Bagian 4

1729 Kata
Sudah tiga hari setelah insiden hampir tabrakan kucing, Daniel hanya berada di sekitaran pembuatan rumah sakit karena beberapa hal yang harus ia cek secara langsung. Bahkan kemungkinan malam ini ia harus bermalam di mess yang di sediakan untuk para pekerja. Danie tidak mempermasalahkan bila ia harus tidur bersamaan dengan para pekerja, bahkan ketika ia kuliah dulu ia pernah tidak tidur karena kosnya bocor ketika hujan, meski setelahnya maminya menghadiahkan sebuah apartemen untuknya. Saat ini menunjukkan pukul 2 dini hari, ia masih menunggu materil yang akan datang, kerusakan jalan yang terjadi akibat hujan lebat, mengakibatkan tanah longsor beberapa hari lalu dan membuat akses jalan sempat terhambat. “Pak, sepertinya materilnya akan terlambat datang karena ada kemacetan akibat longsor beberapa minggu lalu, jadi bapak bisa istirahat di mess yang di samping, tadi sudah di bersihkan anak-anak pak,” ucap Denis selaku kepala proyek yang menangani pembuatan rumah sakit. “Saya balik ke penginapan saja, besok pagi saya balik ke sini, kalian bisa pakai ruangannya.” Daniel yakin mereka akan tidur himpitan atau seperti ikan asin jika dirinya menempati ruangan itu. “Tidak apa pak, ruangannya cukup bersih, lagi pula ini sudah larut, di sini tidak sama seperti di kota pak, jalanan ke kota sangat gelap,” lanjut Denis melihat Daniel tetap memasuki mobilnya. “Saya tak mempermasalahkan ruangannya, tapi kalian juga perlu istirahat. jangan kalian kira saya tak tau bagaimana kalian tidur jika saya menggunakan ruangan itu,” lanjut Daniel. Daniel mengemudikan mobilnya cukup santai ia tak ingin kejadian tempo hari terulang, malu rasanya jika harus berkelahi kembali, selain itu ia sudah kelelahan. Disaat Daniel hampir memasuki kota, ponselnya berbunyi, tanpa menepikan ponselnya, Daniel menerima panggilan dari kepala proyek yang mengabarkan kalau terjadi kecelakaan di lokasi proyek. Tanpa pikir panjang Daniel memutar balik tujuannya, rasa penat dan kantuknya seketika menghilang mendengar berita tersebut. “Ada apa? Kenapa bangunan itu bisa runtuh? Apa ada pekerja yang terluka?” cecar Daniel pada Denis berjalan tergesa-gesa turun dari mobilnya. “Kami belum bisa memastikan pak, tadi memang sempat ada angin kencang tapi kami pun bingung ada apa dengan bangunannya.” Daniel mengitari bangunan yang sudah setengah jadi itu roboh, ia tak mempermasalahkan itu, yang ia permasalahkan ialah para pekerjanya, yang menjadi tanggung jawabnya. “Ada beberapa pekerja yang terluka pak, tadi kami menelpon rumah sakit terdekat, mereka sudah mulai melakukan penyelamatan pak.” Daniel mengangguk pelan. “Lalu di mana mereka?” “Itu di sana pak,” tunjuk Denis pada salah satu pojok mess yang tadinya akan di gunakan untuk dirinya. “Bagaimana keadaan mereka?” Pertanyaan Daniel tersangkut di tenggorokan melihat siapa yang betugas memberi pertolongan pertama pada pekerjanya. “Lima belas menit lagi ambulan akan datang, mereka harus mendapatkan perawatan dan observasi lanjutan, selain itu perbekalan saya sudah hampir menipis sedangkan masih ada beberapa lagi yang harus di periksa." “Pakai mobilku saja, lima belas menit cukup lama, ada lima orang lagi yang belum kau sentuh sebaiknya cepat.” “Bawa yang lebih kritis dulu nanti saya dan yang lain akan menyusul.” Daniel menoleh ke belakang dan mendapati sosok Dimas yang sedang menyerahkan catatan pada Nadine, yah Daniel mengetahui nama itu dari name tag yang tertulis pada snelli keduanya. “Sialan! siapa mereka beraninya menyuruhku?” Sayangnya itu hanya u*****n dalam hatinya. “Tolong bantu aku mengangkat pekerja ke mobilku,” titah Daniel pada Denis. "Double s**t! Mereka berdua dokter?" tanya Daniel pada dirinya sendiri, memperhatikan keduanya yang sedang melakukan pertolongan pertama. *** Setelah semua pekerja mendapatkan pengobatan barulah Daniel bisa mendudukkan pantatnya. Lelah yang tadi hilang kini mulai menyerang, bahkan pegal yang ia rasakan kini berkali lipat dari pada tadi. Daniel tengah berada di kantin rumah sakit, ia berniat memesan segelas kopi, tetapi apa pemiliknya mau melayaninya subuh-subuh begini? “Kopi s**u satu bu, anda mau pesan apa?” Daniel menoleh ke samping ternyata itu dokter Nadine. “Kopi hitam saja." Daniel mengangguk pelan sebagai bentuk terima kasihnya. sembari menunggu kopi mereka datang Daniel berdehem pelan ada yang mengganjal dalam hatinya, namun belum sempat ia berucap kopi mereka tiba, Daniel menunda sejenak membiarkan matanya mengunci sosok dokter wanita yang beberapa hari lalu ia maki dengan sombongnya. "Anda tidak suka dengan kopinya? atau mau kopi milikku?" Daniel menggeleng pelan, bisa-bisanya ia ketahuan sedang menatap perempuan itu. Daniel kembali berdehem, mengalihkan pandangannya dan menyesap sedikit kopi nya sesekali mencuri pandang ke sebelahnya. “Saya minta maaf mengenai malam itu, saya mau menarik ucapan malam itu , kau dokter yang cerdas,” Daniel mengulurkan tangannya sebagai bentuk perdamaian, namun Nadine hanya tersenyum dan menyesap kopinya hingga habis tanpa berniat membalas jabat tangan Daniel. “Anda bisa pulang setelah melunasi biayanya, syukurlah semuanya selamat dan tidak ada yang terluka parah.” Nadine kembali bersuara sebelum benar-benar pergi setelah menghabiskan pesanannya dan meninggalkan Daniel yang sedang menikmati kopinya. "Berapa Bu?" Daniel mengeluarkan dompet hitamnya, ia berniat pergi juga dari sana. "Sudah dibayar dokter Nadine, katanya sebagai salam perpisahan." Daniel terdiam, mengangguk pelan. tanpa sadar senyumnya merekah tanpa ia pinta. *** “Bagaimana? sudah dapat apa yang menjadi penyebab bangunan itu rubuh?” tidak ada nada santai dalam setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki itu. “Hal itu Murni musibah pak, bangunannya runtuh akibat angin yang memang kencang, hanya saja sedikit kecurigaan kalau sebagian material yang dikirim tidak sesuai standar.” “Baiklah, laporkan apapun yang kau temui, kalau memang ada yang bermasalah dengan materialnya akan kita usut sampai tuntas.” Daniel memijit kepalanya yang terasa berat, bagaimanapun kejadian ini akan menyita waktunya lebih lama di sini dan membuat kerjaan lainnya berantakan. ditengah gusarnya pandangan Daniel teralihkan pada seorang perempuan muda yang sedang tersenyum begitu menenangkan di matanya, dia Nadine. Perempuan itu sedang menyuapi para lansia begitu telaten, hanya dengan melihat caranya tersenyum Daniel tau kalau perempuan itu tulus, ia penasaran siapa orang tua gadis itu hingga membesarkannya dengan sifat tulus seperti itu. Tak berselang lama, telepon nya berbunyi kembali, kali ini adalah pesan singkat dari Yoga. Daniel bergegas ke mobilnya mempelajari email dari laki-laki itu sembari menunggu informasi dari kepala proyek dan timnya. *** “Tidak mungkin! Kita selalu mengandalkan material dari sana. sialan! Berani-beraninya mereka mengkhianati kita!” langkah Nadine terhenti ketika mendengar suara keras seseorang, praktis perempuan itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari tau siapa yang berbicara. “Kalau begitu siapkan tuntutan pada perusahaan Dimitri. Minta ganti rugi yang setimpal.” Seketika ponselnya terjatuh ke tanah sangking terkejutnya ia mendengar nama Dimitri disebut-sebut. "Minggir! kau mengganggu mobil ku mau keluar!" Nadine mengabaikan bentakan itu, pikirannya benar-benar kacau kali ini, namun bukannya menghindar, Nadine malah mencekal pergelangan Daniel. "Aku tidak sengaja mendengar kau menyebut nama Dimitri. Dimitri yang kau maksud adalah Dimitri group kah?" “Apa hubungannya dengan mu?” Nadine diam, ia tidak tahu harus menjawab dengan apa. Saat ini tidak ada yang tahu kalau dirinya adalah Putri Masyu, pemilik perusahaan Dimitri Group. “Aku... aku salah satu penerima beasiswa dari perusahaan itu, tentu aku penasaran dengan perusahan yang telah memberiku kehidupan.” "Ini tidak ada hubungannya dengan anda nona, kalau urusan anda sudah selesai silahkan minggir." Nadine tak bergeming, ia tidak bisa mencerna apapun dengan baik saat ini, entah kemana perginya otak encernya. "Kau bisa datang pada ku dan mendapatkan beasiswa dari ku, semisal perusahaan itu tidak mampu lagi membiayai kau." Dalam sekali hentak Daniel berhasil melepaskan genggaman Nadine padanya. *** ”Angkat dong papa.” Seperti setrikaan, tak henti-hentinya Nadine mondar-mandir, bahkan kuku cantiknya kini menjadi sasaran kegelisahannya. karena tak kunjung mendapati jawaban, Nadine menghubungi kontak adiknya. “Dek, papa dimana?” tanya Nadine terburu-buru saat panggilannya di terima. "Papa masuk rumah sakit, jantung papa kumat mba, sepertinya ada yang menyabotase perusahaan.” Perasaannya tidak meleset ada yang tidak beres saat ini. “Ara mau rapat sama tim audit, mungkin kami bakalan lembur, mama di rumah sakit nemani papa.” Nadine terpekur, sekeos itu kah keadaannya saat ini? "Aku usahakan pulang dalam waktu cepat, aku minta tolong handle semua sampai aku tiba yah dek." "Pasti. Bantu doa yah mba, kita semua tahu kalau papa tidak salah, tapi difitnah." Nadine mengangguk pelan, seolah adiknya bisa melihat itu. "Tim audit udah sampai, kita lanjut bicara nanti yah mba Assalamualaikum." "Waalaikumussalam." Setelah panggilan mereka terputus, Nadine menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang miliknya, jantungnya tak berhenti berdegup kencang. *** Entah berapa banyak kecerobohan yang Nadine lakukan satu hari ini, hati dan pikirannya benar-benar kacau. Nadine memutuskan untuk rehat sejenak ia butuh istirahat sebentar. “Masih belum dapat izin?” Nadine mendongak pelan, menganggukkan kepalanya setelah melihat sosok Dimas duduk di sebelahnya. “Belum, mana tidak ada yang bisa ku hubungi untuk mengetahui kondisi papa sekaligus perusahaan." “Papa kamu pasti sembuh, karena yang merawatnya adalah anaknya sendiri." Dimas memberikan sebuah amplop putih pada Nadine. "Buka aja," ucap Dimas melihat raut bingung dari Nadine. “Ini serius mas?” Tanya Nadine tak percaya, karena yang ia tau proses untuk kepulangan itu sangat sulit. “Iya kamu bebas tugas mulai siang ini.” Dengan mata berkaca-kaca memeluk erat surat itu penuh rasa syukur. “Terimakasih mas, terima kasih." "Sayangnya itu tidak gratis." "Maksudnya? Nadine harus bayar berapa mas?" Dimas tersenyum lebar, tangannya terulur mengusap kepala Nadine yang terhalang kerudung. "Kamu harus membayarnya dengan menyelesaikan masalah perusahaan dan segera balik ke sini." Nadine ikut tersenyum dan mengangguk pelan, kali ini air matanya kembali mengalir, antara senang sekaligus sedih. ia senang bisa segera pulang, tapi juga sedih meninggalkan pekerjaannya, juga Dimas. Nadine berjanji akan menyelesaikan dengan cepat dan kembali ke sini. *** "Ibu Nadine." Panggilan itu menghentikan langkan Nadine, menoleh ke belakang. "Mas, bentar yah," izin Nadine menghampiri gadis kecil yang sudah menjadi pasiennya semenjak sebulan yang lalu. "Ibu mau ke mana?" "Ibu pulang kampung, kamu kenapa keluar Ca? nanti ibu kamu nyariin," ucap Nadine menyamakan tinggi mereka. "Kalau ibu pulang kampung, yang rawat Aca siapa?" Nadine tersenyum manis menghapus air mata gadis manis itu. "Kan ada dokter Dimas yang gantiin ibu, orang tua ibu sedang sakit, seperti kamu. jadi ibu harus merawat mereka dulu." "Aca mau ikut sama ibu aja." "Kalau Aca ikut ibu, nanti orang tua kamu sedih gimana? gini aja kalau urusan ibu udah selesai ibu akan pulang kesini lagi nemuin kamu." "Ibu janji?" "Iya sayang, ibu janji akan kembali kesini kalau tugas ibu udah selesai, cepat sembuh yah nak." Nadine berdiri, mendorong kursi roda menuju orang tua gadis itu. setelah berbasa-basi dengan kedua orang tua pasien nya, Nadine berpamitan, bergegas menuju terminal untuk penerbangannya besok subuh. "Selamat tinggal Papua."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN