PART 6
Adam sedang duduk di kursi ruangan kerjanya , getaran dari ponselnya mengalihkan fokusnya dari berkas yang bertumpuk di depannya .
"Halo "
"........"
"Kerja bagus Do , geber terus . Jangan sampai ada yang tahu ."
"......"
"Oke , gue segera transfer ke rekening lo ."
Sebuah seringaian menghiasi wajah tampan Adam , ia sangat senang rencananya selama ini perlahan berjalan mulus .
"Kita tunggu tanggal mainnya. "
Adam memencet interkom , ia menghubungi sekretaris nya.
"Sari , tolong kosongkan jadwal saya selama seminggu ke depan ." Ucapnya .
"Baik pak ." Jawab Sari .
Adam sudah membayangkan akan berlibur di Semarang , sekaligus melepas rasa rindunya kepada Felicia.
Kini ia kembali berkutat dengan berkas-berkasnya , agar cepat selesai dan cepat pula ia pulang.
____
Hari ini pembagian nilai UTS , setelah seminggu siswa-siswi menjalaninya.
Dapat nilai jelek ataupun bagus sepertinya sama saja bagi Marsya , tidak ada yang peduli.
Seperti sekarang , ia hanya memandangi hasil UTSnya yang ia letakkan di meja .
Hampir semua nilainya 90 , namun itu tak berati bagi Marsya apalagi orang tuanya .
Berbeda dengan Audrie , ia kini tengah habis-habisan dimarahi oleh Adit .
Kini ia tengah di sidang oleh kedua orang tuanya .
"Apa ini ? Matematika 3,55 , bahasa Indonesia 4,0 , biologi 3,45 , kimia 5,7 . Ini nilai apa Ipk Audrie ! " Sindir Adit .
Audrie hanya menunduk , ia takut kini papanya tengah menatapnya tajam .
"Maaf pa. " Gumam Audrie lirih .
"Mulai besok , jadwal les kamu papa tambah. Setiap hari kamu les !" Ucap Adit membuat Audrie terperangah.
Bayangkan saja , ia harus berpusing-pusing setelah seharian sekolah masih saja ditambah jam les .
Les yang seminggu tiga kali saja sudah membuatnya puyeng , ini malah setiap hari dalam seminggu ia harus les.
Poor you Audrie! Batinnya .
"Pa , apa gak kebanyakan? Tiga kali seminggu cukup pa. " Milka mencoba menengahi , ia kasihan juga dengan Audrie .
"Keputusan papa sudah bulat ma , semua juga demi Audrie," ucap Adit final .
Adit beranjak dari duduknya , ia lelah hari ini . Sebaiknya ia istirahat saja .
"Ma , gimana ?" Tanya Audrie.
"Maaf sayang , Mama tidak bisa menolak keinginan papamu . Ini juga demi masa depanmu ." Ucap Milka .
Audrie mendengus kesal, bersiaplah setelah liburan selesai ia akan segera bertempur dengan jadwal les yang padat .
Salahnya sendiri , waktu kecil merengek minta sekolah bareng Marsya padahal seharusnya ia sekarang masih kelas X .
Ingin sekali ia meraung-raung saat ini , agar Adit membatalkan niatnya.
Namun Audrie urungkan , ia tahu papanya yang teguh pendirian itu .
Bukannya dikurangi , malah nanti ditambah hukuman buatnya. Dengan pengurangan uang jajan misalnya ,Audrie bergidik ngeri membayangkannya .
"Jangan mikir yang aneh-aneh." ucap Milka seakan mengerti pikiran Audrie .
"Hehe ... enggak ma."
_____
Keesokan harinya , Adam mendatangi rumah Adit.
Ia bermaksud untuk berpamitan kepada papanya , sekaligus meminta papanya menghandle pekerjaannya.
"Pagi pa. " Sapa Adam saat melihat Adit telah siap berangkat ke kantor.
"Loh , mau ke mana ? Pake koper segala ?" cerocos Milka yang tiba-tiba muncul di belakang Adit .
Adam mencium punggung tangan Milka.
"Adam mau pamit ma , Adam mau pulang ke Semarang. Sekalian minta bantuan papa untuk mengurus kantor selama Adam pergi, "
Adit mengangguk setuju , sudah lama Adam tak pulang ke rumah maminya .
Soal urusan kantor, bagi Adit itu urusan yang mudah .
Audrie baru saja turun dengan masih memakai piyama tidurnya , hari libur baginya hari untuk bermalas-malasan.
"Mas ,mas Adam mau ke mana ? Mau minggat ya ? " ucap Audrie histeris.
Adam mengusap wajahnya kasar , ia sengaja datang pagi agar tidak ketemu bocah satu ini malah sekarang Audrie sudah ada di hadapannya.
"Iya , minggat Ning kali asat ! " ucap Adam dengan bahasa Jawa yang tak dimengerti Audrie.
"Kali asat mana sih mas ? Aku ikut ya ?" rengek Audrie.
Adam memutar bola matanya malas , Audrie tak tahu saja kata barusan yang ia ucapkan itu bukan menunjukkan tempat akan tetapi sebuah u*****n kekesalan .
"Mas , ikut ya ? Plisss. " Rengeknya lagi , kini Audrie tengah berlutut di depan kakaknya itu , berharap hati kakaknya luluh dan mau mengajaknya .
"Iya , iya ikut . Jangan nyusahin dan jangan rewel !" Putus Adam , ia tak tega melihat adiknya yang hampir menangis itu .
Itung-itung sekalian menyenangkan hati Audrie , ia tahu pasti adiknya itu butuh refreshing setelah UTS .
"Asikkkk ! " Teriak Audrie , ia berjalan cepat ke kamarnya. Ia harus mengemas bajunya .
Adit hanya geleng kepala. "Seperti mamanya , suka merengek !" cibir Adit .
Milka yang mendengar perkataan Adit , mencubit keras perut rata suaminya membuat Adit meringis kesakitan.
"Aduh , sakit ma. Emang faktanya dulu Mama seperti itu , Mama juga merengek minta ikut pas papa mau ke Semarang." Ucap Adit.
Tangan Milka sudah siap kembali mencubit Adit , sebelum terjadi , Adit terlebih dahulu lari tunggang langgang menjauhi Milka dan cubitan mautnya .
Adam terkekeh melihat kelakuan kedua orangtuanya , seperti bocah batinnya .
"Papa berangkat dulu ya Mama sayang , dadaaaah. Adam minta diantar pak supir ya , papa ada meeting pagi !" Teriak Adit dari ambang pintu, lalu masuk ke dalam mobil yang telah terparkir di depan rumah .
Audrie turun dengan menggeret sebuah koper besar , ia kelihatan kesusahan namun Adam sama sekali tak berniat membantu Audrie.
"Kamu mau liburan apa mau minggat sih ?" gerutu Adam melihat koper sebesar itu , sedangkan ia hanya membawa koper berukuran setengahnya .
"Liburan lah mas , aku bawa banyak. Catokan , sisir listrik , hairdryer, tongsis , tripod. "
Adam menggeram kesal , barang yang dibawa Audrie benar-benar barang yang tak bermanfaat. Menambah bebannya saja , karena nanti pasti Audrie tak mau membawa kopernya sendiri.
"Ya sudahlah , daripada nanti kita telat . Ma, kita pamit ya ." Ucap Adam , ia menyalami tangan Milka .
"Iya , hati-hati di jalan ,kalau sampai Semarang kabarin . Terus buat Audrie jangan ngerepotin masmu , sama jangan bikin onar di rumah mami Felicia ya !" Titah Milka yang diangguki cepat oleh Audrie, ia tak ingin mamanya berlama-lama berceramah.
"Kita berangkat ma , dadaaah ."
____
"Mas ,Lo gak tidur di rumah gue aja ? Di sini kamarnya cuma ada dua , buat mami sama Audrie. " Cerocos Denis , ia ingin ditemani Adam pulang malam ini .
Adam dan Audrie akan menginap di rumah Felicia , sedangkan Denis yang sejak pagi di sana terpaksa harus pulang karena keterbatasan kamar .
"Ogah , biar gue tidur di sofa ." Tukas Adam .
"Ayolah mas , anterin gue pulang kek! " Rengek Denis .
"Emoh Denis , di rumah Lo banyak setannya. Sereeeem. " Ucap Adam menakut-nakuti Denis .
Bocah remaja itu memang takut hantu , jangankan hantu dia tidur dengan kondisi lampu padam pun tidak pernah.
"Setan Lo mas , malah nakutin. Anterin gue pulang sekarang !"
Denis bergidik ngeri , kalau-kalau saat ia pulang nanti ada mbak Kunti yang numpang di mobilnya .
Adam menyelimuti tubuhnya, kemudian berbaring di atas sofa. Tak menghiraukan Denis yang kini sepertinya akan menangis .
"Mas ,plissss. Anterin pulang ."
Adam tak bergeming , ia semakin merapatkan matanya .
"Sebel deh gue , ngapain pulang Lo kalau ngerusuhin hidup gue !" gerutu Denis .
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam , apalagi ini malam Jum'at.
"Mami , Denis takut pulang ."
Sayangnya Felicia sudah tidur jam sembilan tepat tadi , setetes air mata mengalir di pipi Denis .
"Tahu ah , gue berani-berani in pulang. Bismillah."
Dasar Adam , kakak laknat ! sudah untung Denis menjemputnya di bandara tadi.
Dengan mengumpulkan keberanian , Denis mengemudikan mobil ke rumahnya .
Untung saja hanya berjarak beberapa kilometer saja , hanya memerlukan lima belas menit bagi Denis untuk sampai di rumahnya.