PART 12

1090 Kata
PART 12  Dengan napas memburu , Marsya terbangun dari tidur . Ia mencengkeram erat dadanya , terasa sesak jika mengingat kejadian itu . Mimpi itu , mimpi buruk yang datang lagi . Flasback "Anak PELAKOR!" "Anak PELAKOR" Banyak anak di sebuah taman kanak-kanak mengerubungi Marsya , mereka mengatai Marsya "ANAK PELAKOR" . Yang bahkan mereka sendiri tak tahu apa itu PELAKOR , mereka hanya mendengar dari ibu-ibu mereka yang menyebut maminya Marsya sebagai PELAKOR. Kata-k********r sering diterima oleh Marsya setiap harinya , ia dikucilkan oleh teman-teman sebayanya . Saat masuk bangku sekolah dasar pun , sebutan ANAK PELAKOR itu belum saja hilang meski yang mengatainya tak segencar waktu ia TK. Kebanyakan ibu dari teman Marsya di sekolah adalah mantan teman arisan Yasmin , jadi anak-anak itu tahu dari ibu mereka . Para ibu-ibu meminta agar anaknya tidak terlalu dekat dengan Marsya , mereka takut akan menjadi korban Seperi istri pertama papinya Marsya . Di sekolah Marsya tidak mempunyai banyak teman , hanya beberapa saja yang merasa iba dengannya . Ia sedikit tenang saat Audrie bersekolah bareng dengannya , sifat Audrie yang bar-bar sering menolongnya dari anak-anak yang mem-bully-nya. Flasback off Semuanya tak sampai di situ , baru-baru ini juga ia masih mendapat bully-an dari teman-temannya. Akun media sosialnya pun tak luput dari cacian dan u*****n mereka yang merasa kesal dengan ulah Yasmin , dan juga menuduhnya bersenang-senang di atas penderitaan orang. Padahal mereka sama sekali tak tahu menahu tentang hidup yang ia jalani hidup serba tercukupi namun tak pernah merasakan kebahagiaan. Marsya membuka laci nakas , mengambil obat yang biasa ia minum saat kondisinya seperti ini. Setelah dirasa tenang, ia beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi. Hari ini ia sudah kembali masuk sekolah , nanti ia akan bertemu Audrie dan meminta bantuan kepada saudaranya itu. Marsya turun ke lantai dasar, menuju ke ruang makan. Tak ada orang lain selain dirinya di meja makan itu , ia sudah terbiasa sarapan hanya seorang diri. Yasmin ? Wanita itu sudah pergi pagi buta tadi, dan akan pulang larut malam nanti. Marsya sudah tak heran dengan kebiasaan maminya itu. "Bi siti , Marsya berangkat dulu ya. " Pamitnya kepada bi siti , pekerja di rumahnya. "Iya non, hati-hati di jalan ." "Baik bi. " Marsya menggendong tasnya , lalu berangkat sekolah. Tak ada sopir yang mengantarnya, ia berjalan kaki keluar dari rumah nya menuju halte yang tepat berada di depan kompleks perumahan. Setiap hari ia naik kendaraan umum , baginya tak masalah yang penting ia bisa sampai dengan selamat. Jujur ia iri dengan teman-temannya yang setiap hari di antar dan di jemput supir ataupun orang tua mereka, namun Marsya tak ingin berharap lebih mengingat kedua orang tuanya yang sama sekali tak peduli padanya. Ia kembali teringat mimpinya tadi pagi, ia ingin sekali terbebas dari mimpi yang menyesakkan itu. Mungkin yang selama ini ia alami adalah imbas dari perbuatan kedua orang tuanya di masa lampau, ingin sekali ia meminta maaf kepada wanita yang disakiti dan rumah tangganya di rusak oleh yasmin. "Marsya and the bear !" Teriak Audrie ketika melihat Marsya turun dari angkot , ia melambaikan tangannya. "Muram aja wajah lo ?" tanya Audrie saat Marsya tiba di depannya. Tidak seperti siswa lain yang baru saja selesai liburan , Marsya sama sekali tak menikmati liburannya. "Gue mimpi itu lagi Drie, " Ucap Marsya . Mata Audrie membulat ."Masa kecil Lo ?" Marsya mengangguk ."Rasanya gue pengen minta maaf sama maminya mas Adam , gue gak mau hidup gue gini terus . Lo bisa tolongin gue ?" "Gue sih pasti bantuin elo , nanti deh gue bilang sama mas Adam ya ? " Marsya kembali mengangguk , semoga Adam bersedia membantunya . "Yuk kita ke kelas , bantuin gue bagi-bagi lumpia nih ," Audrie mengangkat bingkisan di tangannya . Ia membawa banyak lumpia khas dari Semarang , ia membelinya khusus untuk dibagikan teman sekelasnya . ____ "Sya , gue tadi udah bilang sama mas Adam." Ucap Audrie sambil menyeruput es jeruknya . "Terus ?" tanya Marsya penasaran. "Katanya sih elo suruh nemuin mas Adam dulu nanti pas udah balik ke Jakarta, baru nanti Lo diketemuin deh sama mami Feli. " Marsya manggut-manggut. "Eh tapi , kenapa Lo yang mesti minta maaf sih ? Kan gak salah ? Yang salah mami sama papi Lo kan ?" tanya Audrie . Marsya berpikir sejenak , memang dirinya tidak bersalah , tapi ia ingin mewakili maminya . "Biar hidup gue tenang Drie , gue aja yang hidup dengan orang tua lengkap saja seperti ini . Apalagi anaknya Tante Felicia yang sejak kecil tanpa papi di sampingnya , secara tidak langsung gue ngerebut kebahagiaan mereka Drie . Meski aslinya gue gak pengen , Lo tau sendiri kan papi sama mami gue kayak gimana . Mungkin itu juga balasan atas apa yang mereka perbuat dulu , meskipun hidup bersama namun tak pernah ada ketentraman." Ucap Marsya sedih , ia miris jika mengingat hubungan papi dan maminya yang tak pernah akur . Audrie mengusap punggung Marsya , ia mencoba menguatkan gadis itu . Ia tahu betul posisi Marsya , jika ia jadi Marsya pasti ia sudah tidak akan sanggup. Tak ada yang peduli dengan gadis itu , maminya sendiripun pernah berkata bahwa kehadiran Marsya tak berarti apapun di hidupnya. "Lo yang sabar ya , gue yakin suatu saat Lo bakal bahagia." Audrie berusaha memberi semangat kepada Marsya . Marsya menoleh , ia tersenyum kepada Audrie. "Makasih ya Drie , Lo udah semangatin gue . Gue gak tahu lagi kalau gak ada lo." "Iya , sama-sama. Yuk masuk , udah bel kan. " _____ Adam membaca ulang pesan yang di terimanya dari Audrie , Marsya ingin bertemu dengan maminya . Ada perlu apa anak itu bertemu mami ? Batin Adam . Ingin sekali ia balik ke Jakarta secepatnya , namun mengingat hubungannya dengan Denis belum membaik membuatnya sementara waktu masih harus di Semarang. Ia bingung memulainya dari mana , ia juga takut jika maminya tahu apa yang diucapkannya kepada Denis sehingga membuat adiknya itu kecelakaan. Maminya pasti akan kecewa kepadanya . Padahal sedikitpun Felicia tak pernah mengeluh tentang keadaannya , saat Adam kecil dulu juga Felicia bisa tanpa suami . "Arghhhh...gue mesti gimana gusti ?" Adam mengacak rambutnya frustasi. Banyak sekali beban pikiran yang menumpuk di benaknya saat ini , mulai dari Denis , Felicia , juga rencananya yang baru selangkah membuahkan hasil .Ia harus bisa menyelesaikan semuanya . Ia beranjak dari duduknya , mengambil kunci motor yang tergeletak di atas meja . Ia harus ke rumah sakit , meminta maaf kepada Denis dan menceritakan semuanya kepada maminya .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN