PART 4
Sudah setengah jam Felicia mencoba membangunkan Denis namun anak itu belum juga bangun, memang anak itu sulit sekali jika disuruh bangun pagi .
Felicia sampai geleng kepala , mungkin ini turunan dari Miko yang juga sulit untuk dibangunkan .
Lagi , jika menyangkut Denis , otomatis pikiran Felicia lari kepada Miko.
Banyak dari diri Denis yang diwarisi Miko , ketampanan salah satu contohnya.
Felicia kadang tersenyum sendiri jika mengingat Miko , terlepas dari masalahnya dengan pria itu .
Setidaknya Miko pernah menjadi bagian terindah dari hidupnya , pernah menjadi sandaran ternyaman bagi dirinya.
Sudah sudah ! Felicia mengenyahkan pikiran tentang lelaki itu , kini ia harus cepat membangunkan Denis kalau tidak anaknya itu bisa telat .
Gawat kalau sampai terlambat berangkat sekolah, pasalnya ini hari pertama anak itu UTS .
"Bangun Denis !" Felicia menepuk pelan pipi putranya yang lembut , seperti p****t bayi .
"Ehmmm... masih ngantuk mami , lima menit lagi ." Denis mengeratkan selimutnya.
"Kalau gitu , ayam gorengnya mami kasih kucing !" Bisik Felicia tepat di telinga Denis .
Sedetik..
Dua detik..
Denis masih mencerna bisikan maminya .
Tunggu ! Tunggu ! Ayam goreng ?
Denis dengan cepat membuka matanya , menyibakkan selimutnya lalu bergegas ke kamar mandi .
Sayang sekali jika ayam goreng yang nikmat itu dikasihkan kucing , ia saja sangat suka ayam goreng !
Tidak rela !
Sepuluh menit Denis selesai mandi , lebih cepat dua puluh menit dari biasanya.
Pikirannya fokus kepada ayam goreng , takut kalau-kalau ayam itu sudah jadi santapan pagi kucing-kucing yang lapar .
"Mam , Denis sudah siap. Mana sarapannya ?" Denis sudah duduk di meja makan , namun belum tersaji makanan dengan lauk nikmat itu.
Felicia membawa sepiring nasi goreng , meletakkannya di depan Denis .
"Loh ? Kok nasi goreng mam ? Ayam gorengnya mana ?" tanya Denis kecewa .
"Udah mami kasih makan kucing , kamu lama sih ." Ucap Felicia santai .
Denis mencebik , tega sekali maminya ini .
Dengan terpaksa Denis memasukkan sesendok demi sesendok nasi goreng itu ke mulutnya , napsu makannya telah hilang .
Felicia terbahak-bahak melihat wajah anaknya yang cemberut , menggemaskan sekali .
"Maaf , tadi mami bohong . Abisnya kamu susah sekali di suruh bangun, " ucap Felicia memelas , agar anaknya itu berhenti ngambek .
"Tau ah !"
"Gak sopan ya .."
"Kutuk nih jadi batu !" Denis terlebih dahulu menyela ucapan Felicia.
Felicia tersenyum lebar dibuatnya , anak sekarang mana ada yang takut dengan ancaman dikutuk jadi batu ?
"Nanti pulang ke sini lagi , selama seminggu Mami Masakin ayam goreng." Ucap Felicia.
Mata Denis berbinar , senyum sumringah tersungging di bibirnya.
"Janji ya mam ?" Denis mengangkat jari kelingkingnya.
Felicia menyambutnya dengan menautkan jari kelingking dengan jari Denis, "Janji. "
"Makasih mam ." dengan cepat Denis melahap habis nasi gorengnya , ucapan maminya kembali membangkitkan selera makannya .
____
Bel masuk pun berbunyi , anak-anak duduk di nomor meja seuai nomor absen .
Beruntunglah Rama , ia berada tepat di samping meja Denis .
Ia bernapas lega , jika nanti ada yang belum tahu jawabnya ia tinggal minta contekan Denis .
Bagaimana nasibnya dengan Devan? Ah , salah sendiri namanya berawalan huruf D jadi ia mendapat ruangan yang berbeda dengan Denis yang bernama Pratama El Denis Pramudya.
Waktu tersisa hanya lima belas menit , Denis sudah menyelesaikan soal-soalnya .
Tinggal menunggu Rama jika anak itu memerlukan bantuan , tak lama Rama menoleh ke arahnya .
"Nomor tiga puluh sampai lima puluh. " Ucap Rama tanpa suara .
Denis mengangguk , ia memberi jawaban dengan isyarat jari .
Dengan skill mencontek yang baik , Rama bisa menangkap gerakan jari Denis dengan cepat .
Fiuh ..
Rama mengusap keningnya yang basah oleh keringat , baru saja ia selesai senam jari .
Rama tersenyum puas , soalnya kini telah selesai.
Denis terlebih dahulu meninggalkan ruangan tes , disusul oleh Rama .
"Makasih bro. " Rama merangkul bahu Denis .
"Sama-sama ."
Berbeda dengan mereka berdua , Devan belum terlihat keluar dari ruangan.
Rama dan Denis dengan setia menunggu teman seperjuangannya itu , meski kini Devan harus berjuang sendirian.
Lima menit kemudian Devan keluar , wajahnya pias .
Rama terkikik melihat wajah Devan , mengenaskan sekali .
"Kenapa lo?" tanya Rama .
Devan dengan lemas mendudukkan bokongnya di samping Denis. "Punya gue 15 nomor belum ke isi pas lima menit terakhir."
"Waduh , terus ?"
"Gue ngitung kancing lah , biar cepet." Jawaban Devan membuat Rama dan Denis terbahak.
"Jurus Lo masih dipakai aja? " ledek Denis .
"Gue cuma punya satu itu ." Ucap Devan .
Tak ingin berlarut dalam kesedihan , Rama mengajak kedua sahabatnya ke kantin .
Mending makan , timbang mikir UTS bikin beban pikiran kata Rama .
Tiga mangkuk bakso dan es teh telah tersaji di depan mereka , Devan yang sudah kelaparan langsung melahap bakso itu .
"Hueh ..hueh.. panas !" Keluh Devan .
Denis terkekeh. " Bege ! Panas Lo sosor aja ."
"Laper banget ya Lo !" Sindir Rama .
Denis menyodorkan segelas es ke arah Devan , mungkin bisa menghilangkan panas di lidah bocah itu .
"Thanks Den ."
Rama mengelus perutnya yang terasa kenyang , dibukanya dua kancing kemeja seragam. Gerah katanya .
Denis berulangkali melirik jam yang melingkar di lengannya. "Le , gue cabut ya . Gue mau pulang ke rumah mami." Pamitnya .
Sebelum beranjak ia menatap kedua Sabahatnya , membuat mereka menatap balik wajah Denis.
Sebuah cengiran Denis berikan kepada mereka , cengiran kuda yang penuh arti .
"Bayarin bakso sama es gue dulu ya , belum sempet tarik tunai . He. " Ucap Denis polos .
Devan mengibaskan tangannya. "Haaah , gue udah tebak dari cengiran Lo . Iya , gue bayarin . Semangkok bakso inih. " Ucap Devan .
Denis menepuk bahu Devan ."Makasih brott ." Ucapnya , kemudian meninggalkan area kantin .
_____
Denis memicingkan matanya ketika mendapati sebuah mobil mewah terparkir di depan cafe maminya , ia segera turun dari mobilnya untuk memastikan siapa yang datang .
Denis masuk ke dalam cafe , ia mendapati Felicia sedang menerima tamu .
Seorang lelaki bersama gadis kecil , keduanya terlihat akrab dengan Felicia.
Ada rona bahagia dari wajah Felicia , Denis seperti mencium bau-bau kasmaran tengah melanda maminya .
Denis memutar tubuhnya , lebih baik ia ganti baju dulu lalu membantu pegawai cafe melayani pengunjung.
Biarkan saja maminya bersama lelaki itu , Denis akan memantaunya terlebih dahulu.
Ia akan bertindak jika lelaki itu membuat maminya menangis , sementara ini ia bebaskan maminya.