PART 10

1136 Kata
PART 10   Denis sudah dipindahkan ke ruang perawatan, kondisinya berangsur-angsur membaik. Hari ini Rama dan Devan mengunjunginya , seperti biasa jika tiga orang remaja ini berkumpul dalam satu ruangan kehebohanlah yang akan tercipta. "Sory bro,  kita baru jenguk elo. Jam besuk ICU kan terbatas. Gimana keadaan lo? " tanya Rama. "Ya seperti yang lo lihat,  gue udah gak kenapa-napa. "Jjawab Denis santai. Tiba-tiba Devan menekan kening Denis yang dibalut perban,  membuat bocah itu mengaduh. "Gila, sakit banget." Denis meringis merasakan nyeri. "Makanya jangan sok-sok an gak kenapa-napa, " cibir Devan . "Kenapa Denis ?" ucap Miko. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya , ia baru saja menelpon Rudi untuk menambah cutinya beberapa Minggu ke depan. "Ada cogan, " ucap Rama dan Devan bersamaan saat melihat Miko melangkah ke arah mereka . "Siapa ?" tanya Devan tanpa suara kepada Rama . "Mana gue tempe !" Rama menyonyor kepala Devan . Miko mengulurkan tangannya. "Saya Miko , daddy-nya Denis. " Denis memutar bola matanya malas , ngapain juga daddy-nya mengenalkan diri . Gak penting banget, batinnya. "Rama Om," "Devan Om, " ucap mereka bergantian. "Kalian teman Denis ?" Mereka mengangguk bersamaan . "Kalian lanjutkan lagi Ngobrolnya, " ucap Miko , lalu ia kembali duduk di sofa . "Kata Lo , bokap Lo udah mati ? Dia bangkit lagi dari kubur ya ?" ucap Devan . "Tau ah , gue kesel sama Lo . Masih sakit ini jidat gue ." Sungut Denis . Rama terkekeh , ia suka jika melihat kedua sahabatnya itu bertengkar. Mereka bertiga larut dengan banyolan mereka masing-masing , tak memperdulikan kehadiran Miko . "Halo mas Denis ." Suara cempreng Audrie menggema di ruang VVIP tempat Denis dirawat . Semua mata tertuju kepada Audrie."Hehe , maaf " Audrie masuk dan duduk di sebelah Miko , ia mencium tangan Miko terlebih dahulu. "Om , apa kabar ?" "Baik Audrie ," ucap Miko . "Siapa lagi ?" tanya Devan , insting playboy Devan mulai beraksi melihat gadis secantik Audrie. "Adiknya mas Adam, " Mendengar nama Adam , devan hanya ber'oh'ria . Ia tahu bagaimana dinginnya sifat Adam . "Kamu datang sama siapa Drie ?" "Sama mas Adam , tuh di luar. " Audrie menunjuk ke luar ruangan . Adam lebih memilih menunggu di luar , ia akan masuk jika tak ada Miko di dalam . Adam sibuk dengan ponselnya , lebih tepatnya menyibukkan diri sembari menunggu Audrie. "Mas , mas. Tolongin gue!" Seorang gadis menepuk-nepuk pundak Adam , membuat pandangannya yang fokus ke ponsel menoleh ke arah gadis itu . "Apa ?" Adam menatap dingin perempuan di sampingnya. "Ikut gue, " tanpa permisi , gadis itu menarik lengan Adam . Mengajak Adam masuk ke dalam ruangan di samping tempat Denis , ada seorang wanita paruh baya terbaring di atas brankar. Mendengar bunyi pintu terbuka, wanita itu bangun dari tidurnya. "Clarissa ?" "Iya ma," Clarissa nama gadis itu , dan ia membawa Adam masuk ke ruang perawatan mamanya . "Sama siapa ?" "Pacar aku ma , jadi Mama mulai sekarang stop jodoh-jodohin aku sama anak temen Mama itu," sungut Rissa. Mata Adam mendelik , what ? Pacar ? Wanita itu memandangi Adam dari atas sampai bawah , ganteng juga batinnya . "Siapa namamu ?" "Adam Tante, " seulas senyum terpaksa Adam berikan kepada wanita itu . "Apa pekerjaanmu ?" Aduh , gue belum sempat ngode dia buat bohong soal pekerjaan. Batin Clarissa. "Saya bekerja di Wijaya group Tante. " Ucap Adam setengah jujur , padahal ia adalah calon pewaris dari Wijaya group itu . "Bos kamu Aditya Azka Wijaya itu ya ?" Adam mengangguk , tak heran banyak yang mengenal Adit . Nama papanya memang terkenal di kalangan pengusaha , dan juga seorang pemilik salah satu hotel berbintang di kota ini . Terserah lah , apapun pekerjaannya. Yang penting gue lepas sama Alex itu . Batin Clarissa lagi . "Baiklah , Mama setuju sama yang ini." Clarissa menghela napas lega , ia berhasil lolos dari kejaran Mamanya yang terus mendesaknya untuk menikah dengan Alex anak teman mamanya yang sama sekali tak ia cintai . Beruntunglah Adam , Clarissa segera mengajaknya keluar setelah mengenalkannya pada mama gadis itu . "Makasih banyak ya , maaf uda ngerepotin." Ucap Clarissa tak enak . "Ya." Jawab Adam singkat , ia tak ingin terlalu jauh berurusan dengan orang yang tidak ia kenal . Bersamaan dengan Adam dan clarissa keluar , Adit dan Milka hendak masuk ke dalam ruangan Denis . Milka tersenyum sumringah melihat anak lelakinya bersama seorang gadis , hal yang sama sekali belum pernah ia lihat selama ini . "Adam , siapa ini ? Pacarnya tidak dikenalin ?" ucap Milka , ia menghampiri dua sejoli yang sama-sama sedang memandangnya . "Cantik , namanya siapa ?" "Clarissa Tante." Clarissa menjabat tangan Milka , lalu mencium punggung tangannya. "Masuk yuk , kita jenguk adiknya Adam." Milka menggandeng tangan Rissa , ia mengajak calon mantunya masuk menemui Denis . Ruangan Denis jadi sangat ramai , hanya saja kurang Felicia. Rissa yang sama sekali tak mengenal mereka hanya duduk di sofa , ia memainkan jarinya. "Mama, kangen. " Rissa melihat seorang gadis belia memeluk wanita paruh baya yang tadi menyapanya , dapat ia simpulkan gadis itu juga adik Adam . Rissa mengedarkan pandangannya , ia menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu . Keluarga besar sepertinya , Lagi-lagi Rissa membatin . Tiba-tiba seorang pria bersitegang dengan pria lain yang duduk di sebrang sofa . "Ngapain Lo di sini ?" ucap pria tadi yang tak lain Adit . "Jagain anak gue lah!" Ucap pria satunya lagi . Rissa kini tengah berada di antara dua pria yang sepertinya akan berkelahi ini , ia bergidik ngeri jika tiba-tiba salah satu pria itu membanting meja di depannya. Namun sebelum pikiran Rissa terjadi , keduanya terlebih dahulu dilerai . "Pa , plis . Ini rumah sakit , jangan buat keributan. Lagian bang Miko daddy-nya Denis , wajarlah dia di sini. " Ucap Milka . Adit hanya memutar bola matanya malas , istrinya selalu membela pria b******k di depannya ini . "Ayo salaman , yang akur . Malu dilihatin anak-anak , malu juga sama calon mantu mu pa. " Adit tak mengindahkan ucapan Milka , dengan malas ia duduk di sebelah Miko . Bukan karena ingin akur , cuma itu satu-satunya tempat duduk yang kosong. Sementara Rissa masih melongo dibilang calon mantu , ia terjebak sendiri dalam permainannya. Mati aku . Batin Rissa. Kini Susana ruangan sangat riuh , seakan ini bukan di sebuah rumah sakit . Audrie sudah bisa membaur dengan Rama dan Devan , ia mendapat teman baru yang asik untuk diajak mengobrol. Ia merasa kehilangan saat Rama dan Devan pamit pulang , untungnya mereka akan kembali ke sini esok hari . Bersamaan dengan itu Clarissa juga pamit pulang , ia tak mau lama-lama berada di ruangan ini , ia juga harus menjaga mamanya yang tengah sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN