PART 7

1462 Kata
PART 7 Pagi ini sarapan Felicia terasa lengkap dengan kehadiran dua orang kesayangannya , kurang Denis sebenarnya , tapi kemana anak itu ? Biasanya ia yang akan membuat kerusuhan di manapun ia berada . Berbeda dengan hari ini , sepertinya anak itu masih molor karena semalam Adam mengiriminya banyak gambar-gambar setan yang seram . Benar saja , sungguh panjang umur anak itu . Baru diomongin ia sudah berdiri di ambang pintu , dengan lesu ia masuk ke dalam rumah . "Denis , kenapa matamu ?" Tanya Felicia , nampaknya bocah itu tak tidur semalaman . "Ngantuk mam , gara-gara anak Mama satu itu . Ngirimin kayak gini ! " Denis menunjukkan ponselnya , dengan layar pecah separuh . Felicia merinding ketika melihat gambar pocong , kuntilanak , dan sebangsanya , lebih merinding lagi melihat ponsel terbaru Denis yang ia belikan minggu lalu . "Ponselmu ?" tunjuk Felicia pada ponsel Denis . "Denis banting lah , takut keleus Mam. " Jawab Denis santai , ditambah cengiran kudanya yang tak pernah ketinggalan . Denis mencari tempat yang nyaman untuk berbaring , ia tidur di sofa milik Felicia yang empuk . Baru saja Denis ingin memejamkan matanya , Adam datang dan ia menggulingkan tubuh Denis hingga terjatuh ke lantai . "Gue mau nonton TV !" Ucap Adam tanpa merasa bersalah , padahal Denis di bawahnya tengah meringis kesakitan. Felicia mendesah pelan. "Adam , jangan kayak gitu dong . Kasihan adekmu. " Ia mengelus dadanya , selalu saja mereka bertengkar jika bertemu . Mending LDR an saja , mereka akan lebih romantis, saling rindu satu sama lain . "Dosa apa gue punya kakak kaya begini modelnya , ya Allah. Ampuni dosa ku. " Rintih Denis , ia berdiri dan langsung masuk ke dalam kamar Felicia untuk memejamkan matanya. Setidaknya di sini ramai orang , jadi ia tak perlu was-was jika mendadak ada penampakan . ____ Saat  jam makan siang , Denis terbangun dari tidurnya ia segera bangun dan menuju dapur karena merasa haus . Felicia dan Audrie sedang memasak di sana , Audrie nampaknya sedang belajar beberapa menu kepada Felicia . Bukan Denis namanya jika tidak membuat keributan , ia mengambil apron yang tergantung. Dipakainya apron itu , ia mengambil dua buah tomat yang akan diiris oleh Audrie lalu memakannya satu persatu. "Mas Denis !" Pekik Audrie . "Apa ?" tanya Denis , ia mendelik ke arah Audrie membuat nyali gadis itu menciut . "Mami , tomatnya dimakan mas Denis !" Adu Audrie kepada Felicia. "Mam , Denis makan dua doang ." Denis mencoba membela diri. "Dua doang , emang jumlahnya dua . Abis tuh , mau bikin sambel tomat pakai apa kalau gini !" Gerutu Audrie. Felicia yang baru saja mencuci beras, menghampiri mereka berdua yang tengah ribut . Denis dan Audrie dicampur disatu rumah ? Maka sebentar lagi rumah itu akan roboh, karena mereka sama-sama tidak ada yang mau mengalah . "Denis , mending kamu ke depan saja ya ? Temenin mas Adam." Titah Felicia. Dengan patuh Denis menuruti perintah maminya , ia melepas apron yang dipakainya lalu berjalan ke ruang nonton TV. "Mas ." "Apa?" kata Adam cuek . "Mau dengar cerita enggak ?" ucap Denis dengan suara lirih , sengaja agar Adam penasaran. Adam menoleh ke samping di mana Denis tengah duduk. "Cerita apa ?" "Mami kayaknya punya pacar deh , soalnya kemarin video call an segala . Kaya ABG , terus ya mami senyum terus sampai giginya kering." Jelas Denis . Seketika rahang Adam mengeras , ia tak suka jika mendengar maminya kembali menjalin hubungan dengan pria. "Buat apa sih pacar-pacaran , bilangin mami . Semua itu tidak perlu , membuang waktu saja !" Ucap Adam dengan nada ketus . "Biarin , mami kan masih cantik . Masih keliatan muda , pacaran boleh lah . Biar mami punya pendamping hidup." "TIDAK BOLEH !" Nada bicara Adam mulai meninggi , sepertinya ia mulai tersulut emosi. "Kenapa ? Biar mami bahagia mas !" Denis mulai kesal kepada Adam , apa-apaan kakaknya ini melarang maminya punya pacar . Ketegangan menyelimuti keduanya . "Tau apa tentang kebahagiaan mami ? Lo tuh masih bocah !" Denis beranjak dari duduknya , ia mencengkeram kerah baju Adam. "Gue tahu, mami banyak senyum semenjak kenal pria itu ! Lo nggak pernah tau mami hampir setiap malem nangis ! Mami kesepian ! Dia butuh temen !" Adam berusaha melepaskan cengkeraman tangan Denis , namun sepertinya anak itu sedang kesetanan membuat cengkeramannya sangat kuat . "Ya Lo lah yang nemenin , buat apa Lo di sini ? Gue di Jakarta bukannya gue main-main, gue kerja ! Mami gak mau diboyong ke Jakarta !" Akhirnya Adam bisa melepaskan cengkraman Denis . "Mas , pliisss . Sepertinya dia lelaki yang baik, " ucap Denis sedikit melunak . "Baik diawal , pahit diakhir . Kayak daddy Lo , pertama aja baik banget , abis itu mami hamil , punya elo , terus nggak diurusin . Nyusahin mami saja !" Tanpa sengaja , Adam telah mengatakan bahwa Denis menyusahkan hidup maminya . "Jadi selama ini Lo pikir kehadiran gue nyusahin mami ?" Satu tetes air mata Denis lolos . "Iya ! Sangat menyusahkan ! Apalagi wajah , tingkah Lo , semuanya persis sama daddy Lo ! Sebenarnya kehadiran Lo yang bikin mami selalu sedih !" Bentak Adam , entah setan apa yang merasukinya sehingga ia berkata begitu . Adam biasa berbicara ceplas-ceplos kepada Denis , entah kenapa ucapan Adam baru saja sangat menyesakkan dadanya. "Ada apa ini Denis ! Adam! " Felicia baru saja menyelesaikan masakannya , ia mendengar dua putranya beradu mulut . Namun ia datang terlambat , semuanya sudah selesai. Denis keluar dari rumah Felicia , lalu masuk ke dalam mobilnya. Ditumpahkan semua air matanya . Kenapa ? Kenapa baru sekarang Adam baru bilang padanya? Kenapa juga ia tak sadar jika selama ini ia hanya menyusahkan maminya ? Denis sering bikin onar saat SMP dulu karena ingin menutupi jatidiri nya , ia terlihat ceria namun sebenarnya rapuh . Audrie ke luar rumah , ia akan menyusul Denis dan membujuknya untuk masuk ke dalam rumah . Namun sayang , mobil Denis sudah melaju menjauh . Dengan perasaan kalut , Denis menyetir mobilnya . Pikirannya masih fokus kepada ucapan-ucapan Adam tadi . "Iya ! Sangat menyusahkan ! Apalagi wajah , tingkah Lo , semuanya persis sama daddy Lo ! Sebenarnya kehadiran Lo yang bikin mami selalu sedih !" Kata itulah yang terngiang di telinga Denis , begitu menancap di hati Denis . Ia tak pernah berpikir untuk menyusahkan ataupun membuat maminya sedih . Di persimpangan jalan dekat rumah Felicia, sebuah mobil melaju kencang dari arah kiri . Pikiran Denis yang tidak fokus , membuatnya tidak sempat menghindar. Brak !!!! Mobil tadi menabrak mobil Denis , bagian depan mobil itu ringsek . Begitu juga bagian kiri mobil Denis , sama-sama ringsek . "Mas Denis!!!" Pekik Audrie saat melihat tabrakan itu , tabrakan yang tak jauh dari rumah Felicia. Banyak orang yang sudah mengerubungi Denis sekarang , termasuk Felicia yang langsung lari tunggang langgang mendekati kerumunan itu . Sedangkan Adam , ia masih terpaku di tempatnya. Ia masih merutuki dirinya , bisa-bisanya ia berbicara seperti itu kepada adiknya . "Mas , mas Adam ! Tolongin mami , tolongin mas Denis !" Ucap Audrie panik , ia sempat shock karena mendengar benturan keras mobil Denis . Adam tersentak , baru tersadar dari lamunannya . "Kenapa drie ?" Tanya Adam seperti orang linglung. "Mas Denis mas ! Dia .... tabrakan !" Ucap Audrie terbata . Adam segera berlari ke tempat kejadian , orang-orang berusaha mengeluarkan Denis dari mobil yang ringsek . Felicia terus menangis melihat anaknya . Audrie menghampiri Felicia , dipeluk tubuh wanita itu."Mam, tenang ya." Audrie mencoba menenangkan Felicia. Dengan meminjam mobil tetangga , Adam membawa Denis segera ke rumah sakit . Felicia duduk di jok belakang , menjadikan pahanya sebagai bantalan bagi Denis ,ia tak peduli celana dan bajunya berlumuran darah. Mata Denis terpejam , darah segar mengalir deras dari keningnya . Bibir Denis bergerak , matanya perlahan terbuka . "Mam...Mami." Lirih Denis. "Iya sayang , mami di sini." Digenggamnya erat tangan Denis . "Mami..Jangan nangis...Denis nggak kenapa-kenapa kok." Ucapnya dengan sebuah cengiran , entah itu cengiran yang biasa ia tunjukan atau cengiran menahan sakit . Gila saja Denis berkata seperti itu , padahal kondisi cukup parah . Keningnya robek terkena pecahan kaca jendela mobil , kaki kanannya terjepit pintu mobil yang menghantam gapura kompleks . Masih saja ia berkata bahwa ia tidak apa-apa. Felicia tersenyum pedih , hatinya tersayat melihat kondisi Denis . Mobil yang dikendarai Adam tiba di rumah sakit , Adam berlari mencari perawat agar segera menangani adiknya . Tak lama dua orang perawat mendorong brankar mendekati mobil , dengan dibantu Adam perawat menurunkan Denis dan membaringkannya ke atas brankar. Dengan cepat , dua perawat tadi membawa Denis ke ruang IGD .   *****  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN