PART 6

1305 Kata
 PART 6    Adam sedang duduk di kursi ruangan kerjanya , getaran dari  ponselnya mengalihkan fokusnya dari berkas yang bertumpuk di depannya . "Halo " "........" "Kerja bagus Do , geber terus . Jangan sampai ada yang tahu ." "......" "Oke , gue segera transfer ke rekening lo ." Sebuah seringaian menghiasi wajah tampan Adam , ia sangat senang rencananya selama ini perlahan berjalan mulus . "Kita tunggu tanggal mainnya. " Adam memencet interkom , ia menghubungi sekretaris nya. "Sari , tolong kosongkan jadwal saya selama seminggu ke depan ." Ucapnya . "Baik pak ." Jawab Sari . Adam sudah membayangkan akan berlibur di Semarang , sekaligus melepas rasa rindunya kepada Felicia. Kini ia kembali berkutat dengan berkas-berkasnya , agar cepat selesai dan cepat pula ia pulang. ____ Hari ini pembagian nilai UTS , setelah seminggu siswa-siswi menjalaninya. Dapat nilai jelek ataupun bagus sepertinya sama saja bagi Marsya , tidak ada yang peduli. Seperti sekarang , ia hanya memandangi hasil UTSnya yang ia letakkan di meja . Hampir semua nilainya 90 , namun itu tak berati bagi Marsya apalagi orang tuanya . Berbeda dengan Audrie , ia kini tengah habis-habisan dimarahi oleh Adit . Kini ia tengah di sidang oleh kedua orang tuanya . "Apa ini ? Matematika 3,55 , bahasa Indonesia 4,0 , biologi 3,45 , kimia 5,7 . Ini nilai apa Ipk Audrie ! " Sindir Adit . Audrie hanya menunduk , ia takut kini papanya tengah menatapnya tajam . "Maaf pa. " Gumam Audrie lirih . "Mulai besok , jadwal les kamu papa tambah. Setiap hari kamu les !" Ucap Adit membuat Audrie terperangah. Bayangkan saja , ia harus berpusing-pusing setelah seharian sekolah masih saja ditambah jam les . Les yang seminggu tiga kali saja sudah membuatnya puyeng , ini malah setiap hari dalam seminggu ia harus les. Poor you Audrie! Batinnya . "Pa , apa gak kebanyakan? Tiga kali seminggu cukup pa. " Milka mencoba menengahi , ia kasihan juga dengan Audrie . "Keputusan papa sudah bulat ma , semua juga demi Audrie," ucap Adit final . Adit beranjak dari duduknya , ia lelah hari ini . Sebaiknya ia istirahat saja . "Ma , gimana ?" Tanya Audrie. "Maaf sayang , Mama tidak bisa menolak keinginan papamu . Ini juga demi masa depanmu ." Ucap Milka . Audrie mendengus kesal, bersiaplah setelah liburan selesai ia akan segera bertempur dengan jadwal les yang padat . Salahnya sendiri , waktu kecil merengek minta sekolah bareng Marsya padahal seharusnya ia sekarang masih kelas X . Ingin sekali ia meraung-raung saat ini , agar Adit membatalkan niatnya. Namun Audrie urungkan , ia tahu papanya yang teguh pendirian itu . Bukannya dikurangi , malah nanti ditambah hukuman buatnya. Dengan pengurangan uang jajan misalnya ,Audrie bergidik ngeri membayangkannya . "Jangan mikir yang aneh-aneh." ucap Milka seakan mengerti pikiran Audrie . "Hehe ... enggak ma." _____ Keesokan harinya , Adam mendatangi rumah Adit. Ia bermaksud untuk berpamitan kepada papanya , sekaligus meminta papanya menghandle pekerjaannya. "Pagi pa. " Sapa Adam saat melihat Adit telah siap berangkat ke kantor. "Loh , mau ke mana ? Pake koper segala ?" cerocos Milka yang tiba-tiba muncul di belakang Adit . Adam mencium punggung tangan Milka. "Adam mau pamit ma , Adam mau pulang ke Semarang. Sekalian minta bantuan papa untuk mengurus kantor selama Adam pergi, " Adit mengangguk setuju , sudah lama Adam tak pulang ke rumah maminya . Soal urusan kantor, bagi Adit itu urusan yang mudah . Audrie baru saja turun dengan masih memakai piyama tidurnya , hari libur baginya hari untuk bermalas-malasan. "Mas ,mas Adam mau ke mana ? Mau minggat ya ? " ucap Audrie histeris. Adam mengusap wajahnya kasar , ia sengaja datang pagi agar tidak ketemu bocah satu ini malah sekarang Audrie sudah ada di hadapannya. "Iya , minggat Ning kali asat ! " ucap Adam dengan bahasa Jawa yang tak dimengerti Audrie. "Kali asat mana sih mas ? Aku ikut ya ?" rengek Audrie. Adam memutar bola matanya malas , Audrie tak tahu saja kata barusan yang ia ucapkan itu bukan menunjukkan tempat akan tetapi sebuah u*****n kekesalan . "Mas , ikut ya ? Plisss. " Rengeknya lagi , kini Audrie tengah berlutut di depan kakaknya itu , berharap hati kakaknya luluh dan mau mengajaknya . "Iya , iya ikut . Jangan nyusahin dan jangan rewel !" Putus Adam , ia tak tega melihat adiknya yang hampir menangis itu . Itung-itung sekalian menyenangkan hati Audrie , ia tahu pasti adiknya itu butuh refreshing setelah UTS . "Asikkkk ! " Teriak Audrie , ia berjalan cepat ke kamarnya. Ia harus mengemas bajunya . Adit hanya geleng kepala. "Seperti mamanya , suka merengek !" cibir Adit . Milka yang mendengar perkataan Adit , mencubit keras perut rata suaminya membuat Adit meringis kesakitan. "Aduh , sakit ma. Emang faktanya dulu Mama seperti itu , Mama juga merengek minta ikut pas papa mau ke Semarang." Ucap Adit. Tangan Milka sudah siap kembali mencubit Adit , sebelum terjadi , Adit terlebih dahulu lari tunggang langgang menjauhi Milka dan cubitan mautnya . Adam terkekeh melihat kelakuan kedua orangtuanya , seperti bocah batinnya . "Papa berangkat dulu ya Mama sayang , dadaaaah. Adam minta diantar pak supir ya , papa ada meeting pagi !" Teriak Adit dari ambang pintu, lalu masuk ke dalam mobil yang telah terparkir di depan rumah . Audrie turun dengan menggeret sebuah koper besar , ia kelihatan kesusahan namun Adam sama sekali tak berniat membantu Audrie. "Kamu mau liburan apa mau minggat sih ?" gerutu Adam melihat koper sebesar itu , sedangkan ia hanya membawa koper berukuran setengahnya . "Liburan lah mas , aku bawa banyak.  Catokan , sisir listrik , hairdryer, tongsis , tripod. " Adam menggeram kesal , barang yang dibawa Audrie benar-benar barang yang tak bermanfaat. Menambah bebannya saja , karena nanti pasti Audrie tak mau membawa kopernya sendiri. "Ya sudahlah , daripada nanti kita telat . Ma, kita pamit ya ." Ucap Adam , ia menyalami tangan Milka . "Iya , hati-hati di jalan ,kalau sampai Semarang kabarin . Terus buat Audrie  jangan ngerepotin masmu , sama jangan bikin onar di rumah mami Felicia ya !" Titah Milka yang diangguki cepat oleh Audrie, ia tak ingin mamanya berlama-lama berceramah. "Kita berangkat ma , dadaaah ." ____ "Mas ,Lo gak tidur di rumah gue aja ? Di sini kamarnya cuma ada dua , buat mami sama Audrie. " Cerocos Denis , ia ingin ditemani Adam pulang malam ini . Adam dan Audrie akan menginap di rumah Felicia , sedangkan Denis yang sejak pagi di sana terpaksa harus pulang karena keterbatasan kamar . "Ogah , biar gue tidur di sofa ." Tukas Adam . "Ayolah mas , anterin gue pulang kek! " Rengek Denis . "Emoh Denis , di rumah Lo banyak setannya.  Sereeeem. " Ucap Adam menakut-nakuti Denis . Bocah remaja itu memang takut hantu , jangankan hantu dia tidur dengan kondisi lampu padam pun tidak pernah. "Setan Lo mas , malah nakutin.  Anterin gue pulang sekarang !" Denis bergidik ngeri , kalau-kalau saat ia pulang nanti ada mbak Kunti yang numpang di mobilnya . Adam menyelimuti tubuhnya, kemudian berbaring di atas sofa. Tak menghiraukan Denis yang kini sepertinya akan menangis . "Mas ,plissss. Anterin pulang ." Adam tak bergeming , ia semakin merapatkan matanya . "Sebel deh gue , ngapain pulang Lo kalau ngerusuhin hidup gue !" gerutu Denis . Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam , apalagi ini malam Jum'at. "Mami , Denis takut pulang ." Sayangnya Felicia sudah tidur jam sembilan tepat tadi , setetes air mata mengalir di pipi Denis . "Tahu ah , gue berani-berani in pulang.  Bismillah." Dasar Adam , kakak laknat ! sudah untung Denis menjemputnya di bandara tadi. Dengan mengumpulkan keberanian , Denis mengemudikan mobil ke rumahnya . Untung saja hanya berjarak beberapa kilometer saja , hanya memerlukan lima belas menit bagi Denis untuk sampai di rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN