PART 11
Ruangan Denis kembali sepi setelah beberapa jam lalu semuanya pamit pulang , kini hanya ada ia dan Miko di ruangan itu .
Saat ini Miko tengah berkutat dengan laptopnya , ia tengah mengecek laporan yang masuk melalui emailnya.
Denis menatap wajah serius Miko , pekerja keras batin Denis .
Rasa bosan menyelimuti Denis , di ruangan sepi ini tak ada yang dapat ia lakukan selain berbaring .
Ingin rasanya ia berlari ke sana dan ke mari , Denis menatap nanar ke arah kakinya .
Jangankan berlari , untuk berdiri saja ia tak mampu .
Denis tak pernah menyayangkan kecelakaan yang dialaminya , karena semua itu bagian dari takdir hidup Denis .
Kruyukkk...
Bunyi perut Denis , ia lapar .
Sejak tadi perutnya sama sekali Belum terisi makanan , lidahnya terasa pahit jika memakan makanan dari rumah sakit ,ia kangen ayam goreng buatan maminya .
Denis menelan salivanya susah payah , membayangkan ayam goreng yang baru saja ditiriskan yang masih mengepulkan uap dan bau yang khas .
Mami , Denis kangen ayam goreng. Batin Denis .
Rasanya ia ingin menangis saat ini juga , ingin meminta bantuan Miko ia gengsi .
"Mau minum atau makan sesuatu denis ?"
Denis tersentak kaget , ia sedang membayangkan menggigit ayam-ayam goreng yang sangat lezat .
"Ah.. tidak , makasih. " Ucap Denis .
"Daddy tinggal ke kantin sebentar," Denis mengangguk.
Saat Miko hendak membuka pintu, pintu itu sudah terbuka dari luar terlebih dahulu.
Miko dan Felicia berpapasan , mereka sama-sama mematung.
Miko menatap Felicia , wanita itu terlihat cantik hari ini.
"Ehem.." Deheman Denis menyadarkan mereka, Miko menggeser tubuhnya memberikan jalan bagi Felicia untuk masuk.
"Permisi ." Felicia melewati Miko begitu saja .
"Aku mau ke kantin , kau mau nitip sesuatu ?"
Felicia berhenti sejenak. "Tidak , terima kasih." Jawabnya tanpa menoleh .
Senyum sumringah mengembang di bibir Denis , namun ia segera menyembunyikannya dari Felicia.
"Mami bawain ayam goreng buat kamu," ucap Felicia , ia meletakkan kotak yang berisi nasi dan beberapa potong ayam goreng yang masih hangat .
Miko yang mendengar kata ayam goreng langsung menoleh , ia belum beranjak dari tempatnya tadi .
Rasanya ia sangat merindukan masakan yang dulu setiap pagi menemani sarapannya , namun itu dulu , dulu sekali .
Saat Miko akan melangkah keluar , ucapan Felicia menghentikan langkahnya. "Aku membawakanmu makan malam juga , makanlah bersama kami ." Ucapnya .
Miko tersenyum , akhirnya ia kembali bisa merasakan masakan favoritnya.
"Baiklah , aku mau beli kopi dulu ke kantin. " Ucap Miko , lalu menuju ke kantin .
Felicia menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga , sudah lama juga ia tak makan bersama pria itu .Entah kenapa tiba-tiba hatinya menghangat .
Denis menatap maminya yang telaten meletakkan satu persatu makanan itu ke atas piring , Denis membayangkan ini adalah sebuah makan malam bersama keluarga yang lengkap.
Ada ayah , ibu , dan anak yang sama sekali belum pernah dirasakan Denis sebelumnya.
Namun sayang status mereka bukanlah keluarga yang lengkap , daddy-nya hanya mantan suami maminya.
Tapi tak apa daddy tetaplah ayahnya , darah pria itu mengalir dalam diri Denis .
Miko telah kembali dengan secangkir kopi di tangan kanannya , dan segelas teh hangat ditangan kirinya untuk Felicia.
Ia meletakkan cangkir dan gelas tadi di atas meja , ia tersenyum kecil melihat makanan telah tersaji untuknya .
Hanya telentang di atas brankar membuat tubuh Denis terasa pegal , ia meminta Miko membantunya duduk .
Miko menggendong Denis , lalu mendudukannya di sofa .
Hanya dengan nasi dan ayam goreng , ketiganya makan dengan sangat lahap .
Selesai makan , Felicia membereskan bekas makanan mereka . Ia akan segera pulang , ia akan naik taksi karena Adam tidak bisa menjemputnya.
Namun Felicia mengurungkan niatnya , ada tamu lagi yang akan menjenguk Denis .
Kini giliran anak-anak singgah , ada lima orang anak yang mewakili anak-anak yang Denis tampung
"Malam Tante, "ucap Anto .
Felicia tersenyum ramah. "Malam Anto , silahkan masuk. "
Miko bergidik ngeri melihat anak-anak itu , banyak tattoo dan tindik di tubuh mereka .
Apa selama ini Denis salah gaul ?
"Malem Om. " sapa Anto saat bertemu pandang dengan Miko .
"Malam." Ucap Miko singkat .
"Kak Denis , bagaimana kondisinya ?" tanya Lisa , bocah perempuan yang dekat dengan Denis .
"Baik Lis , kamu belajar dengan rajin kan ? Bagaiman nilai UTS kalian ?"
Denis belum sempat ke rumah singgah akibat kecelakaan yang menimpanya , biasanya setiap anak yang mendapat nilai baik akan mendapat hadiah dari Denis salah satunya Lisa .
Meskipun bukan barang mewah , namun mampu membuat semangat belajar mereka bertambah .
"Bagus dong kak , nanti kalau Kaka sembuh kasih hadiah lagi ya." Ucap Lisa ceria .
Denis terkekeh "Beres pokoknya"
"Kepala dan kakinya sakit ya kak ? Kok diperban ?" ucap bocah lainnya.
"Ah , enggak kok . Ini biar kelihatan beneran sakit aja , aslinya gak apa-apa." Kata Denis santai .
Untung saja tidak ada Devan , jika ada sudah pasti Devan menyoyor kepala Denis yang sok kuat itu .
Padahal jika ia bergerak sedikit saja , kakinya akan terasa ngilu ,Ia masih saja santai bilang tidak apa-apa .
Setelah melihat kondisi Denis , mereka pamit pulang.
Takut jika kemalaman , mereka tidak akan dapat angkot untuk pulang .
"Apa kamu mengajarkan cara bergaul yang tidak baik ? Sampai kamu biarkan Denis berteman dengan bocah-bocah liar itu ?" tanya Miko sarkastik sesaat setelah anak-anak itu pulang.
Felicia menanggapinya dengan santai.
"Iya , aku yang mengajarkan Denis untuk bergaul bersama mereka. Bagiku Denis boleh-boleh saja bergaul dengan siapapun , asal tidak membawa pengaruh buruk pada putraku. "
"Tapi mereka bocah liar , lihat saja tadi banyak sekali tattoo dan tindik di tubuh mereka !" Ucap Miko sinis.
"Asal kamu tahu , mereka anak-anak yang baik . Denis yang merangkul mereka , sama-sama senasib membuat Denis mengerti keadaan mereka. " Ucap Felicia tak kalah sinis .
"Senasib ? Maksudmu apa ?"
"Mereka sama-sama korban cerai , sama-sama tak dipedulikan ayah dan ibunya ! Mereka berkeliaran di jalanan , lalu Denis memberikan rumah singgah untuk mereka. "
Deg !!
Miko terdiam , ucapan Felicia sedikit menyentil hatinya .
Selama ini , ia juga sama sekali tak memperdulikan Denis .
Denis masih beruntung , ia memiliki Felicia yang menyayanginya.
Jika tidak , pasti Denis tidak akan menjadi Denis yang sekarang ini di hadapannya.
Mungkin saja Denis juga akan menjadi anak liar seperti mereka dulu , Miko seharusnya berterima kasih kepada Felicia.
"Mam , dad !!! Pliss ! Jangan bertengkar di sini !" Teriak Denis .
Miko dan Felicia tak sadar jika mereka sedang adu mulut , dan disitu ada Denis .
"Maaf, " ucap mereka berdua .
Baru saja tadi mereka seperti keluarga , kini sudah selayaknya orang asing yang dikumpulkan di ruangan yang sama .
Miko dan Felicia sama-sama terdiam , sibuk dengan pikiran masing-masing.
Felicia malas dengan Miko , seenaknya saja ia menuduhnya tak bisa mendidik Denis .
Sementara Miko , ia tengah malu dengan tingkahnya barusan . Ia seharusnya bangga dengan Denis ,Denis telah membawa perubahan yang positif bagi mereka .
Hening yang tercipta di ruangan itu .
"Maafkan aku yang sudah berprasangka buruk padamu , aku hanya takut Denis terjerumus dalam pergaulan yang salah." Ucap Miko memecah keheningan .
"Ya !" Balas Felicia singkat.
Denis memutar tubuhnya , ia berbaring memunggungi kedua orang tuanya. Ia malas , ia ingin tidur.
Baru saja memimpikan keluarga yang lengkap , kini mimpi itu hancur .
Padahal Felicia dan Miko dulu saat menjadi sepasang suami istri sama sekali tak pernah bertengkar mulut seperti tadi , karena ego keduanya lah yang membuat percekcokan itu terjadi .
Dengan terpaksa Felicia menginap di rumah sakit , sudah terlalu larut jika pulang . Dan terpaksa juga harus berada di dekat Miko .
Meskipun sudah pukul 00:00 , Felicia belum bisa memejamkan matanya .
Ia melihat Denis dan Miko sudah sama-sama terlelap.
Miko tidur dengan posisi meringkuk , sofa itu terlalu kecil untuk tubuh jangkung Miko .
Dengan iseng Felicia mendekati Miko , ia menatap wajah Miko yang tenang saat tertidur.
Berbeda saat beberapa jam lalu , begitu tajam dan ketus yang keluar dari bibir tipis pria itu .
Pandangan Felicia naik ke hidung mancung milik Miko , naik lagi ke mata Miko yang terpejam .
Sampai di alis , ia teringat itu bagian favoritnya dari wajah pria itu .
Denis terbangun saat ia menoleh , mendapati maminya tengah memperhatikan daddy-nya.
Lama , lama sekali Felicia terus saja memandangi wajah itu .
Denis tersenyum kecil , apakah maminya masih mencintai daddy ?
Denis menepis pikirannya , biarkan saja menjadi urusan mami dan daddy-nya saja .
Ia tak ingin berpusing-pusing memikirkan mereka , yang harus ia pikirkan sekarang hanyalah kesembuhannya.
*****