PART 5
Di perjalanan pulang ke rumah , senyum di wajah Felicia sama sekali tak luntur .
Ia memandang ke luar jendela , sambil sesekali bersenandung .
"La ..la..laa... aku sayang sekali mmmm "
Denis yang fokus menyetir hanya bisa menggelengkan kepalanya , geli dengan tingkah maminya yang seperti anak ABG sedang jatuh cinta .
"Mam , plis deh ! Jangan aneh kayak gitu " Omel Denis .
"Siapa yang aneh ?"
"Mami , senyam-senyum sendiri dari tadi. "
"Engg.. enggak !" Felicia salah tingkah.
"Mami kasmaran ya ?" selidik Denis .
Beruntung mereka sudah sampai di depan rumah Felicia , wanita itu segera turun dari mobil sebelum ketahuan jika kini wajahnya sudah memerah.
Felicia terlebih dahulu masuk ke dalam rumah , diikuti Denis di belakangnya.
Setelah membersihkan diri , Denis duduk di sofa dengan kedua kaki dilipat dan sekantong plastik besar keripik kentang kesukaannya telah siap di pangkuan .
Tak ketinggalan buku di tangan kanannya , besok matematika yang diujikan ia harus belajar ekstra.
"Denis .jangan banyak-banyak makan gituan , banyak micinnya ! " Pekik Felicia mendapati anaknya sedang menikmati camilan.
"Micin enak mam ." Jawab Denis sambil memasukkan kripik kentang ke mulutnya , tanpa menghiraukan maminya .
"Anak sekarang susah bener dibilangin. " Gerutu Felicia.
Drt...drt....
Ponsel Felicia yang tergeletak di atas meja berdering, sebuah panggilan video masuk .
Denis melirik sekilas ID penelponnya , mas Reihan kalau Denis tak salah lihat .
Lagi , Denis melihat senyum lepas maminya ketika menjawab video call itu .
Denis cukup senang , sudah lama ia tak melihat senyum sumringah maminya.
Untuk saat ini Denis harus pasang kuda-kuda , ia tak mau ada yang menyakiti mami tersayangnya .
Dengan berlari , Felicia menuju kamarnya .
Ia tak ingin Denis menguping pembicaraan mereka , ya walaupun bukan pembicaraan yang tidak-tidak.
Felicia pov
Aku segera masuk ke kamar setelah ku angkat video call dari Reihan , bukan apa-apa cuma aku malas meladeni mulut Denis yang super bawel itu .
Anak itu pasti tak akan berhenti meledekku , yang waktu pulang tadi saja aku masih malu .
"Haiii " sapa Reihan .
"Halo "
"Tante Cia !" Ah suara Tiara , anak perempuan yang menggemaskan.
Dia memanggilku Cia , tak banyak yang memanggilku seperti itu . Cuma Adit , iya cuma Adit dulu yang memanggilku dengan nama itu .
"Tiara belum bobo ?"
"Belum Tante , aku digangguin sama ayah. Katanya gak boleh bobo dulu sebelum ayah telpon Tante Cia , aku mau saja Tante tapi dengan syarat ayah mau pakai bando kayak aku. " ucap Tiara polos .
Aku tertawa melihat Reihan begitu imut memakai bando dengan bentuk telinga kelinci itu , mereka terlihat begitu kompak.
"Tiara , aduh kenapa bilang sama Tante sih ?" omel Reihan , Tiara hanya terkikik mendengar omelan Reihan.
"Tante , ayah kangen sama Tante. "
Ucapan Tiara membuatku tercengang , kangen katanya ? Baru tadi sore mereka bertemu denganku , sudah kangen saja .
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Tiara .
Jangan terlalu pede Felicia , itu hanya omongan asal.
"Udah dulu ya , sepertinya Tiara sudah mengantuk bobok yuk nak." Ucap Reihan .
Tiara mencebik kesal. "Ayah nih , tadi gangguin aku mau bobo . Sekarang malah disuruh bobo , kalau kang...."
Tiara belum menyelesaikan ucapannya , Reihan terlebih dahulu membungkam mulut anak itu .
"Aku tutup ya , sampai jumpa. Tiara , d**a sama Tante ." Titah Reihan yang diangguki Tiara.
"Dadah Tante Cia , besok ketemu lagi ya ?" ucap Tiara .
"Iya , dadah. Selamat malam Tiara."
Segera ku matikan video call itu , aku ingin mengawasi Denis apakah anak itu belajar dengan benar atau tidak .
Aku melangkah ke arah ruang televisi , ada Denis di sana .
Ia tampak serius dengan bukunya , bisa dikatakan kelewat rajin dari biasanya yang sama sekali tak pernah ku lihat ia memegang buku . Tapi walaupun begitu , Denis tetap selalu menjadi bintang kelas , sama seperti Adam dulu saat masih sekolah.
Mereka jagoan ku yang bisa ku banggakan , mereka bisa membuktikan bahwa tanpa ayah di samping mereka tak mempengaruhi kualitas hidupnya .
Ku usap air mata yang tiba-tiba mengalir di pipiku , terharu jika melihat Denis tumbuh tanpa kasih sayang ayah .
"Mam ." Ucap Denis saat sadar akan keberadaanku .
"Ya ?" Aku mendekati Denis .
"Mami nangis ?" Tanya Denis , ia memang peka tentang hal sekecil apapun yang terjadi padaku .
Aku menggeleng , aku tak ingin Denis tahu .
"Mami labil deh , tadi senyum-senyum sekarang nangis . Hadeeeh , wanita suka gitu ya ?"
Sialnya aku tak pernah menyembunyikan sesuatu dari Denis , dia selalu saja bisa menebak . Apa-apaan ? Tadi Denis mengataiku labil ?
Pengen ku jitak rasanya anak ini, suka ngeselin !
"Belajar yang bener aja , jangan urusin yang tidak-tidak." Ucapku mengalihkan pembicaraan.
Ku lihat Denis malah menutup bukunya.
Hey ! Disuruh belajar kenapa malah udahahn ?
"Kenapa ditutup?"
"Udah selesai." Ucapnya enteng .
Aku mengernyit. "Kok cepet ?"
"Belajarnya udah dicicil kemarin-kemarin mam , biar otaknya gak bledos. "
Aku hanya membulatkan mulutku , Denis beranjak dari duduknya sepertinya ia sudah mengantuk .
"Mam , Denis tidur dulu ya . Mami jangan tidur malam-malam , jangan pacaran Mulu ." Ucapnya sembari melangkah ke kamarnya .
Aku tersipu , dasar anak itu . Suka sekali mengejek maminya ini .
Sudahlah , lebih baik aku juga tidur .
____
Author pov
Seperti yang Tiara bilang tadi malam , sore ini ia kembali ke cafe Felicia.
Reihan , ayah anak itu menuruti saja keinginan putri semata wayangnya.
Sekalian ia bisa bertemu dengan Felicia , janda cantik kalau kata Reihan .
Reihan hampir setiap hari diajak Tiara ke cafe ini , anak itu senang sekali menikmati ice cream di cafe ini yang memang benar-benar lezat .
Pertama Tiara mengenal cafe ini saat sekolah TKnya mengadakan field study bulan lalu, dipilihlah El Denis cafe sebagai tempat pengenalan bagi anak-anak TK itu .
Di El Denis mereka diajarkan cara membuat ice cream yang unik , berbentuk kerucut seperti gunung dan rasanya sangat enak .
Sejak itulah , Tiara ketagihan untuk terus mengunjungi cafe .
Ditambah lagi pemiliknya yang begitu ramah , membuat Tiara senang berkunjung ke sana .
Tring...
Lonceng pintu cafe berbunyi , menandakan ada pengunjung yang datang .
Felicia sudah hapal siapa yang datang dijam ini , ia menyambut gadis kecil itu dengan senyum ramah .
"Hai Tiara ."
"Hai Tante , Tiara dateng lagi sama ayah ." Ucap Tiara .
Pintu Kembali terbuka , menampakkan seorang pria dengan stelan kerjanya.
"Selamat datang kembali di El Denis cafe. " Sapa Felicia.
Reihan hanya mengangguk , kemudian senyum tipis tersungging di bibirnya .
"Tante , Tiara mau Merapi mountain ice ya . Seperti biasa, " ucap Tiara .
"Hei , itu gak kebesaran buat kamu ? Kamu sudah tiap hari makan ice cream , pesen yang agak kecil ya ?" Tiara menggeleng cepat.
"No ! Pokoknya yang itu , kalau Tiara gak abis, masih ada ayah ."
Reihan mendesah pelan , anaknya memang susah dibujuk apapun itu harus keturutan.
"Ya sudah , Merapi mountain ice satu ya."
Felicia mengangguk , ia menuju meja pesanan untuk meminta pelayannya untuk membuatkan pesanan Tiara .
Setelah pesanan jadi , Felicia sendiri yang mengantarkannya ke meja biasa tempat Tiara duduk.
"Silahkan dinikmati." Ucap Felicia sambil meletakkan ice cream jumbo itu.
"Horeii ! Makasih Tante " Teriak Tiara.
Sementara Reihan hanya harap-harap cemas , ia takut anaknya terkena flu karena setiap hari makan es .
Ya meskipun selama ini memang tidak pernah ada tanda-tanda akan terkena flu , namun tetap saja ia khawatir.
Reihan memakan separuh lebih bagian es Tiara , agar anaknya itu tak makan terlalu banyak.
Felicia hanya tersenyum melihat dua anak dan bapak ini berebut ice cream di depannya , Reihan sepertinya juga menikmati ice cream tadi .
"Sudah habis , pulang yuk ? Papa mau ke kantor lagi ." ucap Reihan , Tiara sedikit kecewa karena ia masih ingin berlama-lama di sini .
Sebenarnya Reihan sama halnya dengan Tiara , namun ada pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantornya.
"Besok kita ke sini lagi , gimana ?" Bujuk Reihan .
Beruntunglah kali ini Tiara mengangguk , jadi ia tak perlu lagi repot-repot mencari cara agar anaknya mau diajak pulang .
"Kita pulang dulu ya Tante , besok ke sini lagi ." ucap Tiara .
"Iya , makasih ya sudah langganan di sini." balas Felicia.
Reihan dan Tiara pamit pulang , tanpa sadar Felicia masih melihat ke arah mereka sampai keduanya benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Bodoh, ngapain bengong di sini sih. " gerutu Felicia lalu ia kembali kepada rutinitas nya di cafe.