Cyra telah menutup semua pintu di rumah makan. Dari semua pekerja, ia memang yang paling terakhir pulang. Ia perlu melakukan pembukuan untuk penjualan hari ini. Bagi Cyra kos adalah tempat beristirahat, ia tidak mau membawa pekerjaan di sana selain tugas kampus tentu saja.
Berjalan keluar, dahi Cyra langsung membentuk kerutan begitu melihat seseorang yang sedang berbicara dengan tukang parkir di rumah makannya.
"Mbak!" teriak tukang parkir sambil mengangkat tangannya seakan menyuruh Cyra datang ke sana. "Ini, sudah ditunggu, Masnya!" teriaknya lagi.
Langkah kaki Cyra memelan, ia ragu mau ke sana atau tidak. Tapi jika ia tidak ke sana, ia nanti dikira tidak sopan. Padahal orang itu sudah lihat dan melempar senyum ke arahnya. Jika memikirkan hal itu, tidak ada pilihan lain, 'kan, selain datang.
Tiba di depan dua orang laki-laki berbeda umur. Cyra sedikit menunduk sebelum kemudian membalas senyum.
"Ya sudah, saya tinggal dulu ya, Mbak, Mas. Saya permisi." Cyra mengenali Pak Wardi, pria yang berprofesi sebagai tukang parkir itu dulu mendatanginya dan meminta izin untuk menjaga parkiran di rumah makan yang ia kelola. Cyra pun mengizinkannya. Semua hal yang ada di tempat parkir sepenuhnya tanggung jawab Pak Wardi. Mengenai harga parkir, tergantung Pak Wardi yang menentukan harga karena nantinya, semua itu akan jadi milik beliau, tidak ada sangkut pautnya dengan rumah makan. Dan Cyra lihat, harga parkir dari Pak Wardi cenderung masih wajar, jadi tidak ada masalah.
"Mau pulang?"
Cyra menganggukkan kepalanya. "Iya, Kak."
"Jadi, mahasiswi baru tahun ini, ya?"
"Tidak bisa disebut baru juga sih, Kak. Kan sudah tiga bulan belajar di sana," balas Cyra, senyum tak surut dari wajahnya. Capek sih senyum terus, mau bersikap jutek, 'kan tidak enak.
"Terhitung masih baru kok."
Tidak mau mengalah, Cyra tidak suka ini.
"Iya, juga sih, Kak." Cyra menjawab seadanya. Tidak mau ambil debat panjang. Jujur, ia ingin cepat pulang, ia mau rebahan. Telinganya saja sudah mendengar jika ranjang di kos-kosannya tengah memanggil dirinya untuk cepat pulang.
"Kita belum berkenalan. Perkenalkan, namaku Rio, Cyra."
Cyra tak heran bagaimana si laki-laki bernama Rio mengetahui namanya. Tanya aja Pak Wardi, huh.
"Salam kenal, Kak Rio."
"Kenapa tidak tanya aku tahu namamu dari mana?"
Cyra menggeleng. "Dari Pak Wardi, 'kan? Apa saja yang beliau bilang?"
Rio tertawa kecil. Ia memaklumi adik tingkatnya yang langsung ke intinya ketika berbicara. Namanya juga baru kenal.
"Cyra, mau aku antar pulang?"
"Tidak perlu, Kak. Kos an aku tak jauh dari sini kok. Tinggal jalan kaki saja." Cyra menolak halus tawaran itu. Syukurnya, Rio tidak memaksa.
"Baiklah." Rio mengangguk. "Cyra suka es krim? Tidak jauh dari sini ada toko es krim buka. Mau ke sana besok?"
Boleh ditolak tidak sih.
"Aku harap Cyra tidak sibuk."
Wah, sudah diultimatum supaya tidak ditolak nih.
"Boleh."
Cyra pada akhirnya terpaksa mengiyakan. Setelah itu, Rio pamit pergi. Cyra merasa lega untuk sesaat. Ya, untuk sementara ia merasa aman. Entah kenapa, ada rasa tidak nyaman di dekat Rio. Cyra tahu jelas sifat laki-laki, hanya satu laki-laki yang Cyra tidak tahu, sifat dosennya itu. Susah dijabarkan pemikirannya, terlalu aneh, suka nuduh lagi.
Dengan lemas, letih, lunglai, Cyra berjalan memasuki gang berukuran sedang sebelum ke tempat kos. Kos Cyra berada di belakang diantara dua bangunan rumah bertingkat milik si pemilik kos. Sebentar lagi, ia akan bertemu rindu dan berpeluk mesra bersama ranjang serta teman-temannya. Ia jadi tidak sabar.
Kos tempat Cyra terbilang rapi, bersih dan mendapat pencahayaan yang baik walau berada di dalam gang. Ada 7 kamar kos di sini. Cyra menempati kamar paling ujung di sebelah kanan. Dari tujuh kos semua sudah terisi. Diantara para pekerja di rumah makan, hanya Cyra yang ada di sini yang lainnya ada yang mendapat kos lebih dekat dengan berjalan kaki hanya 5 menit sementara Cyra sendiri agak sedikit jauh, menempuh 15 menit saat berjalan kaki.
Hampir sampai di depan pintu kamar kosnya, Cyra melihat siluet laki-laki berdiri di depan pintu kamar kosnya. Cyra tidak tahu siapa itu, ia pun dengan was-was mendekat secara perlahan. Jika sosok laki-laki itu menyeramkan, ia akan berteriak lalu kabur.
Semakin dekat, Cyra dikejutkan saat laki-laki itu menoleh.
"Mas Rendi!"
Ternyata orang dikenal, Cyra menghembuskan nafas lega.
"Kenapa Mas Rendi ke sini? Bukannya tadi pulang sama Kak Mira." Cyra terheran-heran mendapati Rendi sudah berada di depan pintu kosnya, seorang diri lagi.
"Sudah, Kakakmu lupa memberikan titipan ibumu."
Mendengar kata titipan, mata Cyra langsung tertuju pada tangan Rendi. Ada dua kantong kresek hitam yang dibawa.
"Titip apa, Mas?"
"Tidak tahu."
Cyra menggeleng bodoh atas pertanyaannya. Tidak ada orang yang berani membongkar barang titipan orang lain, bukan? nanti dibilang tidak amanah.
"Ah, terima kasih ya, Mas." Cyra mengambil dua kantong kresek tersebut dari tangan Rendi.
"Baru pulang jam segini?"
"Ah, tadi ngobrol dulu sama teman, Mas. Di depan rumah makan saja kok."
"Pinggir jalan?"
"Iya," jawab Cyra sambil membuka pintu kos-kosannya. "Mas mau masuk dulu?" tawar Cyra sekedar basa-basi, ia merasa tidak enak bila tamu dibiarkan pergi begitu saja. Namun dalam hatinya, ia ingin suami Kak Mira segera pergi. Sungguh, ia rindu ranjangnya.
"Ya."
Basa-basi Cyra diterima langsung tanpa basa-basi. Cyra tercengang sesaat tapi ia tidak bisa menolak juga.
"Silahkan, Mas."
Tipe kosan Cyra memiliki dua ruang kosong, dapur, serta kamar mandi. Satu ruang digunakan sebagai ruang tamu, satu ruang yang gabung bersama dapur digunakan sebagai kamar tidur. Di samping dapur ada kamar mandi. Dan diantara ruang tamu dan kamar terdapat pintu kaca hitam.
Cyra duduk di atas karpet bersama Rendi. Ia sangat antusias mendapatkan sesuatu dari ibunya.
"Cyra langsung buka ini ya, Mas," ujar Cyra tanpa rasa sungkan. Cyra sudah mengenal Rendi cukup lama, mereka pun saling tahu satu sama lain. Sama seperti Kak Mira, Cyra merasa Rendi juga menganggapnya adik sendiri. Jadi tidak perlu sungkan.
"Wah, ayam kemangi sama bolu kukus!" Cyra berteriak kesenangan mendapatkan makanan kesukaan. Ia cium masakan ibunya yang sudah dingin itu, takut basi.
Seakan mengerti, Rendi pun bertanya, "tidak basi?"
"Tidak, Mas. Baunya masih harum."
"Baguslah, Kakakmu meninggalkannya di rumah terlalu lama."
"Tak apa, Mas. Terkadang Cyra juga suka lupa kok." Cyra tertawa, ia menunjukkan bahwa ketidaksengajaan Mira bukanlah masalah besar baginya. "Mas mau makan tidak? Kalau mau sekalian sama Cyra. Ini mau Cyra hangatkan dulu."
Rendi mengangguk. "Boleh."
"Tunggu ya, Mas."
Cyra membuka pintu penghubung kamarnya dan ruang tamu. Ia langsung menuju dapur. Mengambil teflon untuk memanaskan lauk buatan sang ibu tercinta. Setelah selesai, ia pindahkan ke piring, tak lupa ia mengambil dua piring nasi. Untungnya, ia selalu sedia nasi dalam tempat penanak nasi.
Cyra bolak balik menghidangkan makanan di depan Rendi, ia membawa serta dua gelas minum juga.
"Cuci tangan dulu, Mas."
Rendi bersama sang istri pernah ke kosan Cyra. Tidak perlu diberi tahu, Rendi tahu tempat ia akan cuci tangan. Tak sampai lima menit, Rendi kembali. Mereka berdua pun makan bersama sesekali mengobrol singkat.
Hujan deras tiba-tiba mengguyur sesaat setelah Rendi dan Cyra makan malam bersama.
"Hujannya terlalu deras, Mas. Mas tadi parkir di mana?"
"Di depan rumah pemilik, Kos."
"Perlu lewat gang, Mas. Cyra tidak punya payung," ucap Cyra, ia tertawa tanpa dosa.
"Mas akan menginap malam ini. Kau tidak keberatan?"
Jantung Cyra rasanya berhenti berdetak. Mereka berdua memang dekat, tapi untuk bermalam bersama berdua saja, rasanya aneh. Meski begitu, Cyra tidak bisa menolak.
"Terserah Mas, saja."
"Biarkan Mas tidur di ruang tamu."
"Iya, Mas."
Karena hari memang mulai malam. Cyra memberikan selimut kepada Rendi sebelum ia masuk ke dalam kamar. Ia biarkan Rendi beristirahat sementara dirinya, akan mengerjakan tugas sebentar sebelum bersiap tidur. Sudahlah, impian Cyra untuk langsung rebahan pupus sudah ketika Nessie memberi tahunya mengenai tugas yang dikumpulkan besok. Enaknya berteman dengan Nessie, Cyra bisa menyalin tanpa berpikir panjang, paling hanya merubah sedikit. Tolong jangan ditiru ya.
Cyra melihat ponselnya, ia melihat waktu di sana. Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Hujan belum berhenti, semakin lama Cyra mendengar suara hujan malah semakin deras. Ia masukkan semua bukunya ke dalam tas, kemudian bersiap untuk tidur. Sebelum itu, ia mematikan lampu terlebih dahulu. Dengan lampu menyala, ia tidak akan bisa tidur.
Saat mematikan lampu, Cyra mengintip melalui pintu kaca hitam. Ia melihat Rendi tampak tidur pulas. Cyra membiarkannya, toh, di luar masih hujan juga. Tidak mungkin juga ia mengusir suami atasannya.
"Selamat tidur, Mas," lirih Cyra. Ia lalu merebahkan diri di atas kasurnya. Ia menyelimuti diri dari ujung kaki sampai leher. Tak mau ada satu pun yang terbuka. Cyra sadar, di sini ia tidak sendiri. Apalagi jika Rendi perlu ke kamar mandi, otomatis melewati kamarnya. Menjaga kesopanan saja.
Di tengah tidur ayamnya, Cyra merasakan seseorang membuka pintu. Cyra pikir itu Rendi yang mau ke kamar mandi.
Tapi bukannya mendengar pintu kamar mandi yang terbuka, Cyra merasa seseorang duduk di sampingnya lalu mengelus rambutnya.
Jantung Cyra berdegup tidak normal. Ingin rasanya ia membuka mata, sayangnya terasa berat, ia tidak bisa melakukannya.
Sampai ia dapat menghirup aroma parfum yang tak asing semakin dekat ke arahnya, secara tiba-tiba pula ia mendapatkan sebuah kecupan di keningnya. Cyra semakin tidak tenang. Jantungnya pun semakin menggila. Mau berbalik saja tak bisa. Tubuhnya seakan kaku, tidak mau diajak kompromi.
Jantung Cyra serasa berhenti, begitu orang itu merebahkan diri di sampingnya dan memeluknya yang tengah membelakangi. Cyra bingung seketika, otaknya tak mau bekerja untuk memberitahu apa yang harus ia lakukan. Ini tidak benar, dekat bukan berarti bisa seperti ini.
Cyra pun membatin,
"Mas Rendi, apa yang Mas lakukan?"