13. Dinner With Stalker

2108 Kata
(Sherry POV) Malam ini aku sedang memeriksa tumpukan berkas yang lumayan tinggi. Kedua mata ini mulai menelusuri kata per kata dalam bait yang ada di berkas.  Nadila? dia gadis yang baik tapi aku tidak suka dengan sifat keponya. Dia adalah teman dari sekretarisku yang dulu. Bedanya mereka adalah sekretarisku yang dulu tertutup dan profesional, sedangkan Nadila dia orang ceria, kepo tapi aku salut dia mampu bekerja dengan baik untukku yang berbanding terbalik dengannya. Ku lihat ke sisi kanan mejaku dimana letak telepon genggamku, layarnya memuat nama yang kukenal, Papi. Ya sebutan dariku untuk Henry Peterson. Laki-laki ku yang telah merawatku dengan kasih sayang versinya. Mami pergi meninggalkan aku yang waktu itu sedang menempuh pendidikan sarjanaku. Awalnya aku marah terhadap papi, kenapa dia menyembunyikan penyakit mami. Namun setelah ku tahu alasannya, aku mulai berdamai dengan papi. Mami memanglah seorang wanita kuat yang pernah mengisi hidupku. Mami pernah berkata seperti ini, ‘Jadilah orang yang kuat untuk mewujudkan mimpimu. Jangan pernah tunjukkan kelemahan apapun di depan orang lain. Berbuat baiklah terhadap orang yang telah mengasihimu.’ Papi, orang yang kaku dan tidak bisa membangun sebuah obrolan hangat beda banget sama mami. Tetapi perlahan papi mulai belajar untuk berkomunikasi yang baik dan hangat padaku, walau terkadang kaku. Ku ucapkan terimakasih karena mau berubah untukku setelah mami pergi. Setidaknya aku masih merasakan kehangatan dalam hidupku. Aku sungguh senang, papi mengajakku dinner besok malam. Namun semakin berbunga di hati kala papi berkata, ‘kita dinner di rumah keluarga Wang.’ Keluarga Wang, berarti itu adalah keluarga yang memintaku menjadi menantu di keluarga mereka. Aku tahu semua itu dari papi. Bagai tertimpa durian runtuh, senang bukan main. Dengan mereka mengajak dinner keluarga berarti mereka serius dengan keinginannya. Brody Wang, laki-laki yang tak pernah luput dari mataku. Aku selalu tahu apapun yang dilakukannya dan apa yang akan dikerjakannya. Agresif? Posesif? Stalker? apapun panggilan untukku, aku terima saja. Karena dengan melakukan itu, aku mendapat moodboster dalam menjalani hari-hariku. * Brody sudah memasuki ruang kerjanya. Dia langsung menghempaskan diri pada singgasana kehormatan. Lelah karena perjalanan dan lelah menghadapi sikap mama, semuanya menyelimuti Brody. Joey menghampirinya membawa beberapa berkas. “Tuan” Brody melihat sekilas. “Ini berkas detail pengerjaan film action, disana sudah terjabarkan tentang pengeluaran film dan pemasukan film. Film telah selesai melakukan script reading, sekarang semua kru dan pemain memasuki tahap syuting. Lokasinya di beberapa kota di Indonesia, Lembang, Toraja, dan Lombok.” Brody mulai membuka berkas yang diberikan Joey. Mata elang itu menelusuri semua kertas. Tangan Brody terhenti pada lembaran yang memuat para pemain film, ‘Sepertinya pria ini mirip dengan seseorang.’ “Tuan, saya masih belum paham. Kenapa anda mau berinvestasi dalam dunia entertainment? Tanggung jawab seorang produser film itu berat tuan. Apalagi kita belum pernah melakukan hal itu.” pria itu membuyarkan lamunan Brody. “Saya tahu ini masih terasa asing untuk saya, karena memang baru kali pertama. Tapi saya rasa Wang Group bisa membuka anak perusahaan yang bergerak dibidang Entertainment. Makanya saya Trial and Error pada film action ini” “Sutradara handal pasti dapat membuat film yang bagus dan berkualitas. Dan saya sebagai produser film yang amatiran bisa sedikit bernafas lega” tidak ada keraguan dalam setiap kata yang diucapkan Brody. “Saya memang selalu kalah dari tuan,” ucap Joey. “Mana ada kisahnya tentang tuan yang dikalahkan oleh  bawahannya sendiri Joey?” balas Brody datar namun menusuk. “Jangan lupa, jam 7 anda harus dinner di rumah utama Wang. Anda harus bertemu dengan wanita anda tuan” Joey berkata seraya mengulas senyuman mengejek. Brody tak terima atas perlakuan bawahannya itu, langsung saja buku motivasi yang tebalnya serim melayang ke arah Joey. Pria itu berhasil menghindari serangan yang akan membuat benjolan besar pada dahinya. Joey tak hentinya tertawa dan pergi sesegera mungkin dari ruangan bos garang. * “La, ini tolong kasih ke general manager keuangan. Minta periksa ulang!” Nadila menerima berkas yang disodorkan padanya. “Baik nona” balas Nadila. Sherry pergi setelahnya, “Nona mau pergi kemana?” teriak Nadila menghentikan langkah Sherry. Wanita itu langsung berbalik. “Saya mau touring ke lantai dasar. Sudah lama rasanya.” balasnya dengan seulas senyum tipis. ‘Tumben nona senyum? nggak beres nih.’ Nadila pun meminta izin untuk ikut menyusulnya. “Nona, nanti saya kesana juga ya setelah memberikan berkas ini” ucap Nadila kepada Sherry. “Ya sudah. Yang penting kerjaan beres.” balasnya singkat. Lantai dasar dari gedung Pete Fashion ini digunakan untuk selling product. Bisa dibilang new product akan langsung ditemukan daripada di toko cabang. Lantai ini dialih fungsikan dari lobby biasa menjadi toko product setelah Sherry menjabat sebagai direktur Pete Fashion. Gedung ini memuat sepuluh lantai, dimana lantai dasar untuk selling product dan lantai lainnya digunakan sebagai kantor. Alasan Sherry sederhana mengubah alih fungsi lantai dasar, ia ingin memasarkan langsung produk baru pada mannequin dan ia bisa melihat tanggapan dari customer. Nadila sudah berjalan mengekori Sherry yang ada di depannya. Beberapa karyawan selling product terkejut akan kedatangan Sherry yang tiba-tiba. ‘Nona Bos mau sidak ya?’ itulah arti dari tatapan para karyawan. Langkah Sherry terhenti di depan mannequin yang mengenakan dress selutut model sabrina ruffle dengan potongan slim fit berwarna hitam. ‘oke makan malam kali ini pake ini aja. Semoga Brody menyukainya.’ “Ini tolong diturunkan, lalu masuk in ke papar bag. Sekarang!” tunjuk Sherry tepat didepan patung. “Segera nona.” balas karyawan wanita. Ia bergegas melakukan perintah Sherry. Karyawan itu langsung memberikan paper bag yang ditunggu, segera Nadila menerimanya. Sherry berlalu menuju ruangannya di lantai paling atas. Nadila meletakkan paper bag itu di atas nakas dekat gantungan blazer Sherry. “La, apa jadwal saya selanjutnya?” tanya Sherry datar. “Hari ini cukup nona. Anda sudah bisa beristirahat.” balas Nadila setelah melihat reminder schedule Sherry. “Okay, saya langsung pulang saja. Untuk besok kamu kirim chat aja ke saya.” Sherry bangkit dari kursinya mengambil blazer dan paper bag. “Hati-hati nona.” ucap Nadila mengiringi langkah Sherry keluar dari gedung Pete Fashion. Sebuah mobil sedan hitam mewah sudah terparkir di depan gedung, terlihat Henry dan supir pribadinya. Ia menjemput putri kesayangannya untuk menuju rumah. Sherry mengulas senyum, ia mengecup pipi kiri dan kanan orang yang dipanggilnya papi. ”Nggak usah dijemput Pi. Aku bawa mobil sendiri.” protes Sherry pada Henry saat sudah duduk dalam mobil. “Ini hari yang spesial untukmu. Jadi papi akan memanjakanmu kali ini.” Henry baru saja landing dari business trip, ia baru saja meninjau cabang Pete Fashion yang ada di Malaysia dan Singapura. “Kita bisa bertemu di rumah. Papi kan baru pulang dari sidak cabang.” balas Sherry. “Tak apa. Kamu malu dijemput oleh Papi sendiri?” tanya Henry menyelidik. “Tidak. Aku bahagia. Makasih Pi.” Sherry tersenyum manis ke arah Henry. * Ellia dan para maid sedang menyiapkan hidangan khas negara gajah putih, Thailand. Ellia ingin memanjakan lidah dari calon menantunya yang pernah tinggal disana. Ellia menjatuhkan pilihan ke Tom Yum Po Taek berisikan aneka jenis seafood yang dipadukan dengan kuah bersantan dengan rasa pedas dan gurih.  Gai Yang yaitu ayam dilumuri bumbu dan rempah khas Thailand kemudian di marinasi, setelah itu dibakar sampai kecoklatan, dipotong-potong lalu dipadukan dengan nasi Hainam atau nasi putih biasa. Moo Beef yaitu sate aslinya pake daging babi namun Ellia menggantinya dengan daging sapi. Daging dipotong dadu sedang, di marinasi dengan bumbu yang telah dihaluskan, diamkan kemudian dipanggang sampai matang. Ada pula Larb yakni salad sayuran yang dipadukan dengan daging cincang. Sayurannya ada lotus, kucai, lobak, bombay kemudian daging ayam yang dibumbui direbus lalu dicincang, diberikan sedikit kecap asin dan jeruk nipis. Rasanya sungguh menyegarkan lidah. Lalu dessert mama Ellia membuat Mango Sticky Rice, namun nasi diganti dengan puding dan ada lelehan fla diatas mango. Terakhir ada Thapthim Krop atau disebut juga Red Rubies, yaitu air kastanye yang bekukan lalu dibentuk kubus kemudian disirami santan instant. “Woah mama banyak banget masaknya. Kelihatannya enak-enak nih.” puji Omar yang sudah berdiri disamping Ellia. “Ya dong pa. Kan mama mau menyambut calon mantu mama.” ucap Ellia penuh semangat seraya tertawa kecil. Brody sudah datang dan duduk di kursi tengah. Ia memilih untuk melihat berita di layar datar berwarna dibandingkan bergabung dengan papanya yang sedang menggoda Ellia, his mom. Tak lama keluarga Peterson masuk dan bergabung dengan Brody. Omar senang akhirnya sahabat sekaligus rekan bisnisnya sudah datang. Mereka akhirnya berpelukan ala pria. Ellia menyalami Henry, ibu itu langsung memeluk Sherry yang tengah berdiri disamping Henry. Ellia juga menciumi pipi kanan dan kiri Sherry. Brody hanya berdiri dengan malas dan senyum yang kaku. Ia menjabat tangan Henry dan Sherry bergantian. Ellia langsung membawa mereka ke ruang makan untuk menyantap hidangan yang dibuatnya. Ellia, mengambilkan makanan untuk semuanya secara bergantian. Senyum manis itu tak luntur dari bibirnya. Brody hanya menatap malas, karena Sherry curi-curi pandang ke arahnya. ‘Jadi ini dia sosok penguntit ku?’ Brody membalas tatapan Sherry dengan tajam, segera Sherry memalingkan wajahnya yang bersemu merah. “Gimana Sherry, enak masakan tante?” tanya Ellia disela makan. “Enak banget tante. Aku juga udah lama nggak nyicip masakan Thailand. Makasih ya tante.” balasnya seraya tersenyum manis. “Syukurlah kalau cocok dengan lidah kamu. Nanti tante bikinin lagi masakan yang lain. Jangan sungkan ya, kamu juga boleh request kalau lagi pengen makan apa.” Ellia mengajukan diri sebagai chef pribadi Sherry, mungkin! Omar dan Henry hanya bertukar tatapan dan saling tersenyum satu sama lain. Tidak mungkin Omar akan membahas masalah pekerjaan sekarang, yang ada Ellia akan mengangkat sendok lalu memukulkan benda pipih itu ke piringnya. Henry cukup terharu melihat kemesraan Omar dan Ellia, sesaat ia terkenang maminya Sherry. Acara makan pun selesai. Mereka telah berpindah ke ruang tengah untuk menikmati dessert Thailand. Para maid telah menyiapkannya di atas meja. “Sherry, kamu jadinya nerusin bisnis orang tua ya?” tanya Ellia kepada Sherry yang duduk di hadapannya. “Iya tante. Siapa lagi yang nerusin kalau bukan aku.” balasnya malu-malu. “Hen, gimana peninjauan kamu kemarin lancar?” tanya Omar, lagi-lagi  bisnis. Ellia langsung menyikut lengan Omar. Henry terkekeh melihat Omar yang meringis, “Lancar. Makanya aku bisa datang memenuhi undangan kalian kan.” ucapnya dengan senyuman. “Sherry udah punya pacar?” Ellia langsung tancap gas. Cukup basa basinya. “Belum tante.” balasnya sambil menatap Ellia, terlihat pipinya yang putih bersemu merah walau ada blush on yang teroles disana. “Sama dong, anak tante nih. Brody belum ada juga. Makanya tante dan om mau kamu bisa berjodoh sama anak kami.” Ellia berkata dengan mudahnya. Ia juga menggenggam tangan Brody. “Ma, kita baru ketemu ini. Kenapa langsung bahas jodoh?” protes Brody, ia menampilkan raut muka kurang sukanya pada Sherry. “Ya kan mama nggak minta kamu nikah besok sama Sherry. Kalian bisa kenalan dulu terus tiga bulan lagi baru nikah.” Ellia masih tersenyum kepada keluarga Peterson. “Apa ma? Tiga bulan lagi aku nikah? Are you kidding me?” teriak Brody. Ia keluar dari obrolan itu dan menuju tepian kolam renang. Sherry terkejut, Henry pun heran. Ellia mengejar Brody. Omar bertahan dan tersenyum kikuk kepada mereka. “Brody memang agak temperamen. Dia baru pulang dari Jeju, mengurus grand opening hotel, ” Omar menetralkan suasana dengan membahas bisnis.  Henry teralihkan, alasan yang diberikan logis, “Ya Mar, gak apa-apa. Mungkin istrimu terlalu memaksakan kehendaknya. Mana mungkin Brody akan menolak permintaan mamanya kan.” “Kau benar Hen. Istriku itu sungguh wanita pemaksa!” mereka akhirnya tertawa. “Om, Pi, aku ke toilet dulu ya.” pamit Sherry kepada para bapak. Ia pergi ke toilet yang kebetulan berdekatan dengan sisi kolam renang. Ia sungguh terkejut mendengar kala Brody mengatakan kalau, “Aku nggak bisa menikah dengan dia ma. Aku sudah punya seseorang di hatiku. Dia penyemangatku. Dia juga orang terhormat ma. Dia segalanya bagiku. Jadi tolong mama dan papa membatalkan perjodohan gila ini” “Mama nggak percaya sama kamu Brody. Pasti kamu hanya berbohong, untuk menghindari perjodohan kamu dengan Sherry kan?” “Ma, aku nggak bohong.” “Apa kurangnya Sherry sih? Dia cantik, berpendidikan, perhatian juga sama papinya, dan kalian juga serasi mama lihat.” “Ma, aku nggak cinta sama dia. Wanitaku lebih dari segalanya bagiku.” “Sudahlah Brody, mama nggak mau tahu. Sekarang juga kamu harus balik kesana. Jangan buat mama malu!” “Ma, aku beneran udah punya pacar. Gimana supaya mama percaya sih?” “Bawa wanita kamu itu ke hadapan kami, orang tuamu!” Ellia menarik Brody untuk kembali bergabung dengan yang lain. Sherry mempercepat langkahnya untuk kembali ke ruang tengah. -------------------------- Ada yang pernah mengalami kejadian seperti Sherry? Yang tadinya deg degan buat ketemu calon, eh... tiba-tiba langsung terhempas. Si calon sudah ada seseorang dihatinya ternyata :((
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN