9. Liar dan Nakal.

1113 Kata
Minggu ini Cyra kembali melakukan jadwal kampusnya. Dalam seminggu ia hanya pergi ke kampus 3 sampai empat hari saja. Tetapi di Senin yang cerah ini mendadak berubah mendung begitu Cyra ingat jika di hari ini ada mata kuliah seseorang yang sangat-sangat ia jauhi. Bisa ditebak siapa orang itu, 'kan? Cyra benar-benar berharap Dosennya itu tidak masuk hari ini. Semoga perut sang Dosen sakit, kendaraannya bermasalah, kesundul badak bercula satu dan sebagainya. Kalau semua do'anya tidak terkabul, ia akan menggunakan pilihan terakhir. Tidak masuk kuliah hari ini, dengan alasan sakit. Sebelum itu ia harus mencari Nessie terlebih dulu. Nessie bilang dia sudah ada di kelas. Katanya ia juga diminta segera masuk kelas. Cyra tanya alasannya apa, tetapi temannya itu tidak membalas chat darinya. Daripada bingung dan takut Dosennya datang ke kelas. Cyra berjalan cepat menuju kelasnya untuk menemui Nessie seraya matanya melihat ke berbagai arah. Ia harus sedia tameng sebelum perang, 'kan? rencananya, nanti setelah bertemu Nessie, ia akan langsung pergi dan menitipkan absensi pada Nessie saja. Dirasa tidak menemukan sosok yang ia cari, Cyra langsung saja masuk ke dalam kelasnya. Dan betapa terkejutnya Cyra, ketika matanya secara tidak sengaja bersitatap langsung dengan sosok yang hari ini jelas-jelas sangat ingin ia hindari. Dosen bernama Zaffar itu tadi sempat menatap dirinya, sesaat, sebelum kemudian bergelut pada kertas-kertas di atas meja. Cyra terlihat sangat kikuk di depan kelas sampai matanya menangkap isyarat mata Nessie yang memintanya segera duduk. Sial, semua rencana yang ia susun selama perjalanan ke kelas ini sirna sudah. Cyra kira sang Dosen belum datang, masih ada lima belas menit lagi loh sebelum jam masuk. Tak hanya Nessie yang sudah duduk manis di tempatnya. Seluruh teman-temannya juga. Dan sekedar informasi, ia menjadi orang terakhir yang datang. Dari beberapa teman-temannya, ada beberapa yang bermain ponsel, ada juga yang tengah membaca buku. "Pagi, Pak," sapa Cyra, ia dengan tenang dan muka tebalnya berusaha seprofesional mungkin menghadapi musuh di depannya, eh, bukan Dosen maksudnya. Secepat kilat, Cyra segera menjelajah mencari tempat kosong. Tidak ada yang kosong selain meja tepat di depan meja Dosen. Ya, hari ini Cyra mendapatkan dua kesialan. Sempurna sudah hidupnya di hari Senin yang benar-benar monster day ini. Bersikap tenang, Cyra menoleh ke arah Nessie yang mendapat kursi paling belakang pojok. Cyra bersyukur mendapat atensi Nessie, ia segera menunjukkan ponselnya sambil berbicara tanpa suara, "cek ponselmu." Nessie sepertinya menangkap sinyal yang Cyra berikan, perempuan itu terlihat merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Melihat temannya memegang ponsel, Cyra langsung mengirimkan pesan. Me: Kenapa kau tidak memberitahuku, Nessie? Nessie: Ya, aku tidak mau mendapat masalah lebih besar dengan Dosen kita itu Cyra, Sayang. Nessie: Aku harus rajin membaca buku. Sial, kau Nessie! Me: Sticker yang menunjukkan jari tengah. Nessie: emoticon tertawa Nessie: Tenang saja, Ra. Tidak hanya kau yang terkejut. Semua yang ada di kelas ini juga terkejut kok. Nessie: Dosen kita tercinta ini dikabarkan telah ada di kelas dari satu jam yang lalu. Cyra tentu saja terkejut mendengar fakta tersebut. Kurang kerjaan sekali. Nessie: Tapi masih dalam aturan kok. Semua orang boleh keluar masuk selagi kelas belum dimulai. Nessie: Hanya saja, tidak ada yang berani keluar setelah masuk kelas. "Gila," gumam Cyra. "Cyra Shaqueena," panggil Zaffar. Panggilan itu mampu membuat seluruh orang yang berada di dalam kelas mengarahkan pandangannya pada Cyra dan Zaffar termasuk Cyra sendiri yang sedikit membuka mulutnya sembari menatap Dosennya, terlalu terkejut mungkin. "Saya tidak gila," tambah Zaffar. "Saya harap kamu bisa menjaga sopan santun kamu di dalam kelas saya. Saya tidak peduli kamu liar di luar sana tapi jangan di kelas saya atau saya akan menghukum kamu." Mampus. Dengan kaku, Cyra menjawab, "i-iya, Pak." Selama kelas dimulai hingga kelas berakhir, Cyra tidak pernah tenang. Ia gelisah sendiri di tempatnya. Di tambah tatapan sang Dosen yang selalu tertuju ke arahnya. Sesekali berdiri di dekat mejanya. Wah, jantung Cyra seakan mau copot dibuatnya. Bukan, ini bukan reaksi orang tertarik atau jatuh cinta. Melainkan sebuah perasaan takut apabila Dosennya ini membalas keberaniannya tiga hari yang lalu. Cyra mendadak merinding dan menggigil sendiri membayangkannya. Cyra menggelengkan kepalanya, ia usir semua pikiran buruk yang ada di otaknya. Alangkah baiknya ia cepat pulang dan bekerja. "Kamu tidak perlu takut sama saya. Seharusnya saya yang takut sama kamu." Suara dari arah belakang, membuat Cyra membeku seketika. Cyra tidak sadar saat dirinya menunggu giliran keluar pintu kelas, masih ada Dosennya yang belum keluar. Kebanyakan melamun menyebabkan Cyra tidak bisa menjauh dari mara bahaya. Cyra menggenggam tali ransel yang selalu menemaninya ke kampus juga ke tempat kerja. Ia menutup kedua matanya seraya berkomat-komit meminta pertolongan pada Tuhan agar dijauhkan dari setan yang terkutuk. "Saya tidak menyangka akan perbuatan kamu. Selama saya mengajar di sini, saya tidak pernah mendapati seorang mahasiswi yang menggoda dosennya secara berlebihan." Karena gangguan di belakangnya, Cyra tidak melanjutkan langkah kakinya untuk bergegas keluar dari ruangan ini. Kakinya mendadak kaku, tidak bisa ia kendalikan supaya bergerak. Ia jadi terjebak di sini bersama seseorang yang menyerangnya dengan kata-kata pedas melebihi cabe merah, cabe kecil dan cabe kriting. Mungkin selevel cabe terpedas di dunia, cabe Carolina. "Kamu nakal dan menyeramkan, Cyra Shaqueena." Wajah Cyra terlihat sangat merah karena malu yang ia rasakan. Ia tidak punya muka lagi berhadapan dengan Dosennya ini. Tadi sebelum pelajaran dimulai, menyebutnya liar sekarang menyebut dirinya nakal dan menyeramkan. Astaga, Cyra tidak mau lagi berhadapan dengan Dosen modelan begini. Mulutnya sangat-sangat tidak bisa dikendalikan. "Maaf, Pak. Maaf saya sudah bertingkah buruk pada Bapak. Tapi asal Pak Zaff mengerti dan semoga Pak Zaff sadar juga, tolong dengarkan saya ya, Pak." Cyra membalas, lama-lama ia kebal menghadapi Dosennya ini. Cyra membalik tubuhnya, ia tatap sosok di depannya dengan berani. "Dengar ya, Pak. Perlakuan saya kemarin kepada Bapak itu murni karena kesalahan Bapak sendiri. Bapak terus saja menuduh saya macam-macam. Padahal saya sudah menjelaskan pada Bapak kalau saya tidak seperti yang Bapak pikir. Dan saya juga tidak tahu setan mana berbisik pada saya sehingga saya bersikap begitu. Jadi, jangan salahkan saya, salahkan saja Bapak sendiri. Karena pengaruh Bapak saya jadi terpengaruh bisikan setan." "Bapak tidak perlu menuduh saya liar dan nakal, Pak. Nyatanya pikiran Bapak sendiri juga sama, liar dan nakal. Buktinya Bapak terpancing tuh. Bapak lupa ya?" ejek Cyra. "Saya tidak tertarik sama kamu." Cyra kaget mendengar jawaban Zaffar. Ia pun membalas dengan lantang, "saya juga tidak tertarik sama Bapak." Ya, sebagai seorang perempuan Cyra merasa sakit hati saja mendengar perkataan itu. Bilang tidak tertarik tapi adiknya bangun, ganggu hidupnya terus lagi. "Mulai sekarang berhenti ganggu hidup saya ya, Pak. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita," tambah Cyra. "Saya permisi, Pak." Cyra pun pamit pergi. Sementara Zaffar, ia seorang diri di kelas dan masih berdiri cukup lama di tempatnya. "Mirip sekali," gumam Zaffar sebelum melanjutkan langkahnya keluar kelas yang sudah kosong ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN