PART 5

1432 Kata
PART 5 Di perjalanan pulang ke rumah , senyum di wajah Felicia sama sekali tak luntur . Ia memandang ke luar jendela , sambil sesekali bersenandung . "La ..la..laa... aku sayang sekali mmmm " Denis yang fokus menyetir hanya bisa menggelengkan kepalanya , geli dengan tingkah maminya yang seperti anak ABG sedang jatuh cinta . "Mam , plis deh ! Jangan aneh kayak gitu  " Omel Denis . "Siapa yang aneh ?" "Mami , senyam-senyum sendiri dari tadi. " "Engg.. enggak !" Felicia salah tingkah. "Mami kasmaran ya ?" selidik Denis . Beruntung mereka sudah sampai di depan rumah Felicia , wanita itu segera turun dari mobil sebelum ketahuan jika kini wajahnya sudah memerah. Felicia terlebih dahulu masuk ke dalam rumah , diikuti Denis di belakangnya. Setelah membersihkan diri , Denis duduk di sofa dengan kedua kaki dilipat dan sekantong plastik besar keripik kentang kesukaannya telah siap di pangkuan . Tak ketinggalan buku di tangan kanannya , besok matematika yang diujikan ia harus belajar ekstra. "Denis .jangan banyak-banyak makan gituan , banyak micinnya ! " Pekik Felicia mendapati anaknya sedang menikmati camilan. "Micin enak mam ." Jawab Denis sambil memasukkan kripik kentang ke mulutnya , tanpa menghiraukan maminya . "Anak sekarang susah bener dibilangin. " Gerutu Felicia. Drt...drt.... Ponsel Felicia yang tergeletak di atas meja berdering, sebuah panggilan video masuk . Denis melirik sekilas ID penelponnya , mas Reihan kalau Denis tak salah lihat . Lagi , Denis melihat senyum lepas maminya ketika menjawab video call itu . Denis cukup senang , sudah lama ia tak melihat senyum sumringah maminya. Untuk saat ini Denis harus pasang kuda-kuda , ia tak mau ada yang menyakiti mami tersayangnya . Dengan berlari , Felicia menuju kamarnya . Ia tak ingin Denis menguping pembicaraan mereka , ya walaupun bukan pembicaraan yang tidak-tidak. Felicia pov Aku segera masuk ke kamar setelah ku angkat video call dari Reihan , bukan apa-apa cuma aku malas meladeni mulut Denis yang super bawel itu . Anak itu pasti tak akan berhenti meledekku , yang waktu pulang tadi saja aku masih malu . "Haiii " sapa Reihan . "Halo " "Tante Cia !" Ah suara Tiara , anak perempuan yang menggemaskan. Dia memanggilku Cia , tak banyak yang memanggilku seperti itu . Cuma Adit , iya cuma Adit dulu yang memanggilku dengan nama itu . "Tiara belum bobo ?" "Belum Tante , aku digangguin sama ayah. Katanya gak boleh bobo dulu sebelum ayah telpon Tante Cia , aku mau saja Tante tapi dengan syarat ayah mau pakai bando kayak aku. " ucap Tiara polos .   Aku tertawa melihat Reihan begitu imut memakai bando dengan bentuk telinga kelinci itu , mereka terlihat begitu kompak. "Tiara , aduh kenapa bilang sama Tante sih ?" omel Reihan , Tiara hanya terkikik mendengar omelan Reihan. "Tante , ayah kangen sama Tante. " Ucapan Tiara membuatku tercengang , kangen katanya ? Baru tadi sore mereka bertemu denganku , sudah kangen saja . Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Tiara . Jangan terlalu pede Felicia , itu hanya omongan asal. "Udah dulu ya , sepertinya Tiara sudah mengantuk bobok yuk nak." Ucap Reihan . Tiara mencebik kesal. "Ayah nih , tadi gangguin aku mau bobo . Sekarang malah disuruh bobo , kalau kang...." Tiara belum menyelesaikan ucapannya , Reihan terlebih dahulu membungkam mulut anak itu . "Aku tutup ya , sampai jumpa.  Tiara , d**a sama Tante  ." Titah Reihan yang diangguki Tiara. "Dadah Tante Cia , besok ketemu lagi ya ?" ucap Tiara . "Iya , dadah.  Selamat malam Tiara." Segera ku matikan video call itu , aku ingin mengawasi Denis apakah anak itu belajar dengan benar atau tidak . Aku melangkah ke arah ruang televisi , ada Denis di sana . Ia tampak serius dengan bukunya , bisa dikatakan kelewat rajin dari biasanya yang sama sekali tak pernah ku lihat ia memegang buku . Tapi walaupun begitu , Denis tetap selalu menjadi bintang kelas , sama seperti Adam dulu saat masih sekolah. Mereka jagoan ku yang bisa ku banggakan , mereka bisa membuktikan bahwa tanpa ayah di samping mereka tak mempengaruhi kualitas hidupnya . Ku usap air mata yang tiba-tiba mengalir di pipiku , terharu jika melihat Denis tumbuh tanpa kasih sayang ayah . "Mam ." Ucap Denis saat sadar akan keberadaanku . "Ya ?" Aku mendekati Denis . "Mami nangis ?" Tanya Denis , ia memang peka tentang hal sekecil apapun yang terjadi padaku . Aku menggeleng , aku tak ingin Denis tahu . "Mami labil deh , tadi senyum-senyum sekarang nangis . Hadeeeh , wanita suka gitu ya ?" Sialnya aku tak pernah menyembunyikan sesuatu dari Denis , dia selalu saja bisa menebak . Apa-apaan ? Tadi Denis mengataiku labil ? Pengen ku jitak rasanya anak ini, suka ngeselin ! "Belajar yang bener aja , jangan urusin yang tidak-tidak." Ucapku mengalihkan pembicaraan. Ku lihat Denis malah menutup bukunya. Hey ! Disuruh belajar kenapa malah udahahn ? "Kenapa ditutup?" "Udah selesai." Ucapnya enteng . Aku mengernyit. "Kok cepet ?" "Belajarnya udah dicicil kemarin-kemarin mam , biar otaknya gak bledos. " Aku hanya membulatkan mulutku , Denis beranjak dari duduknya sepertinya ia sudah mengantuk . "Mam , Denis tidur dulu ya . Mami jangan tidur malam-malam , jangan pacaran Mulu ." Ucapnya sembari melangkah ke kamarnya . Aku tersipu , dasar anak itu . Suka sekali mengejek maminya ini . Sudahlah , lebih baik aku juga tidur . ____ Author pov Seperti yang Tiara bilang tadi malam , sore ini ia kembali ke cafe Felicia. Reihan , ayah anak itu menuruti saja keinginan putri semata wayangnya. Sekalian ia bisa bertemu dengan Felicia , janda cantik kalau kata Reihan . Reihan hampir setiap hari diajak Tiara ke cafe ini , anak itu senang sekali menikmati ice cream di cafe ini yang memang benar-benar lezat . Pertama Tiara mengenal cafe ini saat sekolah TKnya mengadakan field study bulan lalu, dipilihlah El Denis cafe sebagai tempat pengenalan bagi anak-anak TK itu . Di El Denis mereka diajarkan cara membuat ice cream yang unik , berbentuk kerucut seperti gunung dan rasanya sangat enak . Sejak itulah , Tiara ketagihan untuk terus mengunjungi cafe . Ditambah lagi pemiliknya yang begitu ramah , membuat Tiara senang berkunjung ke sana . Tring... Lonceng pintu cafe berbunyi , menandakan ada pengunjung yang datang . Felicia sudah hapal siapa yang datang dijam ini , ia menyambut gadis kecil itu dengan senyum ramah . "Hai Tiara ." "Hai Tante , Tiara dateng lagi sama ayah ." Ucap Tiara . Pintu Kembali terbuka , menampakkan seorang pria dengan stelan kerjanya. "Selamat datang kembali di El Denis cafe. " Sapa Felicia. Reihan hanya mengangguk , kemudian senyum tipis tersungging di bibirnya . "Tante , Tiara mau Merapi mountain ice ya . Seperti biasa, " ucap Tiara . "Hei , itu gak kebesaran buat kamu ? Kamu sudah tiap hari makan ice cream , pesen yang agak kecil ya ?" Tiara menggeleng cepat. "No ! Pokoknya yang itu , kalau Tiara gak abis, masih ada ayah ." Reihan mendesah pelan , anaknya memang susah dibujuk apapun itu harus keturutan. "Ya sudah , Merapi mountain ice satu ya." Felicia mengangguk , ia menuju meja pesanan untuk meminta pelayannya untuk membuatkan pesanan Tiara . Setelah pesanan jadi , Felicia sendiri yang mengantarkannya ke meja biasa tempat Tiara duduk. "Silahkan dinikmati." Ucap Felicia sambil meletakkan ice cream jumbo itu. "Horeii ! Makasih Tante " Teriak Tiara. Sementara Reihan hanya harap-harap cemas , ia takut anaknya terkena flu karena setiap hari makan es . Ya meskipun selama ini memang tidak pernah ada tanda-tanda akan terkena flu , namun tetap saja ia khawatir. Reihan memakan separuh lebih bagian es Tiara , agar anaknya itu tak makan terlalu banyak. Felicia hanya tersenyum melihat dua anak dan bapak ini berebut ice cream di depannya , Reihan sepertinya juga menikmati ice cream tadi . "Sudah habis , pulang yuk ? Papa mau ke kantor lagi ." ucap Reihan , Tiara sedikit kecewa karena ia masih ingin berlama-lama di sini . Sebenarnya Reihan sama halnya dengan Tiara , namun ada pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantornya. "Besok kita ke sini lagi , gimana ?" Bujuk Reihan . Beruntunglah kali ini Tiara mengangguk , jadi ia tak perlu lagi repot-repot mencari cara agar anaknya mau diajak pulang . "Kita pulang dulu ya Tante , besok ke sini lagi ." ucap Tiara . "Iya , makasih ya sudah langganan di sini." balas Felicia. Reihan dan Tiara pamit pulang ,  tanpa sadar Felicia masih melihat ke arah mereka sampai keduanya benar-benar menghilang dari pandangannya. "Bodoh, ngapain bengong di sini sih. " gerutu Felicia lalu ia kembali kepada rutinitas nya di cafe.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN