BAB 5

1053 Kata
“Kamu tahu salah satu alasanku mulai menyukai film kartun disney khususnya Tangled,” ujar Leon. “Ya, aku tahu. Karena kamu mencintai aku dan menyukai semua hal yang aku sukai termasuk warna favoritku, pink.” Mata cerah Natalie bersinar jenaka. “Hahaha,” Leon terbahak. “Pink. Ya, aku suka pink. Tapi aku lebih suka kamu.” “Dasar pencuri!”                                                           “Pencuri apa? Aku tidak pernah mencuri apa pun seumur hidup.” “Pencuri—hatiku, Leon. Hahaha.” Mereka tertawa bersama. “Setelah lulus nanti, aku akan menikahimu.” “Kamu yakin mau menikah dengan gadis miskin yang yatim piatu ini?” “Tidak,” Leon menggeleng. Natalie tampak kecewa. “Ya, aku tidak layak menjadi istri Leon Aditya Sam.” “Tapi kamu layak menjadi penghuni hatiku,” Leon tersenyum jail. “Penghuni hati? Tapi kalau bukan jadi istrimu, untuk apa aku menghuni hatimu.” “Untuk menyempurnakan hidupku. Dengar, Nat, aku tidak melihat apa yang kamu miliki, aku melihat siapa yang bisa menyempurnakan hidupku. Dan kamu adalah yang terbaik bagiku saat ini.” “Tapi belum tentu saat nanti aku tetap menjadi yang terbaik.” Nat meniup poni rambutnya yang menutupi sebagian matanya. “Tidak. Apa pun yang aku inginkan harus bisa aku dapatkan. Sekarang atau nanti, kamu akan tetap menjadi yang terbaik, Nat.” “Apa yang istimewa dari wanita seperti Natalie, Leon?” tanya Nat seakan-akan dia seorang wartawan yang mewancarai kekasih orang lain. “Tidak ada yang istimewa dari seorang Natalie, tapi dia memiliki banyak hal yang tidak dimiliki wanita lain.” jawab Leon menatap penuh arti Nat. Nat tersenyum. Bibir tipisnya mengembang lebar. Leon tersenyum ironi. Dia merindukan Natalie-nya. “Kamu mau aku buatkan apa?” Leon terkesiap mendengar suara Karla. Dia menutup layar laptopnya takut-takut kalau Karla melihat foto Nat dan dirinya. “Kopi?” Karla menawarkan. Leon memandang rambut panjang Karla. Rambut itu mirip rambut Natalie, lurus dan jatuh. Hanya Karla warna rambut hitam dan Nat warna rambutnya cokelat. “Boleh,” jawab Leon. Karla hendak berkata bahwa tadi siang Alisya datang ke Library Cafe dan menanyakan banyak hal. Syukurlah Karla cukup pandai mengarang. Dia mengarang banyak hal untuk menjawab pertanyaan Alisya. Sebelum pulang, Alisya bilang agar dirinya tidak memberitahu kedatangannya pada Leon. Dan Karla urung memberitahu kedatangan Alisya pada Leon. “Karla,” panggil Leon ketika Karla berbalik keluar ruang kerja mini Leon. “Ya,” Karla kembali menatap suaminya itu. “Aku menunda kepergian ke Bandung untuk bulan ini ya.” Leon berkata dengan berat hati. “Kenapa? Aku sudah menelpon orang tuamu dan mereka sangat gembira mendengarnya. Kamu melarang mereka datang ke Jakarta, tapi kamu tidak pernah menengok mereka, Leon.” Ada sedikit emosi dalam nada suara Karla. “Jangan bulan ini, masih ada banyak hal yang belum terselesaikan.” Hal yang paling ditunggunya adalah informasi soal Natalie. Alisya akan sulit menemuinya kalau dirinya berada di Bandung. Karla mendengus kesal. Dia memutar bola mata dan berkata, “Terserah.” “Jangan bilang terserah, aku tidak suka.” Ujar Leon. “Hah?” dahi Karla mengernyit. “Jangan bilang terserah aku tidak suka.” Ulang Leon sedikit jengkel. Kalau seperti ini rasanya mirip sepasang kekasih. Pikir Karla. “Semua keputusan ada di kamu, Leon. Ya, semuanya terserah kamu.” Karla sedikit kikuk. “Tapi jangan bilang ‘terserah’ Karla. Bilang ‘oke’.” Mata Leon bersinar jenaka. Karla mendengus dan beringsut mundur. Dia bergumam panjang yang membuat Leon tersenyum karena gumaman panjang Karla mirip penyanyi dengan suara lembut. Karla pasti akan tambah bingung kalau dia tahu isi pikiran Leon soal gumaman panjangnya. Beberapa saat kemudian kopi datang. Setelah meletakkan kopi di atas meja, Karla menarik sebuah kursi dan duduk di sebelah Leon. Leon yang saat itu sedang menyesap kopinya, menatap heran Karla. “Jangan menatapku seperti itu,” protes Karla. “Aku hanya heran kenapa kamu duduk di sini?” “Kenapa?” Karla balik bertanya. “Tidak apa, hanya heran saja.” Ponsel Leon berdering. Tertera nama di layar Pela. “Siapa Pela?” tanya Karla. “Oh, itu wanita yang bulan kemarin bertemu denganku di bar.” “Boleh aku angkat?” “Apa?” Leon tampak heran. Tanpa menunggu jawaban ‘iya’ dari Leon, Karla mengangkat ponsel Leon.  “Halo, ini Karla Aditya Sam. Istri dari Leon, tolong jangan hubungi suamiku lagi atau aku akan lapor polisi.” Tut...tut...tut... Telepon dimatikan secara sepihak di sana. Karla tersenyum menang. Leon masih menatap istrinya dengan bingung. Pela hanya wanita biasa yang tadi ketemu di bar dan kencan sebentar. Tidak membekaskan apa-apa di pikiran Leon. “Kamu kenapa?” tanya Leon akhirnya. Ponselnya kembali berdering. Nomor asing. Karla kembali mengangkat telepon Leon. Leon hanya khawatir kalau itu telepon dari klien dan dari Natalie.... “Halo, ini Karla Aditya Sam. Ada perlu apa dengan suamiku?” Hening. “Halo,” Karla kembali menyapa. “Aku Natalie, bilang padanya untuk—“ “Ya, aku akan bilang.” sela Karla dan langsung mematikan secara sepihak. “Banyak sekali wanita simpananmu itu.” gerutu Karla. “Tadi siapa?” “Yang mana?” “Yang tadi barusan?” “Natalie,” Leon merasa detik itu juga jantungnya lepas. Natalie... *** Leon menelpon nomor asing itu beberapa kali dan hasilnya nihil, nomor penelpon yang mengaku sebagai Natalie itu tidak aktif. Karla menatapnya heran karena raut wajah Leon yang antara cemas, panik dan serius. “Natalie kekasihmu?” Leon menatap Karla sekilas. Dia tidak menjawab. Dia kembali sibuk dengan ponselnya. Lalu, Leon menelpon Alisya. “Alisya, kamu di mana? Aku ingin bertemu denganmu sekarang. Oke!” Leon mematikan ponselnya, menatap Karla sekilas dan berujar, “Aku ada perlu.” Lalu melesat pergi. Karla menatap curiga. Ada sesuatu yang aneh. Seorang wanita bernama Natalie menelponnya dan Leon berusaha menghubungi si Natalie itu dan lalu dia menelpon Alisya untuk bertemu seakan itu pertemuan penting. *** “Lacak nomornya.” Kata Leon pada Alisya yang mengenakan blouse biru muda dengan wajah khas orang mengantuk.             “Aku takut ini sebuah jebakan, Leon.” Katanya.             “Jebakan apa? Dia mengaku sebagai Natalie dan pada saat itu Karla yang mengangkat teleponnya.”             “Lalu?” Alisya kini tampak antusias. Dia membayangkan Karla memarahi Natalie karena menelpon suaminya di malam hari.             “Karla mematikan ponselnya. Aku menghubungi nomor itu lagi dan tidak aktif.” Leon tampak menyesal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN