Airin menginjak pedal gas dalam dalam. Belum pernah ia sekesal, segusar, segelisah, dan selelah ini dalam hidupnya. Memang benar, pepatah yang mengatakan kalau penyesalan selalu datang di akhir. Saat ini Airin benar benar menyesal dan tak tau harus berbuat apa.
Ia teringa pembicaraannya tadi dengan pengacara Pak Nugi. Mereka lagi lagi meminta Airin terlibat sampai akhir. Ia harus menjadi tameng mereka agar hukumannya lebih ringan. Benar benar tak masuk akal!
Tiba tiba Airin berubah pikiran dan langsung menepikan mobilnya, lalu mengambil ponselnya dari tas dan menekan serangkaian angka. Terdengar nada sambung, lalu suara pelan Bu Elsye terdengar.
"Halo? Kenapa Rin?"
"Saya berubah pikiran."
"Apa maksud kamu? Berubah pikiran apa maksud kamu?" suara Bu Elsye terdengar panik.
"Saya menolak semua tawaran pengacara tadi, dan saya tidak akan lagi berurusan dengan anda dan Pak Nugi!"
"Airina sadar kamu! Ini bisa membahayakan kamu sendiri!"
"Justru karena saya baru sadar sekarang, Bu. Makanya saya ambil keputusan ini. Intinya saya tidak mau terlibat apapun lagi!"
"Airina kamu jangan bertindah bodoh! Kamu bisa masuk penjara!"
"Iya, saya tau itu, Bu. Justru karena itu saya berani mengambil keputusan ini."
"Apa maksud kamu?"
"Apapun yang saya lakukan, saya akan tetap masuk penjara kan? Saya jujur, ataupun saya bohong dan membantu kalian, saya tetap akan masuk penjara. Itu sebabnya saya lebih memilih jujur!"
"Airina coba kamu pikirkan baik baik lagi. Kamu masih ingat kan apa yang dibicarakan dengan pengacara tadi? Kalau kamu mau membantu kami, kamu akan kami bantu, kami pastikan kamu akan mendapat hukuman yang sangat ringan."
"Dengan cara apa?"
"Ya itu akan jadi tugas pengacara. Yang jelas saya jamin kamu tidak akan dipenjara dalam waktu yang lama! Akan kami urus semuanya."
"Dengan cara apa? Suap kan? Kalian mau menyuap aparat penegak hukum agar saya tidak dihukum sesuai perbuatan kan? Saya dan Pak Nugi akan ditahan dengan hukuman ringan, sementara anda bebas begitu saja padahal anda yang paling bersalah dalam hal ini kan? Anda pikir saya sudi?"
"Airin! Kamu harus bicara lagi dengan pengacara! Kamu jangan.."
"Apa kalian tidak mau? Kalian yang mencuri, kalian yang menikmati, dan kalian juga tau itu hak orang lain yang kalian rampas! Sekarang malah mau korupsi lagi? Mau suap lagi supaya bebas? Kalian harusnya malu!"
"Airin.. Kamu tenang du.."
"Saya mau pulang. Jangan ganggu saya lagi! Besok pagi saya akan menyerahkan diri ke kantor PKK dengan membawa semua uang ini dan juga rekaman suara di rooftop. Saya masih menyimpan semuanya. Juga rekaman pembicaraan kita tentang hutang keluarga Dirga. Semua masih saya simpan."
"AIRIN!"
"Apapun yang diputuskan PKK akan saya terima, saya anggap itu hukuman saya karena membantu tikus macam kalian. Yang terpenting, saya sudah jujur dan tak mau lagi berurusan dengan kalian!
Airin memutus sambungan telepon dan melempar ponselnya ke jok belakang mobil. Lalu ia melanjutkan perjalanan dengan perasaan lega.
Sementara dari jok belakang ponselnya terus bergetar. Bu Elsye terus meneleponnya namun tak satu kalipun Airin menanggapinya lagi. Ia sudah bertekad!
***
"Rin.. Airin.. HP kamu bunyi terus.." ibu membangunkan Airin dengan mengguncang bahunya perlahan. Airin menyipitkan matanya, merasa silau karena ibu mengarahkan ponsel Airin tepat di wajahnya, cahaya terang dari layar ponsel mengganggu penglihatannya.
Semalaman Airin menangis. Dan ia sekarang kelelahan lalu tertidur sangat nyenyak. Ia tak sadar suara ponselnya belum dimatikan dan terus menerus berbunyi. Suara itu sampai ke telinga ibu.
"Barangkali penting, angkat dulu. Dari Bu Elsye." ujar ibu.
Airin menatap nanar ke jam dinding di seberang tempat tidurnya. Tepat jam tiga pagi. Dan orang sialan ini masih belum juga menyerah!
Airin ingin sekali menolak panggilan telepon itu dan menonaktifkan ponselnya. Tapi ibu terus memandanginya dengan sorot mata penuh rasa ingin tau. Airin tak mungkin menolak panggilan telepon dari bosnya ini. Bisa bisa ibu curiga.
