Bagian 3

1555 Kata
Nadine menyudahi telponannya dengan sang adik, yang sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian seminar proposal. Meskipun di tengah kesibukannnya menjadi seorang dokter, sebagai seorang kakak Nadine merasa bersalah jika ia tidak ada saat adiknya membutuhkan dukungan. Sehingga ia memutuskan untuk menelepon lebih dulu sebelum memulai tugasnya yang terbilang padat hari ini. “Kamu sedang telponan sama siapa?” Nadine menoleh ke sumber suara dengan raut terkejut. “Ya ampun dokter, aku kira siapa tadi.” ucap Nadine tersenyum lebar. "Nadine," panggil Dimas menyadarkan Nadine dari senyumannya." "Ada apa dok?" belum sempat Dimas bicara, suara sirine ambulan menggema di telinga keduanya. "Nanti saja," ujar Dimas menggaruk kepalanya. ada saja halangan untuk dirinya berbicara. “Baiklah dok, Nadine duluan” pungkas Nadine agar mempercepat waktu menginat tak hanya satu suara sirine yang terdengar menuju rumah sakitnya. Benar saja, seisi rumah sakit heboh menyambut lebih dari lima ambulan karena tabrakan beruntun, kali ini Nadine tengah menangani anak balita berusia kisaran empat tahun, Nadine meringis sendiri melihat balita tersebut meraung menahan sakit yang ia derita, luka sepanjang tulang kering bahkan menampakkan tulang putihnya, meskipun sudah berkali-kali Nadine melihat luka, tak dapat dipungkiri dibagian tertentu dari tubuhnya merasa ngilu, sepertinya mereka harus bertahan dengan tiga dokter senior dan dua dokter magang serta lima perawat merangkap sebagai resepsionis. “sayang, ibu tutup dulu lukanya yah? Setelah ini bakalan ibu kasih permen manis, kamu mau kan?” anak balita itu menggelengkan kepalanya, terkadang Nadine harus menyelami karakter pasiennya agar mempermudah kerjanya terlebih kali ini adalah anak kecil. senyum Nadine terbit, terbesit sebuah ide melihat Jersey klub Inggris yang dikenakannya . “Kalau ibu kasih Bola mau tidak?” Nadine tersenyum ketika tangis anak tersebut mulai mereda dan menganggukkan kepalanya, sedari tadi meski sudah di bantu oleh seorang perawat anak ini tetap kesusahan untuk dipegang, namun lukanya tetap harus ditutup agar tidak banyak darah yang keluar. “Ibu bersihin dulu lukanya yah baby boy setelah ini kita bermain bola.” Saat jarum itu menembus kulitnya, sungguh Nadine merasa iba melihat anak itu menangis histeris ketakutan. Nadine tak pernah merasakan sendiri rasanya jahitan, ia hanya mengetahui lewat ekspresi pasiennya, syukurnya Nadine cukup terampil dalam hal menjahit luka. *** Dimas tak henti-hentinya tersenyum menunggu Nadine selesai dengan pasiennya. Dimas seorang duda perjaka ditinggal mati saat kata sah keluar dari mulut saksi. Namun ia tidak mau bersedih berlama-lama dengan meninggalkan kota asalnya dan mengabdikan diri di pulau yang jauh dari kotanya di Sumatera. Saat perjuangan menata hati, ia kembali ditemukan dengan wanita baik soleha pula, tidak hanya itu ia memiliki visi dan misi yang sama dengan dirinya, mengabdi pada negeri. “Dok, maaf sudah nunggu lama yah? tadi ada yang konsultasi perasaan dulu sama Nadine.” “Tidak terlalu, santai saja, akan tetap aku tunggu kamu sampai kapan pun." “Sepertinya kamu yang tidak santai mas, eh boleh kan Nadine panggil mas diluar rumah sakit?” "Tentu, aku justru senang mendengarnya." “Lanjut yang tadi mas mau bicarain apa?” Mendengar itu Dimas memperbaiki duduknya dan menarik nafas dalam. “Jadi gini, aku sudah mikirin ini jauh-jauh hari, awalnya aku mau menolak perasaan ini. bagaimana pun aku pernah merasa ditinggalkan untuk selamanya dan aku pikir aku tidak bisa kembali memiliki rasa suka pada siapapun, hingga aku ketemu kamu, dan kedekatan kita seakan mengobati luka di hatiku. Aku ingin memulai sesuatu yang serius sama kamu Nadine, bagaimana kalau aku ingin mengenal kamu lebih dari ini, maksud aku... kita udah ketuaan untuk pacaran aku ingin sesuatu yang lebih serius, apa kamu bersedia?” Nadine tak menyangka Dimas mengutarakan perasaannya, ini merupakan pengalaman pertamanya di lamar oleh seorang pria. dulu ia pernah pacaran itupun cinta-cintaan masa SMA, dilamar dalam keadaan masih berseragam rumah sakit, Nadine tak memperkirakan akan hal ini. Tapi Nadine tak menampik ia juga menyukai duda tersebut. "Tidak perlu terburu-buru, kita bisa berjalan perlahan dan memulai-" “Nadine mau mas, aku pun menyukai kamu.” Dimas tersenyum lebar, ia sudah mempersiapkan hati bila ditolak, ia paham posisinya saat ini, tapi ia juga tidak sanggup bila Nadine menolaknya. “Syukurlah, terimakasih Nadine, terimakasih kamu mau merima aku, secepatnya aku akan melamar kamu pada orang tuamu.” “Sama-sama mas, Nadine akan menunggu mas menjumpai orang tua Nadine.” Nadine pun merasakan hal yang sama ia sangat bahagia. “Sungguh Nadine, aku enggak sabar ingin memeluk mu tapi aku sadar aku mesti bersabar” Nadine tersipu malu mendengar pria yang baru saja melamarnya, pria itu benar ia mesti bersabar ia takut setan terlampau jauh membimbingnya menuju kemaksiatan. “Sabar yah mas." Nadine melihat ponselnya, "Mas, Nadine masih harus balik ke rumah sakit, tadi izin sebentar karena mas bilang penting, kalau gitu Nadine duluan, selamat istirahat pak dokter tampan, ” ucap Nadine memberanikan diri memuji terang-terangan visual laki-laki itu. refleks, Dimas meraih tangan Nadine, menggenggamnya dengan erat. Nadine shok melebihi pernyataan Dimas tadi, melihat raut wajah Nadine berubah, pria itu pun gegalapan, segera melepas genggamannya. “Maaf, aku terlalu kaget mendengar kamu buru-buru, maksudnya aku antar saja, bolehkan?" *** Dilain tempat, dua orang laki-laki dewasa lintas usia, Tenga menikmati sarapan dalam diam tanpa ada yang berniat memulai pembicaraan, hingga Bagas berdehem pelan. “Daniel, Papi minta besok kamu ke Papua pantau perkembangan rumah sakit yang sedang perusahaan bangun di sana, pastikan semuanya berjalan dengan sempurna.” “Maaf pi, Daniel tidak bisa, besok malam Daniel menghadiri pertemuan penting di Surabaya, paginya Daniel masih harus mengisi seminar." "Papi bisa mengurus itu semua, besok kamu tetap ke Papua," tandas Bagas tak ingin dibantah. "Pi, besok daniel benar-benar tidak bisa, Daniel sudah punya janji.” “Papi tidak mau tau, kamu pilih menuruti papi atau kesepakatan kita batal.” selalu begitu, papinya selalu mengancamnya dengan kesepakatan sialan itu, papinya mengizinkan Daniel bekerja sesuai keinginan laki-laki itu, tetapi Daniel tetap membantu Bagas sewaktu-waktu. hanya saja Saat ini Daniel benar-benar sibuk dengan proyek barunya yang hampir rampung. "Daniel berangkat, terima kasih sarapannya," ucap Daniel mengitari meja makan dan mengecup puncak kepala sang mami. *** Pandangan Daniel begitu liar memandangi sepanjang jalan yang ia masih dipenuhi pepohonan dan Jalanan yang tidak rata, meski mulutnya dengan sombong menyatakan penolakan dengan permintaan papinya, nyatanya ia tetap melaksanakan perintah papinya. Daniel segera menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, dan meminta Yoga menyampaikan permintaan maafnya pada pihak kampus yang menyelenggarakan seminar, dan beruntungnya pihak kampus sangat kooperatif dengan mengizinkan dirinya mengikuti jalannya seminar melalui Skype . Bagaimanapun papinya adalah sosok sempurna di matanya, meski Lokasi proyek rumah sakit yang ia tangani agak jauh dari pusat kota. entah dapat ilham dari mana sang ayah bisa mempunyai keinginan membuat rumah sakit, di tanah papua ini? Saat ini pukul 11 malam ia tengah mengemudikan mobil yang disediakan perusahaan untuk transportasinya selama di papua. Karena sudah hampir tengah malam ia memacu mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Hingga tanpa sengaja ia melihat seseorang melintas didepan mobilnya. Shit! “Hampir saja, siapa sih orang gila yang menyebrang sembarangan?” gumam Daniel menuruni mobilnya. “Kalau mau cari mati jangan di tengah jalan, ceburin diri ke laut! agar tidak berbekas, atau kalian sengaja ingin memeras ku begitu?” “Santai bro! kita hanya menyelamatkan kucing yang melintas. sepertinya anda orang baru tidak tahu peraturan di sini, pengendara dilarang ngebut dibawah jam 12 malam, jam mahal anda masih berfungsi dengan baik bukan?" Daniel diam, ia mengakui ketidak tahuannya akan peraturan itu, meski begitu Daniel tidaklah mudah dikalahkan begitu saja. "Saya memang tidak tahu peraturan itu, hanya saja kalian sama tololnya dengan melintas tiba-tiba hanya karena seekor kucing. dan kau!" Daniel menunjuk gadis yang dianggap bodoh dengan nekat menyebrang sembarangan. Sikap tidak sopan Daniel mengundang murka kekasih gadis itu, dan bersiap hendak menggapai tangannya, namun hal itu tak terjadi ketika gadis itu menahannya. "Mas, sudah. kita tidak perlu meladeni laki-laki itu, yang waras ngalah.” “Maksudnya? kamu bilang saya gila?” tanya daniel tidak terima. “Apa ada dalam kalimat saya mengatakan kalau anda gila?” tanya Nadine berusaha setenang mungkin, ia tak ingin memancing keributan apa lagi posisi mereka tak berjauhan dengan rumah sakit saat ini. yah sepasang kekasih yang sedang beradu mulut dengan Daniel saat ini adalah Nadine dan Dimas. “Bukankah sudah sangat jelas maksud ucapan anda itu mengatakan saya gila? saya, tidak bodoh untuk mengartikan sindiran anda barusan,” ucap Daniel tak terima. terdengar helaan napas dari Nadine yang membuat Daniel semakin tersulut. “Terserah kalau anda beranggapan seperti itu, yang pasti saya tidak mengatakan anda apa pun, udah mas jangan di ladenin lagi, lebih baik kita lanjutin tugas kita lagi”. Ucap Nadine sambil mengenakan jas putih kebanggaannya dan melepaskan kucing yang pincang itu ke tepi jalan. “Anda seorang dokter? pasti kasihan sekali pasien anda, mempunyai dokter yang b**o, anda pasti dokter yang tidak kompeten,” cerca Daniel. “Anda jangan bicara sembarangan jika anda tidak tau apapun mengenai saya!” jawab nadine mencoba bersabar dan menahan Dimas yang hampir membogem Daniel. “Saya hanya berkata sesuai apa yang saya lihat, dengan bodohnya anda melintas hanya untuk seekor kucing yang jelas-jelas masih jauh dari mobil saya.” Daniel melepas cengkraman Dimas pada kerahnya dan mengibas-ngibaskan tangannya seolah itu adalah kotoran, Daniel memilih pergi dari sana meninggalkan Dimas dan Nadine. Selepas kepergian Daniel, Nadine hanya bisa menggeleng kan kepalanya keheranan. "Bisa-bisanya ada orang seperti itu?" tanya Nadine pelan, seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri. "Sudah lah Ndine, toh kita tidak akan bertemu lagi dengan laki-laki aneh itu. mau balik sekarang?" "Iya dok." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN