pribadi Wang Group telah menjemputnya. Dia mengenakan tuxedo rapi seperti biasanya. Di hidungnya sudah bertengger kaca mata hitam. Percayalah, dibalik si hitam itu ada lingkaran hitam disekitar matanya.
Brody dan Joey dan beberapa karyawan lainnya mengunjungi pub and bar yang terkenal di Jeju. Mereka juga ditemani beberapa wanita penghibur. Brody ingin mengadakan party dadakan sebelum dirinya kembali ke Jakarta.
Mereka party sampai pukul 2 pagi, berpuluh-puluh gelas mereka tenggak. Gelas yang tentunya berisikan minuman beralkohol tinggi. Mabuk? sudah pasti. Cuma Joey yang sadar diantara pria-pria itu.
Brody mulai meracau tak jelas,
“perjodohan”
“Brody dijodohkan”
“Seorang Brody”
“Tega sekali mama”
“Aku Brody!”
dan masih banyak lagi kata-kata yang diucapkan Brody. Dengan suara yang parau dan bertingkah impulsif.
‘Kenapa bos aku harus dia sih? Lebih baik tuan besar saja yang aku urus. Bolehkah aku berganti bos?’ Joey sangat kesal dengan tingkah impulsif Brody. Ingin rasanya dia meninggalkan Brody sendiri disini.
Brody yang dibawa pengaruh alkohol akan tiba-tiba memeluk orang yang ada di dekatnya. Bisa juga dia tiba-tiba menangis sendiri. Dia juga akan berkata-kata sendiri. Bahkan dia bisa mengecup dinding, parahnya dia hampir menciumi Joey.
Untung saja Joey selalu membawa sebuah squishy kecil dalam kantongnya. Jadi kalau Brody mulai memonyongkan bibirnya, si squishy tak berdosa yang akan memanjakan bibir Brody.
Brody dan tim sudah menginjakkan kaki di Jakarta. Si hitam memang penyelamat Brody, selain Joey. Benda itu selalu membuat aura ketampanan Brody melesat ke level tertinggi.
“Tuan, kita akan bertemu dengan tuan dan nyonya besar di kantor pusat.” Joey memberitahu jadwal yang harus dikerjakan Brody.
“Untuk apa?”
“aaa… tak usah kau jawab, saya sudah tahu jawabannya!” belum dijawab Joey, Brody sudah menutup mulutnya secara tidak langsung.
“Okay ma, aku turuti keinginanmu. Tapi tidak semudah itu mamaku sayang!” gumamnya Brody.
Kedatangan Brody langsung disambut dengan hormat oleh para karyawan Wang Group. Dia melangkah dengan pongah dan menatap lurus kedepan.
Sudah biasa bagi karyawan melihat Brody bertingkah begitu.
‘See! seorang Brody yang terhormat harus berakhir dalam lingkaran perjodohan yang diatur oleh mama. Tidak semudah itu Elliaso...’ Brody melengkungkan smirk devil yang menakutkan.
Ellia langsung memeluk putra semata wayangnya, “Welcome back my lovely son!”
“hmmmm...” pria yang tadinya mau marah-marah sama wanita ini malah sebaliknya. Ia kalah lagi dari sang mama.
Hal ini selalu dilakukan Ellia kalau sudah lebih dari lima hari tidak bertemu Brody. Dia akan memeluk dengan erat, tak peduli bapak suami yang disana melihat dengan jengah.
“Time up” Omar berkata seraya melihat rolex di lingkaran tangan kirinya.
“Ayo nak, duduk disini.” Ellia menggiring sang putra. Brody pun manut mengikutinya.
“Gimana Jeju indah kan, baguskan buat dijadiin tempat berbisnis?” tanya Ellia basa basi.
Brody kembali ke mode devil, “Sudahlah ma. Nggak usah basa basi bahas kerjaan. Aku tau kalau mama tidak tertarik akan hal itu. Jadi apa mau kalian sekarang?”
“Boy, bukan kalian. Tapi mama!” interupsi tiba-tiba dari Omar.
Ellia langsung menatap tajam ke arah Omar, yang ditatap malah acuh saja. Ia memilih berpura-pura tidak tahu.
“Nanti malam kamu datang ke rumah ya. Papa dan mama sudah mengundang keluarga Peterson untuk makan malam dirumah.”
“Datang ya nak?” Ellia memohon dengan lirih, senjatanya dikeluarkan lagi.
Brody memutar bola matanya malas, tapi mau bagaimana lagi. She’s his mom. “Baiklah. Sebagai putra terbaik dari mama. Brody akan datang memenuhi jamuan makan malam itu.” ucapnya malas.
Ellia kembali memeluk Brody yang tengah duduk disampingnya, “Jam 7 tidak boleh telat ya!” peringatan dari mulut Ellia.