PART 4

1081 Kata
PART 4    Sudah setengah jam Felicia mencoba membangunkan Denis namun anak itu belum juga  bangun, memang anak itu sulit sekali jika disuruh bangun pagi . Felicia sampai geleng kepala , mungkin ini turunan dari Miko yang juga sulit untuk dibangunkan . Lagi , jika menyangkut Denis , otomatis pikiran Felicia lari kepada Miko. Banyak dari diri Denis yang diwarisi Miko , ketampanan salah satu contohnya. Felicia kadang tersenyum sendiri jika mengingat Miko , terlepas dari masalahnya dengan pria itu . Setidaknya Miko pernah menjadi bagian terindah dari hidupnya , pernah menjadi sandaran ternyaman bagi dirinya. Sudah sudah ! Felicia mengenyahkan pikiran tentang lelaki itu , kini ia harus cepat membangunkan Denis kalau tidak anaknya itu bisa telat . Gawat kalau sampai terlambat berangkat sekolah, pasalnya ini hari pertama anak itu UTS . "Bangun Denis !" Felicia menepuk pelan pipi putranya yang lembut , seperti p****t bayi . "Ehmmm... masih ngantuk mami , lima menit lagi ." Denis mengeratkan selimutnya. "Kalau gitu , ayam gorengnya mami kasih kucing !" Bisik Felicia tepat di telinga Denis . Sedetik.. Dua detik.. Denis masih mencerna bisikan maminya . Tunggu ! Tunggu ! Ayam goreng ? Denis dengan cepat membuka matanya , menyibakkan selimutnya lalu bergegas ke kamar mandi . Sayang sekali jika ayam goreng yang nikmat itu dikasihkan kucing , ia saja sangat suka ayam goreng ! Tidak rela ! Sepuluh menit Denis selesai mandi , lebih cepat dua puluh menit dari biasanya. Pikirannya fokus kepada ayam goreng , takut kalau-kalau ayam itu sudah jadi santapan pagi kucing-kucing yang lapar . "Mam , Denis sudah siap.  Mana sarapannya ?" Denis sudah duduk di meja makan , namun belum tersaji makanan dengan lauk nikmat itu. Felicia membawa sepiring nasi goreng , meletakkannya di depan Denis . "Loh ? Kok nasi goreng mam ? Ayam gorengnya mana ?" tanya Denis kecewa . "Udah mami kasih makan kucing , kamu lama sih ." Ucap Felicia santai . Denis mencebik , tega sekali maminya ini . Dengan terpaksa Denis memasukkan sesendok demi sesendok nasi goreng itu ke mulutnya , napsu makannya telah hilang . Felicia terbahak-bahak melihat wajah anaknya yang cemberut , menggemaskan sekali . "Maaf , tadi mami bohong . Abisnya kamu susah sekali di suruh bangun, " ucap Felicia memelas , agar anaknya itu berhenti ngambek . "Tau ah !" "Gak sopan ya .." "Kutuk nih jadi batu !" Denis terlebih dahulu menyela ucapan Felicia. Felicia tersenyum lebar dibuatnya , anak sekarang mana ada yang takut dengan ancaman dikutuk jadi batu ? "Nanti pulang ke sini lagi , selama seminggu Mami Masakin ayam goreng." Ucap Felicia. Mata Denis berbinar , senyum sumringah tersungging di bibirnya. "Janji ya mam ?" Denis mengangkat jari kelingkingnya. Felicia menyambutnya dengan menautkan jari kelingking dengan jari Denis, "Janji. " "Makasih mam ." dengan cepat Denis melahap habis nasi gorengnya , ucapan maminya kembali membangkitkan selera makannya . ____ Bel masuk pun berbunyi , anak-anak duduk di nomor meja seuai nomor absen . Beruntunglah Rama , ia berada tepat di samping  meja Denis . Ia bernapas lega , jika nanti ada yang belum tahu jawabnya ia tinggal minta contekan Denis . Bagaimana nasibnya dengan Devan? Ah , salah sendiri namanya berawalan huruf D jadi ia mendapat ruangan yang berbeda dengan Denis yang bernama Pratama El Denis Pramudya. Waktu tersisa hanya lima belas menit , Denis sudah menyelesaikan soal-soalnya . Tinggal menunggu Rama jika anak itu memerlukan bantuan , tak lama Rama menoleh ke arahnya . "Nomor tiga puluh sampai lima puluh. " Ucap Rama tanpa suara . Denis mengangguk , ia memberi jawaban dengan isyarat jari . Dengan skill mencontek yang baik , Rama bisa menangkap gerakan jari Denis dengan cepat . Fiuh .. Rama mengusap keningnya yang basah oleh keringat , baru saja ia selesai senam jari . Rama tersenyum puas , soalnya kini telah selesai. Denis terlebih dahulu meninggalkan ruangan tes , disusul oleh Rama . "Makasih bro. " Rama merangkul bahu Denis . "Sama-sama ." Berbeda dengan mereka berdua , Devan belum terlihat keluar dari ruangan. Rama dan Denis dengan setia menunggu teman seperjuangannya itu , meski kini Devan harus berjuang sendirian. Lima menit kemudian Devan keluar , wajahnya pias . Rama terkikik melihat wajah Devan , mengenaskan sekali . "Kenapa lo?" tanya Rama . Devan dengan lemas mendudukkan bokongnya di samping Denis. "Punya gue 15 nomor belum ke isi pas lima menit terakhir." "Waduh , terus ?" "Gue ngitung kancing lah , biar cepet." Jawaban Devan membuat Rama dan Denis terbahak. "Jurus Lo masih dipakai aja? " ledek Denis . "Gue cuma punya satu itu ." Ucap Devan . Tak ingin berlarut dalam kesedihan , Rama mengajak kedua sahabatnya ke kantin . Mending makan , timbang mikir UTS bikin beban pikiran kata Rama . Tiga mangkuk bakso dan es teh  telah tersaji di depan mereka , Devan yang sudah kelaparan langsung melahap bakso itu . "Hueh ..hueh.. panas !" Keluh Devan . Denis terkekeh. " Bege ! Panas Lo sosor aja ." "Laper banget ya Lo !" Sindir Rama . Denis menyodorkan segelas es ke arah Devan , mungkin bisa menghilangkan panas di lidah bocah itu . "Thanks Den ." Rama mengelus perutnya yang terasa kenyang , dibukanya dua kancing kemeja seragam. Gerah katanya . Denis berulangkali melirik jam yang melingkar di lengannya. "Le , gue cabut ya . Gue mau pulang ke rumah mami." Pamitnya . Sebelum beranjak ia menatap kedua Sabahatnya , membuat mereka menatap balik wajah Denis. Sebuah cengiran Denis berikan kepada mereka , cengiran kuda yang penuh arti . "Bayarin bakso sama es gue dulu ya , belum sempet tarik tunai . He. " Ucap Denis polos . Devan mengibaskan tangannya. "Haaah , gue udah tebak dari cengiran Lo . Iya , gue bayarin . Semangkok bakso inih. " Ucap Devan . Denis menepuk bahu Devan ."Makasih brott ." Ucapnya , kemudian meninggalkan area kantin . _____ Denis memicingkan matanya ketika mendapati sebuah mobil mewah terparkir di depan cafe maminya , ia segera turun dari mobilnya untuk memastikan siapa yang datang . Denis masuk ke dalam cafe , ia mendapati Felicia sedang menerima tamu . Seorang lelaki bersama gadis kecil , keduanya terlihat akrab dengan Felicia. Ada rona bahagia dari wajah Felicia , Denis seperti mencium bau-bau kasmaran tengah melanda maminya . Denis memutar tubuhnya , lebih baik ia ganti baju dulu lalu membantu pegawai cafe melayani pengunjung. Biarkan saja maminya bersama lelaki itu , Denis akan memantaunya terlebih dahulu. Ia akan bertindak jika lelaki itu membuat maminya menangis , sementara ini ia bebaskan maminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN