Setelah kepergian Daniel dan kedua Putrinya, Nadine mendesah kasar, ada perasaan bersalah dalam hatinya, tapi dilain sisi ia ingin berdamai dengan masa lalu dan memulai kehidupan baru, tanpa bayang-bayang luka yang masih terasa. Entah firasat apa sedari tadi Nadine merasa tak tenang, entah Daniel dan kedua putrinya atau Al, putra sulungnya. “Anandine kamu ke rumah sakit sekarang, Al sedang sekarat” ucap Morgan di balik ponselnya Mendengar itu luruh sudah tubuhnya ke tanah, lututnya seakan tak mampu menopang tubuhnya sendiri. “Anandine kamu masih di situ, aku gak bisa membubuhkan tanda tangan, statusku masih bukan siapa-siapa untuk saat ini” ucap Morgan “iya aku kesana” ucap Nadine memakasakan tubuhnya untuk bangkit “maaf” ucap Morgan entah berapa kali, yang seperti angin lalu di t