"Halo?"
"Airin, jangan dimatikan ini penting!"
"Sebentar.." Airin menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap ke arah ibu sambil berbisik, "Ibu.. Ibu tidur aja lagi. Biar Rin terima telepon dulu" ujar Airin yang langsung diiyakan ibu. Tak lama setelah Ibu berlalu dan menutup pintu kamarnya, Airin kembali mendekatkan ponsel itu ke telinga kanannya.
"Ada apa lagi?"
"Ada yang mau bicara sama kamu. Jangan tutup teleponnya!"
"Siapa lagi sih?" bisik Airin. Ingin sekali ia membentak tapi khawatir ibu mendengar dan curiga.
"Halo.. Na..?"
"Abang?"
Jantung Airin berdegup kencang. Dua hari dia kebingungan bagaimana cara berkomunikasi dengan Dirga, sekarang perempuan penyihir ini tiba tiba menghubungkannya dengan Dirga.
"Kenapa abang bisa sama dia? Gimana kabar abang? Abang nggak apa apa? Gimana kelanjutan kasusnya?" tanya Airin bertubi tubi dan satu tarikan nafas.
"Abang baik baik aja, Na.. Abang minta maaf.. Kasusnya semakin rumit. Yang satu masih di ICU, ada goresan botol mengiris lehernya. Dan tengkoraknya retak. Yang satu lagi sudah lebih baik tapi masih dirawat. Dua tulang rusuknya patah dan rahangnya juga bergeser." jelas Dirga membuat Airin mengerang dan menghela nafas.
"Terus gimana? Dan kenapa perempuan itu ada sama abang?"
"Bu Elsye di sini sama petugas dan membawa pengacara untuk Abang. Katanya Abang bisa berdamai Na.. Ada kemungkinan abang bisa bebas.."
"Sudah. Nggak usah dilanjutkan. Aku udah tau kemana arah pembicaraan abang. Mana dia? Aku mau ngomong sama dia!" bentar Airin. Kali ini Airin terpaksa menelepon sambil masuk ke dalam lemari dan menutup pintunya. Ia tak mau ibu mendengar suaranya kalau nanti ia bicara terlalu keras.
"Halo?"
"Kalian ini memang ibliss! Aku menolak, dan kalian sekarang memanfaatkan Dirga?"
"Loh? Ini bukan memanfaatkan, Airin. Ini namanya kerja sama. Kamu hanya perlu membantu kami dan kami akan membantu Dirga. Ini kan sebuah hubungan yang baik? Kita saling membutuhkan. Jadi apa salahnya saling membantu?" jawab Bu Elsye tenang.
"Jangan mimpi saya akan membantu kalian! Saya akan tetap pada keputusan saya. Kita semua harus dihukum sesuai perbuatan. Kamu dan selingkuhanmu itu dihukum karena korupsi, aku karena berbohong dan menutupi kejahatan kalian, dan Dirga karena sudah menganiaya orang lain. Kita memang harus dihukum karena kejahatan masing masing!"
"Na.. Tolong abang Na abang mohon.."
Bu Elsye dengan curangnya langsung menyerahkan ponsel pada Dirga. Airin ingin sekali meraung marah tapi setengah mati ditahannya.
"Abang.. aku nggak bisa..."
"Na.. abang mohon. Karir abang bisa hancur Na.. Abang nggak punya masa depan."
"Itulah resikonya kalau Abang bertindak tanpa berpikir.."
"Na tolong abang sekali lagi Na.. Abang janji akan menebus semuanya setelah nanti kita menikah. Tolong pikirkan posisi abang Na. Abang anak sulung, abang bahkan cuma lulusan SMA dengan nilai pas pasan. Abang nggak punya keahlian lain selain sepakbola. Tabungan abang habis, abang tulang punggung keluarga. Kalau abang masuk penjara, gimana masa depan abang, Na? Tolong abang Na..."
"Abang.. Maaf, aku..."
"Na.. abang mohon banget Na.. Mereka janji akan membuat abang berdamai dengan korban, mereka yang akan mengurus ganti ruginya. Mereka juga akan membuat tuntutan dicabut dan abang nggak jadi ditahan. Abang juga dipastikan akan tetap di klub dan skorsing abang segera dicabut. Tolong abang Na.. Tolong.. Abang janji abang akan tebus semuanya dengan mengabdikan diri sama kamu.. Tolong abang Naaa..."
Airin tak mampu bicara apapun. Ia bahkan tak mampu berpikir.
Mungkin ini yang disebut orang bagaikan buah simalakama. Ia dihadapkan pada dua pilihan yang sama sulitnya, sama menjebak, sama sama tak enak, dan sama sama akan membuatnya menderita.
Airin saat ini hanya mampu terduduk lemas dan tak tau harus berbuat apa..