PART 11

1447 Kata
PART 11 Ruangan Denis kembali sepi setelah beberapa jam lalu semuanya pamit pulang , kini hanya ada ia dan Miko di ruangan itu . Saat ini Miko tengah berkutat dengan laptopnya , ia tengah mengecek laporan yang masuk melalui emailnya. Denis menatap wajah serius Miko , pekerja keras batin Denis . Rasa bosan menyelimuti Denis , di ruangan sepi ini tak ada yang dapat ia lakukan selain berbaring . Ingin rasanya ia berlari ke sana dan ke mari , Denis menatap nanar ke arah kakinya . Jangankan berlari , untuk berdiri saja ia tak mampu . Denis tak pernah menyayangkan kecelakaan yang dialaminya , karena semua itu bagian dari takdir hidup Denis . Kruyukkk... Bunyi perut Denis , ia lapar . Sejak tadi perutnya sama sekali Belum terisi makanan , lidahnya terasa pahit jika memakan makanan dari rumah sakit ,ia kangen ayam goreng buatan maminya . Denis menelan salivanya susah payah , membayangkan ayam goreng yang baru saja ditiriskan yang masih mengepulkan uap dan bau yang khas . Mami , Denis kangen ayam goreng. Batin Denis . Rasanya ia ingin menangis saat ini juga , ingin meminta bantuan Miko ia gengsi . "Mau minum atau makan sesuatu denis ?" Denis tersentak kaget , ia sedang membayangkan menggigit ayam-ayam goreng yang sangat lezat . "Ah.. tidak , makasih. " Ucap Denis . "Daddy tinggal ke kantin sebentar," Denis mengangguk. Saat Miko hendak membuka pintu,  pintu itu sudah terbuka dari luar terlebih dahulu. Miko dan Felicia berpapasan ,  mereka sama-sama mematung. Miko menatap Felicia ,  wanita itu terlihat cantik hari ini. "Ehem.." Deheman Denis menyadarkan mereka,  Miko menggeser tubuhnya memberikan jalan bagi Felicia untuk masuk. "Permisi ." Felicia melewati Miko begitu saja . "Aku mau ke kantin , kau mau nitip sesuatu ?" Felicia berhenti sejenak. "Tidak , terima kasih." Jawabnya tanpa menoleh . Senyum sumringah mengembang di bibir Denis , namun ia segera menyembunyikannya dari Felicia. "Mami bawain ayam goreng buat kamu," ucap Felicia , ia meletakkan kotak yang berisi nasi dan beberapa potong ayam goreng yang masih hangat . Miko yang mendengar kata ayam goreng langsung menoleh , ia belum beranjak dari tempatnya tadi . Rasanya ia sangat merindukan masakan yang dulu setiap pagi menemani sarapannya , namun itu dulu , dulu sekali . Saat Miko akan melangkah keluar , ucapan Felicia menghentikan langkahnya. "Aku membawakanmu makan malam juga , makanlah bersama kami ." Ucapnya . Miko tersenyum , akhirnya ia kembali bisa merasakan masakan favoritnya. "Baiklah , aku mau beli kopi dulu ke kantin. " Ucap Miko , lalu menuju ke kantin . Felicia menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga , sudah lama juga ia tak makan bersama pria itu .Entah kenapa tiba-tiba hatinya menghangat . Denis menatap maminya yang telaten meletakkan satu persatu makanan itu ke atas piring , Denis membayangkan ini adalah sebuah makan malam bersama keluarga yang lengkap. Ada ayah , ibu , dan anak yang sama sekali belum pernah dirasakan Denis sebelumnya. Namun sayang status mereka bukanlah keluarga yang lengkap , daddy-nya hanya mantan suami maminya. Tapi tak apa daddy tetaplah ayahnya , darah pria itu mengalir dalam diri Denis . Miko telah kembali dengan secangkir kopi di tangan kanannya , dan segelas teh hangat ditangan kirinya untuk Felicia. Ia meletakkan cangkir dan gelas tadi di atas meja , ia tersenyum kecil melihat makanan telah tersaji untuknya . Hanya telentang di atas brankar membuat tubuh Denis terasa pegal , ia meminta Miko membantunya duduk . Miko menggendong Denis , lalu mendudukannya di sofa . Hanya dengan nasi dan ayam goreng , ketiganya makan dengan sangat lahap . Selesai makan , Felicia membereskan bekas makanan mereka . Ia akan segera pulang , ia akan naik taksi karena Adam tidak bisa menjemputnya. Namun Felicia mengurungkan niatnya , ada tamu lagi yang akan menjenguk Denis . Kini giliran anak-anak singgah , ada lima orang anak yang mewakili anak-anak yang Denis tampung "Malam Tante, "ucap Anto . Felicia tersenyum ramah. "Malam Anto , silahkan masuk. " Miko bergidik ngeri melihat anak-anak itu , banyak tattoo dan tindik di tubuh mereka . Apa selama ini Denis salah gaul ? "Malem Om. " sapa Anto saat bertemu pandang dengan Miko . "Malam." Ucap Miko singkat . "Kak Denis , bagaimana kondisinya ?" tanya Lisa , bocah perempuan yang dekat dengan Denis . "Baik Lis , kamu belajar dengan rajin kan ? Bagaiman nilai UTS kalian ?" Denis belum sempat ke rumah singgah akibat kecelakaan yang menimpanya , biasanya setiap anak yang mendapat nilai baik akan mendapat hadiah dari Denis salah satunya Lisa . Meskipun bukan barang mewah , namun mampu membuat semangat belajar mereka bertambah . "Bagus dong kak , nanti kalau Kaka sembuh kasih hadiah lagi ya." Ucap Lisa ceria . Denis terkekeh "Beres pokoknya" "Kepala dan kakinya sakit ya kak ? Kok diperban ?" ucap bocah lainnya. "Ah , enggak kok . Ini biar kelihatan beneran sakit aja , aslinya gak apa-apa." Kata Denis santai . Untung saja tidak ada Devan , jika ada sudah pasti Devan menyoyor kepala Denis yang sok kuat itu . Padahal jika ia bergerak sedikit saja , kakinya akan terasa ngilu ,Ia masih saja santai bilang tidak apa-apa . Setelah melihat kondisi Denis , mereka pamit pulang. Takut jika kemalaman ,  mereka tidak akan dapat angkot untuk pulang . "Apa kamu mengajarkan cara bergaul yang tidak baik ? Sampai kamu biarkan Denis berteman dengan bocah-bocah liar itu ?" tanya Miko sarkastik sesaat setelah anak-anak itu pulang. Felicia menanggapinya dengan santai.  "Iya , aku yang mengajarkan Denis untuk bergaul bersama mereka.  Bagiku Denis boleh-boleh saja bergaul dengan siapapun , asal tidak membawa pengaruh buruk pada putraku. " "Tapi mereka bocah liar , lihat saja tadi banyak sekali tattoo dan tindik  di tubuh mereka !" Ucap Miko sinis. "Asal kamu tahu , mereka anak-anak yang baik . Denis yang merangkul mereka , sama-sama senasib membuat Denis mengerti keadaan mereka. " Ucap Felicia tak kalah sinis . "Senasib ? Maksudmu apa ?" "Mereka sama-sama korban cerai , sama-sama tak dipedulikan ayah dan ibunya ! Mereka berkeliaran di jalanan , lalu Denis memberikan rumah singgah untuk mereka. " Deg !! Miko terdiam , ucapan Felicia sedikit menyentil hatinya . Selama ini , ia juga sama sekali tak memperdulikan Denis . Denis masih beruntung , ia memiliki Felicia yang menyayanginya. Jika tidak , pasti Denis tidak akan menjadi Denis yang sekarang ini di hadapannya. Mungkin saja Denis juga akan menjadi anak liar seperti mereka dulu , Miko seharusnya berterima kasih kepada Felicia. "Mam , dad !!! Pliss ! Jangan bertengkar di sini !" Teriak Denis . Miko dan Felicia tak sadar jika mereka sedang adu mulut , dan disitu ada Denis . "Maaf, " ucap mereka berdua . Baru saja tadi mereka seperti keluarga , kini sudah selayaknya orang asing yang dikumpulkan di ruangan yang sama . Miko dan Felicia sama-sama terdiam , sibuk dengan pikiran masing-masing. Felicia malas dengan Miko , seenaknya saja ia menuduhnya tak bisa mendidik Denis . Sementara Miko , ia tengah malu dengan tingkahnya barusan . Ia seharusnya bangga dengan Denis ,Denis telah membawa perubahan yang positif bagi mereka . Hening yang tercipta di ruangan itu . "Maafkan aku yang sudah berprasangka buruk padamu , aku hanya takut Denis terjerumus dalam pergaulan yang salah." Ucap Miko memecah keheningan . "Ya !" Balas Felicia singkat. Denis memutar tubuhnya , ia berbaring memunggungi kedua orang tuanya. Ia malas , ia ingin tidur. Baru saja memimpikan keluarga yang lengkap , kini mimpi itu hancur . Padahal Felicia dan Miko dulu saat menjadi sepasang suami istri sama sekali tak pernah bertengkar mulut seperti tadi , karena ego keduanya lah yang membuat percekcokan itu terjadi . Dengan terpaksa Felicia menginap di rumah sakit , sudah terlalu larut jika pulang . Dan terpaksa juga harus berada di dekat Miko . Meskipun sudah pukul 00:00 , Felicia belum bisa memejamkan matanya . Ia melihat Denis dan Miko sudah sama-sama terlelap. Miko tidur dengan posisi meringkuk , sofa itu terlalu kecil untuk tubuh jangkung Miko . Dengan iseng Felicia mendekati Miko , ia menatap wajah Miko yang tenang saat tertidur. Berbeda saat beberapa jam lalu , begitu tajam dan ketus yang keluar dari bibir tipis pria itu . Pandangan Felicia naik ke hidung mancung milik Miko , naik lagi ke mata Miko yang terpejam . Sampai di alis , ia teringat itu bagian favoritnya dari wajah pria itu . Denis terbangun saat ia menoleh , mendapati maminya tengah memperhatikan daddy-nya. Lama , lama sekali Felicia terus saja memandangi wajah itu . Denis tersenyum kecil , apakah maminya masih mencintai daddy ? Denis menepis pikirannya , biarkan saja menjadi urusan mami dan daddy-nya saja . Ia tak ingin berpusing-pusing memikirkan mereka , yang harus ia pikirkan sekarang hanyalah kesembuhannya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN