Bab 45. OPERASI TANGKAP TANGAN

1023 Kata
"BERITA BESAR!!" "Tim sudah siap?" "Sudah, Pak. Sudah di sana." "Bagus." Suasana kantor riuh sekali. Airin terduduk lemas di kursinya. Untung saat ini jam kerjanya sudah berakhir, dan ia bersiap pulang. "Berita apa, mbak?" tanya Airin pada Farah, salah seorang reporter senior. Airin mendengar jawaban Farah dengan harap harap cemas. Jangan jangan mereka masih meliput tentang perkelahian Dirga semalam? "Operasi tangkap tangan PKK, Rin." "Hah? Kapan? Dimana?" "Katanya sih di hotel mewah di Kemang. Ini baru dapet beritanya lima menit yang lalu, makanya pada heboh ke sana. Untung jam kerja kita udah kelar, kalau nggak bakalan lembur sampe pagi. Mana rame banget pasti." jawab Farah sambil mengancingkan jaketnya dan meletakkan name tag nya di laci. Ia sudah bersiap untuk pulang. "Emangnya siapa mbak?" tanya Airin lagi. Perasaannya sedikit tak enak. Apalagi Bu Elsye tak tampak batang hidungnya sejak pagi. Jangan jangan... "Masih belum tau. Katanya anggota dewan, sama wakil gubernur atau wakil walikota. Paling ntar lagi ketauan." jawab Farah lagi. Airin bernafas lega. Untung bukan si tikus. "Kamu nggak pulang, Rin?" "Bentar lagi, mbak. Beres beres dulu." "Oke, aku duluan ya.." "Oke mbak, hati hati.." Farah melambaikan tangannya dan bergerak menuju pintu keluar. Tinggal Airin sendirian di ruangan itu. Hari ini Airin benar benar tak bisa fokus sama sekali. Pikirannya hanya tertuju pada Dirga. Terakhir kali Airin mendengar kabar tentang Dirga dari mas Egi karena ponsel Dirga sendiri tidak bisa dihubungi. Sedangkan teman temannya Airin sama sekali tidak kenal. Kalaupun ada yang kenal, Airin tidak mungkin menghubungi mereka dan menanyakan kabar tentang Dirga. Sampai detik ini hubungan mereka berdua masih dirahasiakan dari orang tua Airin, pihak FirstTV, dan juga teman teman serta lingkungan sepak bola Dirga. Airin mencoba menghubungi mas Egi lagi. Tapi ponselnya tidak diangkat. Mungkin Mas Egi dijalan, atau liputan yang lain, atau mungkin masih meliput berita tentang Dirga sampai detik ini, tapi karena sangat sibuk tidak bisa mengangkat telepon. Airin menghela nafas frustrasi. Kemana dia harus mencari informasi? Tiba tiba ponsel Airin berdering. Ia langsung meraihnya, berharap itu dari mas Egi, atau siapa saja yang mengabarkan tentang kondisi Dirga. Tapi nama yang tertera di layar membuat Airin mendengus kesal. Elsye Dianita. Kenapa lagi dia? "Halo?" "Kamu dimana?" "Masih di kantor. Ada apa?" "Ke sini sekarang." suara parau dengan nada memerintah itu membuat Airin jengah. "Mau ngapain? Saya capek, mau pulang. Ini sudah selesai jam kerja." "Kamu harus ke sini sekarang juga! Mas Nugi tertangkap tangan PKK!" "APA?" Bersamaan dengan itu, pintu ruang kerja Airin terbuka lebar. Farah, kembali lagi ke ruangan dan langsung melangkah cepat ke arah mejanya. "Yang ketangkep PKK ketua OSN, Rin. Bukan gubernur atau walikota. Katanya lagi transaksi milyaran di hotel dengan anggota dewan. Terkait masalah naturalisasi pemain, gaji pemain dan official, sama suap karena pengaturan skor. Gila ya, sepakbola doang bisa bikin orang korupsi milyaran!" ujar Farah yang membuat darah Airin seolah membeku. "OS.. OSN mbak?" "Iya, Organisasi Sepakbola Nasional. Ketuanya yang kena. Kamu dulu sering wawancara dia kan pas masih di sport? Namanya Nugroho Suripto atau siapa gitu.." jelas Farah sambil mencoba mengingat. "Nugroho Sucipto?" "Ah iya dia! Ah sialan, baru aja aku mau pulang, ditelepon lagi sama Mas Pram. Aku yang jadi harus liputan ke sana karena kurang orang. Mendingan kamu buruan pulang, Rin, terus matiin HP. Ntar bisa bisa kamu ikutan di suruh lembur loh." saran Farah diiyakan asal asalan oleh Airin. "Mbak aku duluan ya." Airin bergegas menyambar tas dan kunci mobilnya. Farah yang mengira Airin buru buru kabur karena takut disuruh liputan cuma bisa tertawa sambil melambaikan tangan. Airin setengah berlari menuju parkiran sambil menelepon Bu Elsye. Tadi ia langsung memutuskan panggilan telepon begitu Farah masuk ke ruangan. Dan sekarang Airin menghubungi Bu Elsye kembali. "Halo? Ibu dimana?" "Apartemen. Cepat kamu kesini!" Airin tak bertanya lagi. Ia langsung menekan pedal gas dalam dalam, berharap secepat mungkin tiba di apartemen dan mendapat titik terang untuk semua masalahnya. Saat di lampu merah, Airin memeriksa lagi sebuah tas yang ia letakkan di bawah pijakan kaki di sebelah kursi pengemudi. Tampak beberapa amplop tebal masih utuh di sana. Isinya adalah bundel uang pecahan seratus ribu. Beberapa hari yang lalu Airin semua uang yang pernah diberikan Pak Nugi setiap bulan ke rekeningnya. Jumlahnya mencapai ratusan juta dan Airin tak pernah menyentuhnya. Ia ingin mengembalikan ini dan membebaskan diri dari tikus tikus itu. Ia lelah dan tak ingin terlibat apapun lagi. Semoga aku masih bisa mengembalikan ini semua dan hidup tenang lagi.. Semoga Tuhan tidak menghukumku.. *** "Siapa?" tanya Airin saat Bu Elsye memberikan ponselnya pada Airin karena seseorang ingin berbicara padanya melalui sambungan telepon. "Pengacara Mas Nugi." "Saya sudah bilang kan kalau saya nggak mau terlibat! Saya datang ke sini bukan mau nego ataupun mendengar semua ucapan kalian lagi. Saya tidak mau lagi jadi bagian dari rencana busuk kalian!" tolak Airin. "Kamu jangan keras kepala! Dengar dulu semua penjelasan pengacara mas Nugi!" bentak Bu Elsye panik. "Nggak! Saya nggak mau! Saya ke sini cuma berniat mengembalikan semua uang yang pernah kalian kirimkan! Ini! Masih utuh! Tidak saya ambil sepeserpun!" sergah Airin. "Kamu tetap tidak bisa lepas dari jerat hukum meski uang itu kamu kembalikan! Semua yang nama dan nomor rekeningnya pernah terkait dengan Mas Nugi akan di usut oleh PKK!" "Loh! Itu perbuatan kalian! Bukan perbuatan saya! Saya akan mengaku pada PKK bahwa saya memang menerima uang karena terpaksa. Setelah itu terserah bagaimana mereka menilai posisi saya. Toh uangnya saya kembalikan!" "Kamu jangan naif, Airina! Kamu pikir mereka percaya begitu saja dengan semua penjelasan kamu? Satu kali kamu terlibat, kamu akan di cap kaki tangan Mas Nugi! Lagipula, gimana dengan uang yang kamu kasih ke pacar kamu itu? Itu juga bukti keterlibatan kamu!" ujar Bu Elsye tak sabar. "Aku nggak terlibat! Kalian yang memaksa!" Airin bersikeras. "Jangan keras kepala! Atau posisi kamu akan lebih sulit! Makanya kamu diem dulu! Kamu dengerin dulu apa kata pengacara Mas Nugi! Jangan buru buru ambil keputusan atau semua keputusan bodoh kamu itu akan jadi boomerang untuk diri kamu sendiri!" bentak Bu Elsye lagi. Airin mematung. Ia menatap Bu Elsye dengan tatapan penuh kebencian. Tapi tak urung, ia menerima ponsel dari tangan Bu Elsye dan mulai berbicara. Saat itulah Airin tau, masa depannya akan hancur setelah ini..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN