PART 7
Pagi ini sarapan Felicia terasa lengkap dengan kehadiran dua orang kesayangannya , kurang Denis sebenarnya , tapi kemana anak itu ? Biasanya ia yang akan membuat kerusuhan di manapun ia berada .
Berbeda dengan hari ini , sepertinya anak itu masih molor karena semalam Adam mengiriminya banyak gambar-gambar setan yang seram .
Benar saja , sungguh panjang umur anak itu . Baru diomongin ia sudah berdiri di ambang pintu , dengan lesu ia masuk ke dalam rumah .
"Denis , kenapa matamu ?" Tanya Felicia , nampaknya bocah itu tak tidur semalaman .
"Ngantuk mam , gara-gara anak Mama satu itu . Ngirimin kayak gini ! " Denis menunjukkan ponselnya , dengan layar pecah separuh .
Felicia merinding ketika melihat gambar pocong , kuntilanak , dan sebangsanya , lebih merinding lagi melihat ponsel terbaru Denis yang ia belikan minggu lalu .
"Ponselmu ?" tunjuk Felicia pada ponsel Denis .
"Denis banting lah , takut keleus Mam. " Jawab Denis santai , ditambah cengiran kudanya yang tak pernah ketinggalan .
Denis mencari tempat yang nyaman untuk berbaring , ia tidur di sofa milik Felicia yang empuk .
Baru saja Denis ingin memejamkan matanya , Adam datang dan ia menggulingkan tubuh Denis hingga terjatuh ke lantai .
"Gue mau nonton TV !" Ucap Adam tanpa merasa bersalah , padahal Denis di bawahnya tengah meringis kesakitan.
Felicia mendesah pelan. "Adam , jangan kayak gitu dong . Kasihan adekmu. "
Ia mengelus dadanya , selalu saja mereka bertengkar jika bertemu .
Mending LDR an saja , mereka akan lebih romantis, saling rindu satu sama lain .
"Dosa apa gue punya kakak kaya begini modelnya , ya Allah. Ampuni dosa ku. " Rintih Denis , ia berdiri dan langsung masuk ke dalam kamar Felicia untuk memejamkan matanya.
Setidaknya di sini ramai orang , jadi ia tak perlu was-was jika mendadak ada penampakan .
____
Saat jam makan siang , Denis terbangun dari tidurnya ia segera bangun dan menuju dapur karena merasa haus .
Felicia dan Audrie sedang memasak di sana , Audrie nampaknya sedang belajar beberapa menu kepada Felicia .
Bukan Denis namanya jika tidak membuat keributan , ia mengambil apron yang tergantung.
Dipakainya apron itu , ia mengambil dua buah tomat yang akan diiris oleh Audrie lalu memakannya satu persatu.
"Mas Denis !" Pekik Audrie .
"Apa ?" tanya Denis , ia mendelik ke arah Audrie membuat nyali gadis itu menciut .
"Mami , tomatnya dimakan mas Denis !" Adu Audrie kepada Felicia.
"Mam , Denis makan dua doang ." Denis mencoba membela diri.
"Dua doang , emang jumlahnya dua . Abis tuh , mau bikin sambel tomat pakai apa kalau gini !" Gerutu Audrie.
Felicia yang baru saja mencuci beras, menghampiri mereka berdua yang tengah ribut .
Denis dan Audrie dicampur disatu rumah ? Maka sebentar lagi rumah itu akan roboh, karena mereka sama-sama tidak ada yang mau mengalah .
"Denis , mending kamu ke depan saja ya ? Temenin mas Adam." Titah Felicia.
Dengan patuh Denis menuruti perintah maminya , ia melepas apron yang dipakainya lalu berjalan ke ruang nonton TV.
"Mas ."
"Apa?" kata Adam cuek .
"Mau dengar cerita enggak ?" ucap Denis dengan suara lirih , sengaja agar Adam penasaran.
Adam menoleh ke samping di mana Denis tengah duduk. "Cerita apa ?"
"Mami kayaknya punya pacar deh , soalnya kemarin video call an segala . Kaya ABG , terus ya mami senyum terus sampai giginya kering." Jelas Denis .
Seketika rahang Adam mengeras , ia tak suka jika mendengar maminya kembali menjalin hubungan dengan pria.
"Buat apa sih pacar-pacaran , bilangin mami . Semua itu tidak perlu , membuang waktu saja !" Ucap Adam dengan nada ketus .
"Biarin , mami kan masih cantik . Masih keliatan muda , pacaran boleh lah . Biar mami punya pendamping hidup."
"TIDAK BOLEH !" Nada bicara Adam mulai meninggi , sepertinya ia mulai tersulut emosi.
"Kenapa ? Biar mami bahagia mas !"
Denis mulai kesal kepada Adam , apa-apaan kakaknya ini melarang maminya punya pacar .
Ketegangan menyelimuti keduanya .
"Tau apa tentang kebahagiaan mami ? Lo tuh masih bocah !"
Denis beranjak dari duduknya , ia mencengkeram kerah baju Adam.
"Gue tahu, mami banyak senyum semenjak kenal pria itu ! Lo nggak pernah tau mami hampir setiap malem nangis ! Mami kesepian ! Dia butuh temen !"
Adam berusaha melepaskan cengkeraman tangan Denis , namun sepertinya anak itu sedang kesetanan membuat cengkeramannya sangat kuat .
"Ya Lo lah yang nemenin , buat apa Lo di sini ? Gue di Jakarta bukannya gue main-main, gue kerja ! Mami gak mau diboyong ke Jakarta !"
Akhirnya Adam bisa melepaskan cengkraman Denis .
"Mas , pliisss . Sepertinya dia lelaki yang baik, " ucap Denis sedikit melunak .
"Baik diawal , pahit diakhir . Kayak daddy Lo , pertama aja baik banget , abis itu mami hamil , punya elo , terus nggak diurusin . Nyusahin mami saja !"
Tanpa sengaja , Adam telah mengatakan bahwa Denis menyusahkan hidup maminya .
"Jadi selama ini Lo pikir kehadiran gue nyusahin mami ?" Satu tetes air mata Denis lolos .
"Iya ! Sangat menyusahkan ! Apalagi wajah , tingkah Lo , semuanya persis sama daddy Lo ! Sebenarnya kehadiran Lo yang bikin mami selalu sedih !" Bentak Adam , entah setan apa yang merasukinya sehingga ia berkata begitu .
Adam biasa berbicara ceplas-ceplos kepada Denis , entah kenapa ucapan Adam baru saja sangat menyesakkan dadanya.
"Ada apa ini Denis ! Adam! " Felicia baru saja menyelesaikan masakannya , ia mendengar dua putranya beradu mulut .
Namun ia datang terlambat , semuanya sudah selesai.
Denis keluar dari rumah Felicia , lalu masuk ke dalam mobilnya.
Ditumpahkan semua air matanya .
Kenapa ? Kenapa baru sekarang Adam baru bilang padanya?
Kenapa juga ia tak sadar jika selama ini ia hanya menyusahkan maminya ?
Denis sering bikin onar saat SMP dulu karena ingin menutupi jatidiri nya , ia terlihat ceria namun sebenarnya rapuh .
Audrie ke luar rumah , ia akan menyusul Denis dan membujuknya untuk masuk ke dalam rumah .
Namun sayang , mobil Denis sudah melaju menjauh .
Dengan perasaan kalut , Denis menyetir mobilnya .
Pikirannya masih fokus kepada ucapan-ucapan Adam tadi .
"Iya ! Sangat menyusahkan ! Apalagi wajah , tingkah Lo , semuanya persis sama daddy Lo ! Sebenarnya kehadiran Lo yang bikin mami selalu sedih !"
Kata itulah yang terngiang di telinga Denis , begitu menancap di hati Denis .
Ia tak pernah berpikir untuk menyusahkan ataupun membuat maminya sedih .
Di persimpangan jalan dekat rumah Felicia, sebuah mobil melaju kencang dari arah kiri .
Pikiran Denis yang tidak fokus , membuatnya tidak sempat menghindar.
Brak !!!!
Mobil tadi menabrak mobil Denis , bagian depan mobil itu ringsek .
Begitu juga bagian kiri mobil Denis , sama-sama ringsek .
"Mas Denis!!!" Pekik Audrie saat melihat tabrakan itu , tabrakan yang tak jauh dari rumah Felicia.
Banyak orang yang sudah mengerubungi Denis sekarang , termasuk Felicia yang langsung lari tunggang langgang mendekati kerumunan itu .
Sedangkan Adam , ia masih terpaku di tempatnya.
Ia masih merutuki dirinya , bisa-bisanya ia berbicara seperti itu kepada adiknya .
"Mas , mas Adam ! Tolongin mami , tolongin mas Denis !" Ucap Audrie panik , ia sempat shock karena mendengar benturan keras mobil Denis .
Adam tersentak , baru tersadar dari lamunannya .
"Kenapa drie ?" Tanya Adam seperti orang linglung.
"Mas Denis mas ! Dia .... tabrakan !" Ucap Audrie terbata .
Adam segera berlari ke tempat kejadian , orang-orang berusaha mengeluarkan Denis dari mobil yang ringsek .
Felicia terus menangis melihat anaknya .
Audrie menghampiri Felicia , dipeluk tubuh wanita itu."Mam, tenang ya." Audrie mencoba menenangkan Felicia.
Dengan meminjam mobil tetangga , Adam membawa Denis segera ke rumah sakit .
Felicia duduk di jok belakang , menjadikan pahanya sebagai bantalan bagi Denis ,ia tak peduli celana dan bajunya berlumuran darah.
Mata Denis terpejam , darah segar mengalir deras dari keningnya .
Bibir Denis bergerak , matanya perlahan terbuka .
"Mam...Mami." Lirih Denis.
"Iya sayang , mami di sini." Digenggamnya erat tangan Denis .
"Mami..Jangan nangis...Denis nggak kenapa-kenapa kok." Ucapnya dengan sebuah cengiran , entah itu cengiran yang biasa ia tunjukan atau cengiran menahan sakit .
Gila saja Denis berkata seperti itu , padahal kondisi cukup parah .
Keningnya robek terkena pecahan kaca jendela mobil , kaki kanannya terjepit pintu mobil yang menghantam gapura kompleks . Masih saja ia berkata bahwa ia tidak apa-apa.
Felicia tersenyum pedih , hatinya tersayat melihat kondisi Denis .
Mobil yang dikendarai Adam tiba di rumah sakit , Adam berlari mencari perawat agar segera menangani adiknya .
Tak lama dua orang perawat mendorong brankar mendekati mobil , dengan dibantu Adam perawat menurunkan Denis dan membaringkannya ke atas brankar.
Dengan cepat , dua perawat tadi membawa Denis ke ruang IGD .
*****