Kekuatan uang memang luar biasa. Bahkan Airin mengakuinya, meski ia masih belum terbiasa dengan semua privilege yang dihasilkan dari kekuatan uang seperti ini.
Saat ini, Dirga duduk dihadapan Airin, memohon padanya. Mereka berdua ada di sebuah ruangan khusus di samping tempat Dirga ditahan. Tempat itu adalah ruang kerja seorang petinggi yang juga kenalan Pak Nugi. Dan di ruangan itu pula Dirga dan Airin leluasa bertemu tanpa khawatir dengan lensa kamera wartawan yang bisa membidik mereka kapan saja.
Begitulah kekuatan uang, tidak hanya mendapatkan fasilitas, tapi juga mampu membungkam awak media agar menutup mata sekaligus menghentikan jari jari mereka agar tak menulis artikel apapun.
"Na, Abang mohon.."
"Abang tau apa yang mereka tawarkan dan konsekuensi apa yang harus aku terima kalau menerima tawaran mereka?" tanya Airin dengan nada ketus. Dirga menggeleng.
"Mereka menawarkan kebebasan Abang. Mereka bisa menyelesaikan ini semua secepat kedipan mata. Mereka dengan mudah menggelontorkan sejumlah uang untuk ganti rugi korban yang abang siksa dan abang pukuli di cafe itu. Jumlahnya banyak, Bang! Lebih dari cukup untuk sekedar operasi pengobatan patah tulang!" jelas Airin dengan nada berapi api. Dirga hanya diam, menunduk dalam dalam dan titik fokus matanya mengarah ke garis garis di sela sela ubin.
"Korban langsung setuju. Uang segitu siapa yang nggak mau? Jangankan hanya untuk berobat, mereka bahkan bisa beli rumah dan kendaraan baru dengan uang itu. Tak sulit, Bang, jalan abang untuk kabur dari hukuman dan bebas merdeka di luar sana semudah membalikkan telapak tangan! Tapi apa konsekuensinya? Abang tau apa? Aku harus bertukar posisi dengan Abang!"
"Apa?"
"Bertukar posisi! Abang dengar kan? Aku bukan hanya ditugaskan menutup mulut atas kejahatan luar biasa mereka. Tapi juga harus dipenjara menggantikan Abang dan Elsye! Padahal aku tidak bersalah dan kalian lah penjahat yang sebenarnya!" kata kata tajam dari luapan emosi Airin menampar Dirga, menusuk hatinya bertubi tubi.
"Na.. Maafin abang.. Abang salah.."
"Kalau Abang salah, pertanggung jawabkan perbuatan abang sendiri! Jangan membebankan semua ke orang lain dengan alasan macam macam. Aku bukan nggak sayang sama abang, justru karena aku sayang aku maunya abang bertanggung jawab! Jangan lari! Jangan bersembunyi di belakang orang lain!" Airin menyentak tangan Dirga yang tengah menggenggam tangannya. Genggaman tangan itu lepas seketika.
"Abang bukan menolak bertanggung jawab, Na, Abang hanya memikirkan nasib keluarga abang dan masa depan abang.."
"Lalu abang pikir aku ini nggak punya keluarga dan nggak punya masa depan? Abang bukan satu satunya manusia di bumi ini yang punya orang tua dan keluarga. Aku pun lahir dari rahim Ibu yang sangat menyayangiku. Apa Abang bisa membayangkan bagaimana perasaan orang tuaku? Aku anak satu satunya, aku nggak pernah berbuat hal yang mengecewakan mereka seumur hidupku. Dan sekarang, aku harus masuk penjara untuk menggantikan kalian?" Airin mencecar Dirga dengan nafas terengah engah.
Dirga tak menjawab lagi. Ia hanya menunduk pasrah. Wajar kalau Airin marah, wajar sekali kalau Airin tak terima dengan permintaannya. Wajar kalau Airin lelah dengan semua ini.
"Abang tau kan apa yang mereka minta agar Abang bisa bebas? Mereka menjadikan aku bilasan cuci tangan mereka. Mereka ingin aku mengakui dosa dosa mereka. Karena aku menerima uang korupsi mereka, yang mereka inginkan adalah aku mengubah kesaksian demi menyelamatkan Elsye! Aku harus mengakui kalau akulah kaki tangan Nugroho selama ini dan Elsye tak tau apa apa! Aku yang harus menanggung hukumannya!! Nggak!! Aku nggak bisa, Bang!!" suara Airin menggelegar di telinga Dirga. Membuatnya bungkam.
"Kamu pikirkan baik baik dulu, Airin." tiba tiba Elsye masuk ke ruangan dan menyela pembicaraan mereka. Airin menatapnya dengan tatapan tajam sedingin es.
"Kamu yang harusnya mikir! Kamu nggak tau malu! Kamu yang berbuat dosa, tapi malah melimpahkannya pada orang lain! Kamu itu biadab! Kamu itu iblis! Bukan manusia! Bahkan lebih parah dari binatang! Meskipun kamu sama tak berakalnya dengan binatang, tapi kamu lebih biadab dari predator paling kejam sekalipun!"
"Terserah.. terserah kamu mau ngomong apa. Tapi coba pikirkan lagi semua kata kata saya ya.. Kamu lebih baik membantu dia bebas. Masa depan kalian berdua akan terselamatkan. Tapi kalau kamu tidak membantunya, masa depan kalian berdua sama sama hancur!" jelas Elsye santai.
"Apa maksud kamu?"
"Kalau kamu menerima tawaran saya, Dirga akan bebas, dia akan meneruskan karirnya, dia tetap akan berprestasi, dan kamu akan dihukum ringan. Hanya beberapa bulan saja. Kamu kan tau bagaimana hukum di negara ini bisa dibeli? Dan setelah menjalani hukuman beberapa bulan itu, kalian akan menikah, dan semua baik baik saja. Masa depan kalian aman. Paling paling hanya malu sebentar. Jangan dengarkan apa kata orang. Yang penting semua aman." Elsye berbicara sambil menyulut rokoknya.
"Mudah sekali mulut kamu bicara begitu! Kamu benar benar nggak tau malu!" bentak Airin.
"Saya belum selesai. Dengarkan dulu baik baik. Kalau kamu bersikeras dengan keputusan awal kamu, yaaa.. konsekuensinya kamu akan menghancurkan masa depan kalian berdua. Bayangkan saja, dia tetap dihukum, entah berapa lama, mengingat dia tidak punya koneksi dan hukumannya bisa sangat berat kalau dilihat dari kondisi korban. Dan setelah itu bisa dipastikan karirnya hancur berantakan. Tidak ada pemain bola yang mantan narapidana. Apalagi usianya sudah lebih dari seperempat abad. Kalau dia dihukum lima tahun, usianya sudah kepala tiga, sudah tidak produktif. Akan dibuang begitu saja. Kamu bisa apa dengan ijazah SMA kamu yang nilainya pas pasan itu? Apalagi kalau menyandang status narapidana? Iya kan?" ujar Elsye kejam pada Dirga dan Airin.
"Kamu bisa saja tak peduli dengan masa depan Dirga dan memilih putus saja karena dia tak punya masa depan. Lalu bagaimana dengan masa depan kamu sendiri Airin? Kamu masih muda, tapi kalau dipenjara, apa kamu pikir orang akan menerima kamu lagi? Dan kamu tau hukuman kamu bisa sangat berat. Korupsi bukan kejahatan ringan. Kalau tidak kami bantu, kamu bisa dipenjara dua belas tahun seperti Falisha, mantan jurnalis yang terlibat kasus suap dengan anggota dewan itu. Kamu mau begitu? Masa depan kamu juga bisa hancur Airin! Pikirkan saja lagi, siapa yang akan rugi pada akhirnya kan?" Elsye tersenyum kecil membuat Airin ingin sekali meninjunya.
"Silahkan pikirkan lagi, waktu kamu hanya tinggal malam ini. Besok pagi kamu harus membuat pernyataan dengan PKK. Dan setiap hal yang kamu ucapkan akan berpengaruh dengan masa depan kamu. Oke? Saya pergi dulu, silahkan kalian diskusikan lagi. Jangan gegabah, ini pilihan terakhir yang kalian punya."
Elsye mematikan rokoknya dan membuang puntungnya ke jendela. Lalu berjalan gontai menuju pintu keluar. Airin menatap punggungnya dengan tatapan ingin membunuh.
Setelah itu Airin menatap Dirga. Ia tak tau harus berbuat apa, hanya bisa diam dengan pandangan kosong. Dirga memeluknya erat.
"Na.. Kita nggak punya pilihan lain.. Hanya ini yang kita punya.. Abang janji, Na.. Abang kan berusaha sebaik mungkin untuk menatap masa depan kita. Abang akan tunggu kamu sampai bebas dan abang akan mempertanggung jawabkan semuanya. Abang akan menebus semua kesalahan abang ini dengan mengabdikan diri jadi semua terbaik untuk kamu nantinya Na..."
Airin menghela nafas dan tak menjawab semua kalimat Dirga. Ia hanya terdiam, dan keputusannya sudah berubah. Ia sudah memilih menjadi pendusta sebagai pilihan terakhirnya...