Nadine menarik selimutnya tinggi-tinggi hampir menutupi hingga setengah wajahnya, mengatur nafasnya yang masih tersengggal. Nadine memperhatikan suaminya yang sepertinya akan bangkit dari ranjang mereka. “Jangan kabur tuan, ingat anda sudah berjanji” Daniel kembali menaiki ranjang mereka, meraih jemari istrinya, dikecupnya satu persatu. “jadi istri aku yang ngambekan tetap terlihat cantik ini mau mendengar yang mana dulu?” Nadine bangkit dari rebahannya dan memilih duduk di depan suaminya. “semuanya, dari awal sampai akhir” Daniel mengangguk dan menarik tangan Nadine untuk menyandar di tubuhnya, di rengkuhnya tubuh yang tidak semungil dulu, namun tetap nayam untuk di peluk. “dulu kali mami sama papi itu bukan orang tua yang perduli dengan anakya, bukan dalam artian sebenarnya, merek

